Thursday, July 19, 2012

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] Break Out the Horror 12


FF Title    :         Story
Chapter     :         12/20
Genre        :         Brotherly Friendship, Comedy, Action, Drama
Pairing     :         HoSu, YunJae, JaeSu, YooSu, MinSu (Straight)
Author      :         ha_neul  (at asianfanfics.com)
Indo.Trans.:       Aya Biruna
Desclaimer       :        
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it too.
WARNING!         
Horror, Bloods, Supernatural.
Characters        :      
Xiah Junsu, Yunho, Jaejoong, Changmin and Yoochun.


Summary  :
Segalanya berjalan seperti kehidupan normal bagi DBSK. Tapi tidak demikian lagi sampai mereka pindah ke puri mereka yang baru, jauh dari pusat kota. Hal-hal yang aneh dan berbahaya pun terjadi, yang membahayakan hidup mereka.

Yoochun meminggirkan setiap orang yang menghalangi jalannya. Lalu dia melihat Junsu di pangkuan seorang perawat dengan kepala berlumuran darah. Yoochun segera meraih Junsu ke dalam dekapannya d dan menepuk-nepuk pipi Junsu. Perlahan Junsu membuka matanya dan memandanginya penuh rasa sakit.
"Jangan bicara dulu... Kepalamu sakitkan?" tanya Yoochun. Junsu mengangguk sekali dan merintih.
"Kita harus membawanya ke UGD..."  kata perawat itu pada Yoochun susah payah. Yoochun menatap Junsu dan mengangguk. Dengan hati-hati, dia mengangkat Junsu dan membawanya ke UGD. Dia tidak bisa menunggu di luar, dan memohon untuk tetap mendampingi Junsu di dalam ruangan itu. Dokternya tak punya pilihan lain selain membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan.
Junsu masih sadar saat dokter dan perawat itu memeriksanya, terutama luka-lukanya. Selama proses itu, Junsu hanya tetap memandangi  Yoochun dengan wajah sendunya. Yoochun duduk di samping ranjangnya dan tersenyum padanya
"Beruntung sekali, tak mengalami cedera yang serius. Dia bisa kembali ke kamarnya sekarang," kata dokter padanya. Yoochun berterima kasih dan mengangguk pada dokter itu sebelum pergi.
“Yoochun-shi..." Junsu memanggilnya. Yoochun agak kaget saat dia dipanggil seperti itu oleh dongsaengnya sendiri. Dia tersenyum getir dan menoleh padanya.
"Mm??" Yoochun duduk lagi dan membelai kepala Junsu.
"Mengapa kau begitu perhatian padaku? Kalian semua?" tanya Junsu lemah. Dia butuh sebuah jawaban.
"Karena kami memang selalu perhatian padamu. Kau mungkin tak menyadarinya, tapi bagi kami, kamu adalah orang yang paling berharga dan kami akan melakukan apapun demi melindungimu. Bahkan Yunho dan Jaejoong hyeong terlalu melindungimu, taukah itu?" ucap Yoochun sambil tersenyum. Alis Junsu naik dan dia menggigit bibir bawahnya.
"Sungguh?"
"Yeah, sungguh. Pastinya kami tak akan pernah mengungkapkan hal itu karena kami malu mengatakannya. Tapi kami hanya menunjukkannya dengan perbuatan kami. Kamu adalah orang yang paling ceroboh di antara Jaejoong dan Yunho hyeong. Sering banget kamu tersandung atau hampir jatuh, walaupun tempat itu aman atau kosong sekalipun. Terkadang aku mikir, apakah kamu punya penyakit tulang? Bahkan Changmin bertanya mengapa kamu berjalan seperti anak kecil..." Yoochun berkata dengan senang, dengan tangan yang terus membelai kepala Junsu. Dia sebenarnya tak suka melihat Junsu terbaring lemah di atas ranjang, dengan sejumlah luka atau selang dan kabel yang menempel di tubuhnya. Junsu tersenyum mendengar ceritanya.
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Aku tak akan pernah berbohong pada Junsuku... kita sudah sangat dekat satu sama lain, lebih dari saudara sekalipun. Kami sangat perduli padamu dan kami tak suka melihatmu sakit. Setiap kali kau sakit, merupakan pemandangan yang paling menyakitkan bagi kami. Bahkan si bungsu Changmin akan tetap berada di sampingmu daripada melakukan urusannya. Pernah suatu saat, kau terserang demam yang sangat tinggi. Suhu tubuhmu terlalu tinggi dan ditinggal sendirian di rumah. Yunho hyeong mendapat firasat buruk akan hal itu dan dia bahkan bertengkar dengan hyeong manajer hanya untuk kembali padamu. Pada saat itu sedang turun hujan,dan lalu lintas begitu sulit. Kata Yunho hyeong kau bahkan tak bisa membuka matamu dan kesulitan bernafas. Kau tahu leader kita paling kuat kan? Dia menggendongmu sepanjang malam itu ke rumah sakit. Kami hanya bisa menjengukmu keesokan harinya, setelah bekerja. Yunho hyeong menangisimu, dan saat itulah pertama kalinya aku melihat betapa ketakutannya dia..." lanjut Yoochun. Dia menatap Junsu kembali dan menemukan air mata anak yang lebih muda itu meluncur di pipinya.
"Aku pasti sangat beruntung, ya?" bisik Junsu. Yoochun mendekat dan menemplkan pipinya dengan pipi Junsu, sambil memeluknya.
"Aku harus bilang bahwa, kaulah orang yang paling beruntung di muka bumi ini,"  ucap Yoochun, menghapus lembut air mata Junsu Junsu cekikikan and dan menarik nafas.
"Bagaimana dengan Changmin-shi?"
"Pertama-tama, Junsu-ah. Jangan panggil kami dengan embel-embel shi. Kita tidak biasa begitu. Oke? Panggil saja hyeong..."
"Baiklah, Yoochun hyeong..."
"Kau jangan panggil aku Yoochun hyeong. You panggil aku Yoochun atau Chunnie, karena bagiku kau adalah bocah besar yang manja," Yoochun tersenyum dan mencubit hidung Junsu lembut. Junsu menggigit bibirnya dan mengangguk.
"Yoochun."
"Nah begitu. Jadi, apa yang ingin kau tahu tentang si bungsu?"
"Bagaimana dia? Maksudku, bagaimana hubungan kami?"
"Hmm... Bagaimanapun tingkahnya, Changmin hanyalah anak-anak juga. Kau menyayanginya karena kau tidak punya adik. Kau adalah anak yang paling muda di keluargamu, di antara kami. Baiklah, sebenarnya  di keluarga angkat Jaejoong hyeong, dialah bungsunya, tapi dia punya seorang adik kandung perempuan. Aku, Yunho hyeong dan Changmin adalah anak bontot di antara saudara kami. Changmin dan kau, kalian berdua adalah teman akrab, tapi Changmin sering mengejek dan menggodamu. Kalian berdua lucu sekali. Bagaimanapun, dia tetap menghormatimu. Dia bahkan meneladanimu karena ia pikir kau adalah idolanya. Dia tak akan pernah mengatakan padamu tentang itu, karena dia pikir tingkahmu itu aneh.. dan...." Yoochun menunduk, mendapati Junsu sudah tertidur.
Dia tersenyum dan dengan hati-hati memangku Junsu ke kamar perawatannya. Dia sungguh tak akan meninggalkan Junsu seorang diri lagi sejak saat itu.
*****
Next chapter: Kill

No comments: