Thursday, April 21, 2011

[Fanfic TVXQ: Jaejoong] The Most Beautiful Present 01

FF Title    :         The Most Beautiful Present
Chapter     :         01/?? (belum yakin, kumaha mood)
Genre        :         Romance, Comedy??
Rating       :         ???(Tentuin Sendiri)
Author      :         아야 비루나샤 (Aya BirunaXiah)
Desclaimer:       
Unfortunately, the TVXQ members is not mine. I just imagined (Cuma berkhayal… he..he…)
WARNING!              
Bahasa acak-acakan. Awas cemburu!
Characters:       
Kim Jaejoong, fictional girl (???), dkk.

Summary  :
Seorang gadis (???) malang yang tidak mendapatkan hadiah ulang tahun yang diharapkanya untuk… akhirnya diizinkan untuk berlibur ke suatu tempat, walaupun tetap bukan tempat yang diidamkannya…

Fanfict  ini hadiah ulang tahun buat Sri Ayu, hope U like it… *wink*
(Than I have to translated the xXx  FF, Eu kyang… kyang… xP) 
Tapi Chingudeul yang lain juga boleh baca kok, hiburan… kita ‘tonton’ kekonyolan seorang Sribeautifulcherriblossom yunjaeshipper …(maap lupa, kapanjangan  sih!) he.. he… *disambit Ayu pake bakiak*

[…]
Oh, my beloved mjjeje… I’m sorry that I can’t visit your beautiful country to see you, my dear namphyeon. What?? My namphyeon?? He..he… boleh dong aku ngayal, kan gak ada undang – undang yang melarang kita berkhayal. Palingan juga temen-temen Shipper pada mencibir. Tapi perduli amat… ini otak, otak gua yang dipake xP

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 30[end]


Chapter    :   30/End
Title         :   Return
Genre        :   Brotherly Friendship, Angst
Author    :   ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer     
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it too.
WARNING!            
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters      
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.
Summary
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

 
[Junsu]
Kudongakkan kepala saat dokter masuk ke kamarku dengan senyuman lebar.
"Kabar bagus. Kita punya sebuah jantung untukmu. Kita akan laksanakan operasinya sekarang..."
"Sungguh? Tapi... di mana mereka?"
"Kenapa kita tidak laksanakan operasinya saja dulu?"
"Tidak! Di mana mereka?"
"Hyeong..." kulihat Changmin masuk dan dia memelukku. Aku memandangnya dan kemudian melihat ke belakangnya.
"Min, di mana para hyeong?"
"Junsu hyeong, mereka dalam perjalanan ke sini... Jalani saja operasinya dulu... Mereka akan ada di sini saat kau selesai. Oke?" dia mengangkat alisnya untuk meyakinkanku.
"Mereka akan segera ke sini segera, kan?"
"Ya... orang tuamu ada di luar sekarang. Percayalah hyeong. Kau akan baik-baik saja..."
"Baiklah..."

[Yoochun]
Kami menggenggam tangan Yunho hyeong dengan erat. Jaejoong hyeong adalah satu-satunya  yang ada di atas jembatan. Aku sedang bergelantungan di sini, berpegangan pada Yunho hyeong sementara Jae hyeong memegang kakiku.
"Hyeong! Buka matamu! Buka matamu!"
"Kalian... berat... sekaliiii...!" aku masih medengar Jaejoong hyeong mengeluh di atas sana.
"Hyeong! Tarik ke atas!"
"Gampang aja kau ngomong! Kalian berdua berat tauk?!!!"
Aku menghela nafas dan kembali melihat Yunho hyeong. Kepalanya berdarah. Saat dia terjatuh dengan si setan itu, aku melompat untuk memeganginya, tapi akupun jatuh! Aku terkejut saat kami bergelantung di sana.  Aku baru tahu itu Jae hyeong saat dia menjerit, "Kalian berat!!"
"Yunho hyeong! Sadarlah! Junsu membutuhkan kau sekarang. Pikirkan Junsu! Hyeong!" aku tersenyum saat dia membuka matanya perlahan. Dia melihat ke sekeliling dan terkejut.
"Yoochun!"
"Bagus... kau telah membuatku ketakutan!"
Oke, ini aneh. Kami perlahan ditarik ke atas. Apa Jae hyeong sekuat itu? Kemudian kusadari, ternyata berkat bantuan Junho dan beberapa orang polisi.
"Hyeong..."
"Di mana Junsu? Ayo kita pergi..."
"Tapi... kau berdarah... kau bisa jalan?" tanya Jae hyeong padanya sambil merobek hem kemejanya dan membalutkannya di kepala Yunho hyeong.
"Saya akan bicara pada kalian di sana..." kata salah seorang polisi dan kami tersenyum.
"Junho, bagaimana keadaan Junsu?"
"Mereka baru saja mulai operasinya. Aku datang ke sini secepat mungkin setelah Changmin bilang padaku di mana kalian berada. Dia sedang mendapatkan perawatan dari dokter sekarang. Dia baik-baik saja... dan mengenai Junsu, dia berharap melihat kalian semua di sana."
"Terima kasih..." Yunho hyeong tersenyum lega, dan kulihat air matanya. Dia menangis karena bahagia, kan?
"Ayo kita ke sana..."
 
(Seminggu Kemudian)
Jaejoong masuk ke ruangan Junsu dengan sekotak makanan di tangannya, sementara Yoochun membantunya membawakan sejumlah sup. Begitu mereka tiba, langkah mereka terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Junsu masih tertidur, dengan Yunho yang berada di sofa di sampingnya. Yunho juga masih tertidur. Pasti Yunho sudah berada di sini sejak malam lalu. Mereka tak melihatnya tadi malam saat mereka sedang rapat dengan perusahaan, untuk memulai kembali proyeknya.
"Aku bersyukur segalanya baik sekarang..." dia tersenyum pada Yoochun.
"Di mana Changmin?"
"Dia melihat seorang perawat manis di sebelah sana, di selasar kemarin. Jadi... aku hanya... menolongnya sedikit..."
"Kau? Apa yang kau ajarkan padanya?!"
"Jangan khawatir. Ga ngerusak kok..." (Kayaknya dia ngajarin magnae jadi playboy, he...he... *lirik Bang Ochun*)
Begitulah, segalanya baik-baik saja sekarang. Dan mereka kembali menjalani rutinitasnya, kembali pada kehidupan mereka.
THE END

Special thanks to ha_neul @asianfanfics who gave me permission to translated and published her fanfics. I love her storiesline.
Makasih juga buat chingudeul and dongsaengdeul yang udah baca, ngasih jempol dan komen2nya… masukan kalian sangat berarti untuk memberikan kami semangat dalam menulis.
Kalau mau baca versi original Englishnya, silahkan ke asianfanfics.com
Sampai jumpa di FF selanjutnya yang tak kalah seru.
Love you all, mmmmmmuahhhhh ^x^

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 29







Chapter    :   29/30
Title         :   Hold
Genre        :   Brotherly Friendship, Angst
Author    :   ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer     
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it too.
WARNING!            
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters      
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.
Summary
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

 
[Changmin]
Kulihat Yunho hyeong melompat untuk mendapatkan kotaknya, dan ditendang oleh Si Boss brengsek terroris menyebalkan itu. Tanpa piker panjang, kucengkram tangannya. Dia berat, karena berada di tepi jembatan dan dia bergelantung di sana dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain memegang kotak itu dengan erat.
“Hyeong!!! Bertahanlah!!”
“Min… ambil… ambillah kotaknya! Bawa pergi!!”
“Tidak! Aku akan menarikmu juga… bertahan!” urghh! Dasar bodoh! Terroris itu menendang punggungku. Aku tak tahu apa yang terjadi tapi aku bisa memastikan bahwa Yoochun hyeong sedang bertarung melawan mereka sekarang. Pada ke mana sih polisi????!!!
“Min, kau baik – baik saja???!!”
“Aku tak apa – apa! Bertahan saja di sana!” aku mengerahkan  segenap tenagaku untuk menariknya ke atas. Bukan pekerjaan yang mudah sementara aku dipukuli pada saat yang sama. Jaejoong berusaha menjadi tameng kami. Kemudian kudengar sirene. Yes! Kami akan baik – baik saja… Aku mengerahkan tenagaku kembali dan menarik hyeongku ke atas.
“Hyeong, kau baik – baik saja??”
“Min, kau yang tercepat di antara kami. Ambillah kotak ini dan cepat pergi ke rumah sakit. Minta dokternya menyiapkan operasi malam ini. Selamatkan Junsu! Aku berharap padamu…” dia menyerahkan kotak itu, sambil terengah – engah sepertiku. Kemudian aku melihat sesuatu… darah.
“Hyeong! Kau berdarah!”
“Min! Pergi saja! Pergilah!”
“Hyeong!” dia mendorongku dengan keras dan bahkan melindungiku. Serangan yang menyebalkan!! Mengapa ini harus terjadi mala mini?! Aku mengangguk dan berlari semampuku. Melihat mobil – mobil polisi, aku tahu mereka akan menyelamatkan para hyeongku. Junsu hyeong, tunggu aku… aku datang…

[Jaejoong]
Changmin berhasil menarik Yunho ke atas. Tapi aku tak tahu ke mana ia berlari. Sejumlah polisi telah tiba, dan yang lebih parah, keadaan jadi semakin kacau disbanding saat kami bertarung. Aku secepatnya menemukan Yoochun dan dia sedang memukuli kepala seseorang, DENGAN KEJAM.
“Aku datang ke sini bukan mau menyerangmu! Aku datang ke sini mau ngambil jantungnya! Bodoh!!” teriaknya di setiap pukulan. Aku takut dia bisa membunuh orang itu, jadi aku menariknya mundur.
“Yoochun! Yoochun! Kita harus menghindar dari sini! Di mana Yunho?!”
“Huh? Huh?” dia celingak – celinguk, dengan ekspresi kekhawatiran yang sama denganku. Sangat sulit melihat Yunho dalam kekacauan ini. Mataku melebar saat kulihat Yunho seeding bertarung dengan seseorang di… apa..?!
“Yunho! Di sana berbahaya!! Yunho!!” aku berteriak sekencangnya. Tapi tampaknya dia tak mendengarku.
“Hyeong! Apa yang akan kita lakukan sekarang??!” aku menoleh pada Yoochun. Aku juga tak tahu Chun…
“Yunho! Kembali ke sini! Turun ke sini! Yunho!” mereka bertarung seperti kesetanan! Mengingatkan aku akan adegan – adegan film action. Tapi ini nyata! Gimana jika Yunho jatuh???
***
Junsu duduk di ranjangnya, perlahan melepaskan masker oksigennya. Dia minta Junho untuk memberinya makanan, walaupun dia sama sekali tak lapar. Dia telah mendengar apa yang sedang diperbincangkan oleh para perawat sekarang. Para hyeongnya sedang mengambil kembali sebuah jantung untuknya, dia merasa bersalah dan juga khawatir. Dia mengepalkan selimutnya dengan erat, merasa tak nyaman.
“Hyeong… kumohon kembalilah… aku menunggu…” bisiknya pada diri sendiri. Dia menghela nafas dan menggigit bibirnya.
“Ini semua salahku. Aku seharusnya mengakhiri saja pertunjukan itu… Aku seharusnya membatalkannya saja lebih awal… Jika aku…”
“Ini bukan salahmu… Ini takdir… jangan salahkan dirimu…”
Dia mendongakkan kepala, melihat kakaknya berdiri di depannya. Dia menunduk kembali dan tetap membisu. Junho berlutut di depannya dan tersenyum padanya.
“Ini untukmu…” dia memberikannya sebuah surat. Junsu ragu – ragu tapi akhirnya ia mengambilnya juga.
“Aku menunggu di luar, jika kau membutuhkan aku, katakan saja, oke?” dia mengecup kening adiknya sebelum keluar.
Junsu membuka surat itu perlahan…

Junsu-ah, adik kecilku Junsu
Tak banyak yang ingin hyeong katakana padamu. Tapi ingatlah saat kau bilang pada hyeong, untuk tidak menyerah? Hyeong sangat sedih dan bahkan menyalahkan diriku sendiri atas apa yang telah terjadi. Hyeong tak ingin sakit karena hyeong ingin menari, ingin bernyanyi, ingin tampil. Kita baru saja kembali bersama, tapi banyak hal yang telah terjadi seolah kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Hyeong pernah sekali berfikir begitu. Haruskah Dong Bang Shin Ki hadir dari awalnya? Atau haruskah hyeong bergabung dengan kalian bertiga dalam tuntutan hukum itu? Atau haruskah hyeong berhenti saja dari ini semua? Hyeong tak tahu, Junsu… hyeong tak tahu.
Tapi apa yang hyeong tahu adalah… hyeong menyayangi kamu. Kami semua menyayangi kamu. Tolong jangan salahkan dirimu sendiri atas apa yang telah terjadi. Ini semua takdir… kau percaya Tuhan, kan? Tuhan akan menolong kita, menolongmu. Dan hyeong berjanji, hyeong akan menyelamatkan kamu, walau apapun yang akan dikorbankan. Jangan menyerah karena hyeong. Hyeong merasa sangat sedih jika kamu menyerah karena hyeong. Tetap kuatlah Junsu-ah… karena hanya itulah hyeong bisa tetap kuat juga…
Hyeong menyayangimu,
Yunho

Junsu mengusap air matanya dan menggigit bibirnya. Dia menaruh surat itu di dadanya dan menarik nafas dalam.
“Hyeong sudah tahu… Hyeong, tolong kembalilah dengan selamat…”
***
Yunho berjuang melepaskan diri dari lelaki itu, tapi di saat bersamaan juga tak ingin melepaskan lelaki itu.
“Brengsek!”
“Kau tak kan kabur ke manapun! Aku tak akan mati sendirian!”
“Huh?” kerahnya dicengkram erat, dan dengan kekuatan yang hebat dari Sang Boss yang badannya lebih kuat dan lebih besar, mereka berdua melompat dari jembatan itu.
“Yunhoooooooo!!!”

Wednesday, April 20, 2011

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 28


Chapter    :   28/30
Title         :   Attack
Genre        :   Brotherly Friendship, Angst
Author    :   ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer     
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it too.
WARNING!            
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters      
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.
Summary
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*


a/n: putar lagu Mission – JYJ TVXQ, biar kerasa seru dan ketegangan actionnya J

Changmin dan Yunho tiba di jembatan itu, di mana serangan terroris terjadi. Mereka bersembunyi di atara semak dan mengawasi dengan hati-hati keadaan sekitarnya. Mata Yunho melebar saat dia melihat sebuah kotak putih di bawah mobil terroris. Pasti itu tersembunyi dan tak terlihat oleh mereka. Tapi ia tak yakin kalau kotak itu milik Junsu.
"Tolonglah! Lepaskan aku! Aku perlu membawa jantungnya kembali ke rumah sakit...seseorang membutuhkannya..." pria yang mejadi sandera memohon. Dia gemetaran dan bahkan berdarah.
"Apakah dia keluargamu?" seorang pria, yang sepertinya pemimpinnya bertanya dan menyeringai. Changmin mengepalkan tinjunya saat ia merasa sebal dengan pria itu.
"Bukan... ini untuk Xiah Junsu... bintang Korea..."
"Aku tak perduli apa dia bintang Korea atau bukan! Kau! Orang sepertimu di sini membuat orang-orangku menderita! Dan sekarang, kau akan merasakan hal yang sama..."
"Ketua, tak ada kotak jantung seperti yang dia bilang..." salah satu anak buahnya mengumumkan. Sekarang Yunho merasa lega bahwa kotak yang dilihatnya adalah punya Junsu. Tapi bagaimana dia mengambilnya? Sangat berbahaya melompat ke sana terang-terangan. Suara letusan senjata mengejutkan mereka berdua. Mata mereka melotot saat mereka menyaksikan sanderanya tersungkur tak bernyawa di atas lantai.
"Aku benci.... pembohong,"
Changmin menoleh pada Yunho dan berfikir. Bagaimana bisa mereka mengambil kotak itu tanpa ketahuan? Sangat berbahaya di sana. Tentu saja, mereka bisa bertarung. Masing-masing punya keahlian bela diri, baiklah, kecuali Junsu karena dia lupa segala sesuatu yang dia pelajari.
"Hyeong, apa yang bisa kita lakukan?"
"Maksudmu, KITA..." mereka menghela nafas dan cepat menoleh mendapati Jaejoong dan Yoochun. Jaejoong menyeringai dan tampak sangat marah, semetara Yoochun tampak gugup dan terengah-engah. Mereka pasti baru saja berlari.
"Bagaimana kalian tahu kami ada di sini?"
"Yunho sedang menanyakan hal bodoh sekarang. Haruskah kujawab dengan jawaban bodoh pula? Kalian berdua... aku akan membunuh kalian... Ya Tuhan, hidupku sudah berkurang 10 tahun..."
"Jae, tak aman berada di sini. Pergilah..."
"Tak aman. Bagaimana dengan kalian? Seharusnya aku yang bilang begitu. Yun, tak aman berada di sini. Pergi!"
"Hey, ini buka saatnya berselisih. Tolonglah... kita perlu mendapatkan kembali jantung itu untuk Junsu..." keluh Changmin sementara Yoochun mengangguk. Jae mendengus dan menarik nafas dalam.
"Ayo kita ambil empat orang mereka..." saran Yunho.
"Kenapa?" tanya Yoochun, mengerutkan dahi.
"Kita akan menyamar. Tak ada jalan lain kita bisa pergi ke sana seperti ini. Tapi hati-hati..."
"Dari mana kau dapat ide macam itu?" tanya Jaejoong. Yunho hanya tersenyum kecut.
"Ini ide Junsu. Ia bilang padaku saat kami main game bersama. Jadi, ayo!" dengan begitu, mereka berpencar dan menghajar empat orang mereka diam-diam. Mereka menyembunyikanya di suatu tempat, dan datang dengan pakaian yang dipakai oleh para terroris itu. Mereka mengangguk satu sama lain. Begitu Yunho hampir mengambil kotak dari kolong mobil itu, boss terrorisnya sedang mengarah ke tujuan yang sama. Changmin melihatnya dan berpura-pura teriak. Boss itu berhenti dan menoleh padanya.
"Ada apa?" salah satu terroris bertanya pada Changmin.
"Err... sakit perut..."
"Husss...diam..."
Yunho secepatnya mengambil kotak itu dan hendak lari. Dia berhenti saat sang Boss memanggilnya.
"Tunggu..." perlahan sang Boss berjalan padanya dan menariknya. Yunho menarik nafas dalam dan menyembunyikan kotak itu di belakangnya. Jaejoong, Changmin dan Yoochun melihatnya dengan gugup.
"Kau bukan anak buahku. Siapa kau?" tanya sang Boss, kejam tapi kalem. Yunho tahu dia tak bisa bilang apa – apa. Dia mengepalkan tinju dan melayangkannya ke muka sang Boss. Dia akan lari, tapi Boss itu mencengkramnya hingga jatuh. Kotaknya jatuh ke tempat yang agak jauh dan Yunho berusaha meraihnya. Tapi Boss terroris itu menariknya. Yoochun menyaksikan itu dan melompat ke sana, secepatnya mengambil kotak itu. Sama nasibnya dengan Yunho, dia dicengkeram oleh beberapa terroris. Jaejoong dan Changmin datang menolong.
“Arrrrhhhhhh!!!” Yunho merasa kemarahannya memuncak sampai di ubun – ubun dan bertarung dengan segenap jiwanya. Pertarungan dengan Boss itu sangat tak seimbang karena dia terlalu kuat. Changmin datang menolong saat dia lihat Yunho terbaring di lantai, mengaduh kesakitan. Si Boss hampir saja meloncat pada Yunho, tapi dia ditendang Changmin.
“Hyung! Kau baik – baik saja?”
“Min, pergilah! Pergilah! Bawa jantung itu pada Junsu! Cepat!”
“Tapi kau…”
“Pergilah!!! Kubilang pergi!!”
Changmin terengah – engah dan terkejut mendengar jeritan Yunho. Dia mengangguk dan berlari. Dia ditendang dari belakang dan tersungkur di lantai. Matanya melotot saat kotaknya berada di tepi jembatan. Dalam hitungan menit bisa jatuh ke air sungai. Dia ingin mengambilnya, tapi ditarik dari belakang oleh Sang Boss. Yunho datang membantu.
“Sialan!!” Jaejoong melihat kejadian itu dan tak dapat bergerak dari tempatnya karena sedang dicengkeram oleh terroris. Dia mengerahkan segenap tenaganya untuk melepaskan diri, Yoochun datang membantu walaupun dia pun sedang bertarung.
“Chun! Kotaknya! Ambillah!” teriak Jaejoong pada Yoochun.
Yoochun mengangguk tapi begitu ia melangkah, punggungnya dihantam oleh benda yang keras. Dia tersungkur ke lantai dan matanya melotot saat dia melihat sebuah pisau hampir menikamnya. Untunglah, Jaejoong menggunakan kakinya dan menendang orang itu.
“Kau tak apa – apa?”
“Yeah…”
“Hyeong! Kotaknya!” Changmin berteriak dan mereka semua menoleh ke arah yang sama. Mereka semua jauh dari kotak itu. Mereka menyeret dirinya untuk mendapatkan kotak itu, walaupun ditendang dan dihajar oleh para terroris.
Seseorang menjerit dan menggunakan tenaganya walaupun dia tertikam punggungnya. Dia mendapatkan kotak itu, tapi didorong oleh Sang Boss. Jaejoong menghela nafas dan matanya membulat lebar saat orang itu jatuh dari jembatan.
“Tidaaaaaaaaaaaaaak!!!!”
***
Junsu membuka matanya tiba – tiba dan begitu terengah – engah. Keringatnya bercucuran dan tampak terkejut. Junho mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
“Ada apa sayang?”
“Hyeong… Yunho hyeong… aku bermimpi… dia meninggal…” Junsu terengah – engah dan menatap kakaknya dalam ketakutan. Junho menarik nafas dalam dan mengusap – usap punggungnya.
“Tenanglah… tidur lagi… ya?”
“Di mana Yunho hyeong? Jaejoong hyeong? Yoochun? Min? Di mana mereka?”
“Mereka pergi ke suatu tempat… mereka akan segera berada di sini.”
“Hyeong katakana padaku, tolonglah… di mana mereka?”
“Junsu, mereka akan kembali… percaya pada hyeong.”
“Aku takut sesuatu terjadi pada mereka… Aku bermimpi Yunho hyeong jatuh ke air… itu tidak benar kan?”
“Junsu, itu hanya mimpi… Yunho hyeong baik – baik saja…”
“Ya… dia baik – baik saja… Dia sudah janji padaku…” bisik Junsu pada dirinya sendiri dan mengangguk, menerawang entah ke mana.
“Junsu, kembalilah tidur, ya? Shh… tidur… tidurlah…” Junho mengecup kening Junsu. Mungkin akibat kelelahan, Junsu kembali tertidur. Junho menyeka keringat Junsu dan punya firasat buruk tentang itu.
“Apa mereka baik – baik saja?” tanyanya pada diri sendiri. Dia merengut dan memandangi adiknya tersayang.
The original english chapter
Give the appreciation to the Author, ha_neul