Saturday, January 22, 2011

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 16



Chapter               :           16/30
Title                      :           Alone
Genre                   :           Brotherly Friendship, Angst
Author                 :           ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer       
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it too.
WARNING!             
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters       
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.
Summary        
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.
Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

[Jaejoong]

Kupandangi album-album dan piala-piala kami. Sudah lama sekali sejak hari itu. Aku pulang ke rumah secepatnya kemarin. Tapi semuanya terasa berat begitu aku parkirkan mobilku di pantai itu. Aku menangis sepuasnya. Semuanya menyakitkan... membebani... berat...

Hyeong, kita akan selalu menjaga kepercayaan kan? Aku sedang melakukannya sekarang... demi Yunho hyeong... demi kau... demi Yoochun... dan demi Changmin...

Itulah yang diucapkan Junsu sebelum aku melihat Yunho dengan mata kepalaku sendiri. Aku seharusnya bahagia bertemu dia, tapi tidak... dia... dia tampak lemah dan sakit... pucat... rapuh... apakah dia bahkan sudah ke Amerika????

Saat itu juga, aku tahu... dia berbohong. Pada saat itu aku merasa menjadi seorang yang tak berguna. Aku marah pada diriku sendiri, dan menghindar. Meninggalkan mereka begitu saja. Aku mulai berpikir, mana yang lebih buruk? Mengetahui dirimu cuma anak pungut... atau mengetahui bahwa kau takkan dapat melakukan apapun untuk menolong adik-adikmu? Saat ini, aku menyadari bahwa aku sendiri... perasaan yang aneh, dan tak nyaman... menyakitkan...

Berdiri di atas balkon, kupegang erat foto kami bersama... aku menengadah, berharap melihat W...

 

[Yunho]

Kutatap nanar obat-obatanku. Siapa yang kan berharap? Seorang leader gagah dari sebuah boyband sekarang terpuruk... aku tertawa... seperti orang bodoh.

"Yunho? Kau tak apa-apa?" hyeong manajer mengguncangku. Aku menatapnya dan menangis. Dia menatapku dengan khawatir.

"Aku tak mau sakit... kenapa memilih aku? Aku tak ingin mati sekarang..."

"Yunho..."

"Aku ingin memasak bersama Jaejoongie lagi... Aku ingin menulis lagu dengan Yoochunie lagi... Aku ingin bermain bola bersama Junsu lagi... Aku ingin bekerja bersama Changmin lagi... Aku ingin menyaksikan adik perempuanku menikah... Aku ingin melihat orang tuaku di dalam rumah yang besar... Aku ingin bernyanyi dan menari di depan para cassie lagi..." kemudian, aku hanya dapat melihat kegelapan meliputiku. Sendirian... lagi...

 

[Yoochun]

Kutuliskan lirik lagu itu. Saat kunyanyikan, saat itu rasanya, aku menangis dalam mendengarkan laguku sendiri. Aku baru menyadari itulah yang kurasakan beberapa hari itu. Aku bahkan tak tahu apa. Rasanya begitu lebih menyakitkan daripada hari saat orang tuaku bercerai,  hari di saat ayahku tak menginginkan kami... Aku ingin keluargaku.

Aku ingin keluarga ini. Aku tak menginginkan yang lain. Merasa sendiri... aku selalu merasa sendiri... dan setiap saat mereka selalu ada  di sisiku. Tapi kini... sungguh sendiri... hampir membunuhku... Aku berjalan menuju jendela dan menatap langit. Tuhan, jika ada W malam ini, aku percaya... aku percaya kami masih memiliki harapan... Aku sungguh ingin percaya itu...

 

[Changmin]

Aku duduk di bawah pohon itu, dengan kola di tanganku. Bir tak bisa apa-apa... tak bisa menyelesaikan masalah. Kupandangi langit mencari sesuatu. Tapi aku tak menemukannya.

W... telah menghilang... akankah DBSK pergi  juga? Aku yakin suatu hari akan terjadi, tapi tidak begini. Aku selalu berpikir itu hanya akan hilang saat kami suddah cukup tua dan mempunyai cucu. Akankah waktunya tiba?

Kuhapus air mataku dan mereguk beberapa kola lagi. Sendirian. Aku selalu suka melakukan pekerjaanku seorang diri. Tapi kesepian ini begitu menyakitkan. Menakutkan. Melukai. Menengadah kutatap langit, aku berharap... W ada di sana... supaya aku masih dapat memiliki kepercayaan dalam situasi ini.

 

[Junsu]

Aku tak tahu lagi apa yang kurasakan. Aku menyelinap keluar dari rumah sakit, dan kini... aku duduk di sini... di tepi sungai Han. Aku hanya memandangi air yang mengalir bebas. Bisakah DBSK kembali? DBSK yang paling kuhargai. Aku terlahir sebagai penyanyi dalam DBSK, dan akan selalu begitu. DBSK telah menyelamatkanku... dapatkah kini aku selamatkan DBSK?

Udara dingin tidak baik buat orang sepertiku, tapi tak sebanding dengan kesepian. Aku bisa selamat... tapi aku tak punya banyak uang. Uang yang kuhasilkan adalah untuk orangtuaku, dan untuk Yunho hyeong... dia pasti lebih membutuhkan biaya daripada aku untuk pengobatannya.

"Halo?" aku menjawab telepon saat seseorang meneleponku.

"Tuan Kim! Anda ke mana saja??"

"Saya pulang..."

"Apa?! Tapi Tuan Kim, anda kan..."

"Saya bisa jaga diri. Saat ini, DBSK membutuhkan saya... jangan khawatirkan saya..." kututup teleponnya dan menengadah ke langit. Adakah W malam ini??


http://www.asianfanfics.com/story/view/2279/16/i-m-holding-back-the-tears-yunho-dbsk-yunho

Give the appreciation to the Author, ha_neul

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 15


Chapter               :           15/30
Title                      :           There
Genre                   :           Brotherly Friendship, Angst
Author                 :           ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer       
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!             
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters             
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary        
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.
Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

[Yoochun]
Aku sedang membantu Junsu membukakan jendela saat tiba-tiba pintu terbuka. Kami terkejut melihat Jae hyeong masuk bersama Changmin di sisinya.
"Hyeong..."
"Junsu! Apa-apaan ini? Kenapa kau tidak bilang pada kami?" pastinya Jaejoong sedang berusaha mengendalikan perasaannya.
Junsu menatapku dengan tatapan lebar.
"Yoochun tidak mengatakan apapun pada kami. Kami membaca catatan medismu. Sejak kapan Junsu?" Junsu tidak berkata apapun. Dia hanya menunduk menatap lantai. Jae hyeong berlutut di hadapannya, mencoba membaca raut wajahnya.
"Mengapa tidak kau katakan padaku, Junsu? Kenapa kau tidak bilang pada hyeong?" aku sudah mundur saat kudengar ia berbisik. Junsu menatapnya dengan air mata di wajahnya. Dia menggigit bibir bawahnya dan tak mengatakan apapun.
"Kau tak percaya hyeong, kan?"
"Bukan begitu..."
"Lalu kenapa?"
"Karena Yunho hyeong lebih membutuhkan kita daripada aku..."
Changmin membuang muka dan berlalu keluar kamar itu. Aku tak bisa apa-apa, hanya bisa berada di sana, memandangi mereka. Pada saat ini aku merasa diriku orang yang paling tak berguna. Kutatap Junsu dan Jae hyeong yang sedang menangis. Sedangkan Changmin, tak seorangpun yang tahu ke mana ia pergi. Setelah sesaat, Jaejoong hyeong membelai kepala Junsu dan memeluknya.
"Sudahlah tak apa, sekarang aku di sini... hyung di sini..."

[Changmin]
Aku tak tahu lagi apa yang dapat kulakukan. Aku sungguh tak tahu. Aku hanya pergi ke mana kakiku melangkah. Aku mulai membuka kembali kenangan bahagia kami bersama. Sejak hari kami saling bertemu... sampai hari kami terpisah... sampai kami berjumpa kembali... tapi nampaknya perlahan terpisah lagi. Aku sangat merindukan Yunho hyeong. Selama hampir tiga tahun, dia selalu berada di sampingku. Melakukan apapun... memastikan kami bertahan hidup... kami bisa tetap hidup. Hyeong, jika kau dalam posisiku sekarang, apa yang kan kau lakukan? Jika aku berada dalam posisimu, apa juga yang akan kulakukan?
Aku kembali pada dunia nyata saat sejumlah anak-anak berjalan melewatiku, sedang tertawa gembira. Aneh... mereka berlima, seperti kami. Keempat dari mereka hanya mengikuti apa yang satunya katakan. Seperti kami saat Yunho menasehati.
"Hyeong, kau sedang menangis?" aku menunduk dan tersenyum pada mereka. Mereka menatapku, dengan imut.
"Kau ada yang luka?" anak yang paling tembem bertanya. Aku mengangguk dan tersenyum. Dia mendekatiku, dan meniup-niup lenganku.
"Kata ibu, jika kita tiup seperti ini, lukanya tak akan sakit lagi. Masih sakit?" tanyanya.
"Makasih. Hey... katakan padaku, kenapa kalian ada di sini?" tanyaku pada mereka setelah kuusap wajahku.
"Hyeong akan tinggal di sini. Kata ibu, dia sakit," yang satunya lagi menunjuk anak yang paling tinggi.
"Sakit?"
"Yup..."
"Sakitkah?" tanyaku, maksudku bukan anak itu, tapi Yunho hyeong... dan Junsu hyeong. Apakah kalian sakit hyeongdeul? Ada yang bisa kulakukan? Apa yang dapat kulakukan untuk menghalau sakitmu? Hyeongdeul...
"Iya. Tapi adik-adikku ada di sini untukku, jadi tak terasa sakit. Sakitnya akan datang dan pergi, tapi adik-adikku ada di sini. Aku bisa bermain dengan mereka, dan berbagi makanan seperti biasanya..." jawabnya dengan gembira. Adik-adikku ada di sini untukku... di sini... untukku? Apa aku ada di sana... untuk hyeongdeul?
"Kami harus pergi, hyeong! Ibu akan mencari kita... ayo," dia memegang tangan si tembem. Mereka melambai padaku, yang teramat meninggalkan pukulan berat di hatiku.
Seseorang yang familiar... menatap ke arah jendela... punggungnya... rambutnya... tingginya... sosoknya... begitu kukenal....
"Yunho hyeong..." aku tak bisa berpikir apapun lagi dan berlari ke arahnya. Kupeluk ia dari belakang, dan menangis. Aku tak tahu kenapa aku menangis! Aku tak tahu! Aku hanya... aku hanya... merindukannya...

[Yunho]
Betapa terkejutnya aku saat seseorang memelukku dari belakang. Kemudian kedengar ia memanggilku. Suara yang sangat aku rindukan. Magnae kami. Aku tak berkata apapun, dan hanya diam membisu di sana. Dia menemukanku saat aku sedang berpikir dan mulai merasa kepalaku pening di sini. Bagaikan terobati, rasa pening itu hilang. Aku hanya dapat tersenyum mendengar endusannya. Setelah kudengar dia mulai tenang, aku berbalik dan menatapnya.
"Kau telah menemukanku... tak seorangpun bisa menandingi si genius 'evil magnae' ini, kan?" aku tersenyum. Dia balas senyum dan menghapus air matanya, mengangguk.
"Tentu saja... aku yang paling jenius di antara kalian,"
"Aaah... sungguh... anak ini..." dia hanya  tertawa dan memelukku lagi.
"Kau tidak di Amerika. Apa kau sungguh pergi ke sana?" tanyanya begitu kami duduk di bangku. Apa yang dapat kuucapkan? Bagaimanapun dia adalah seorang yang genius. Dia tahu.
"Hyeong... bagaimana keadaanmu? Kau sudah berobat? Kau sudah bertemu dokter?"
"Changmin..."
"Aku tahu kau tak akan! Aish! Sekeras kepala apa sih kau??"
"Changmin..."
"Kau punya kesempatan di Amerika! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tidak, Changmin. Aku tak kan bertemu dengan kalian lagi jika pergi ke sana..."
"Hyeong... apa maksudmu?"
"Awalnya memang ada kesempatan. Tapi kita butuh banyak uang untuk itu. Dan kupikir kita tak dapat membayarnya. Di samping itu, kankerku sudah berada dalam tahap berikutnya. Kangker itu menyebar lebih cepat dari perkiraan mereka. Perlahan, kesempatanku hilang. Aku masih bisa bertemu kalian sekarang, dan aku tak mau menyia-nyiakannya..."
"Hyeong..."
"Dokternya Junsu bilang kalau ia punya kesempatan besar untuk selamat. Tapi kita juga butuh banyak biaya. Jika kita bisa membiayainya, dia bisa menjalankan operasinya bulan depan..."
"Bagaimana denganmu, hyeong?"
"Aku baik-baik saja. Selama kalian sehat, aku juga..."
"Tapi kita tidak akan baik-baik saja jika kau tidak. Junsu pasti akan menolaknya. Dia ingin kau selamat."
"Bohong jika kubilang aku juga tidak ingin selamat, Changmin. Tapi Tuhan telah mengatur segalanya untuk kita. Kita hanya harus menerimanya, dan hidup dengan baik..." kami membisu sesaat.
Dia tiba-tiba melompat dan tersenyum padaku, "Ayo hyeong! Kita bertemu mereka!"
"Tidak, aku tak bisa Changmin..."
"Kenapa tidak?"
"Yeah, kenapa tidak?!"  kami menoleh pada Jaejoong dan Yoochun yang telah berdiri di sana. Jae tampak marah. Aku tahu itu. Aku hanya menimbulkan masalah buat mereka akhir-akhir ini. Yoochun segera memelukku.
"Hyeong! Kau kembali! Kenapa kau tidak hubungi kami?? Apa yang kau lakukan di sini??"
"Chun... aku..." ucapanku terpotong saat Jae merenggut Yoochun dariku. Dia tampak sedingin es.
"Kapan kau kembali?" tanya Jae, sambil melotot.
Jae, aku tahu kau marah padaku. Aku... aku tak dapat menjawabmu... Kau lebih kenal bagaimana aku lebih dari siapapun... Maafkan aku... Aku telah membuatmu khawatir... Kamu pasti sudah banyak menderita, kan?
"Maaf..."
"Aku ada pekerjaan. Sampai jumpa nanti..." begitu saja ia berlalu.
Aku menghela nafas dan hanya bisa menyaksikannya pergi. Tapi aku tahu... dia sedang menangis.... kecewa dan khawatir... takut...
"Maafkan aku..."

<a href=”http://www.asianfanfics.com/story/view/2279/15/i-m-holding-back-the-tears-yunho-dbsk-yunho/”> The original english chapter</a>

Give the appreciation to the Author, ha_neul

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 14



Chapter               :           14/30
Title                      :           Phone Call
Genre                   :           Brotherly Friendship, Angst
Author                 :           ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer       
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend's  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!             
Prepare the tissues, it's very very angst and touching!!
Characters             
TVXQ's Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary        
ha_neul said that she watched 'One Litre of Tears' before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.
Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

[Yunho]
Aku menatap adikku melalui cermin. Yoochun tak ada di sana. Junsu sedang membuka-buka album. Yoochun pasti yang membawakannya. Aku bimbang. Aku ingin menyentuhnya, tapi tak dapat menampakkan diriku sekarang. Aku telah berjanji, tapi tak bisa memegang janji itu. Apa yang dapat kukatakan kemudian? Begitu menyakitkan melihat adikmu dari dekat, tapi kau bahkan tak dapat menyentuhnya. Aku menekan tombolnya dan mendekatkan telepon ke telingaku.
"Halo?" kudengar Junsu menjawabku dengan bahagia, dan aku bersembunyi memandanginya. Apa ini? Apa yang sedang kulakukan? Tuhan... tuntunlah aku...
"Hyeong?? Kau menghubungiku!"
"Yeah, bagaimana kabarmu?" aku lihat dia menerawang, berusaha menemukan apa yang harus ia katakan.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Hyeong manajer bilang padaku kalau kau sudah menjalani operasi minggu lalu. Bagaimana? Sebelah mana?"
"Ow... mereka sudah mengangkat tumor di perutku. Aku sehat..." maafkan aku Junsu. Aku sendiri berharap begitu... tapi tidak... aku tak bisa...
"Kedengarannya bagus. Apakah mereka merawatmu dengan baik di sana?" kulihat Junsu mengusap wajahnya. Junsu-ah, kau sedang menangis? Jangan menangis... aku menyeringai saat kurasakan air mataku sendiri.
"Yeah, mereka baik sekali. Bahkan perawatnya cantik-cantik..."
"Changmin pasti cemburu kalau ia tahu itu... sudah ngobrol dengan yang lain?"
"Belum. Mungkin setelah ini... Junsu, sekarang kau sedang apa?"
"Er... aku... sedang menjawab teleponmu..." Junsu, berhenti berpura-pura! Tolonglah! Dia tertawa, tapi kulihat ia sedang menahan air matanya.
"Ya iyalah..."
"Hyeong, kapan kami bisa ketemu denganmu lagi?"
Aku membekap mulutku untuk mencegahku terisak. Aku tak tahu Junsu... Aku sangat ingin bertemu kalian... Aku ingin jadi Yunho yang dulu lagi... Aku ingin memeluk kalian... Aku ingin merengkuh kalian... Aku ingin bernyanyi... menari... bermain bersama kalian semua... Tapi waktuku sudah tak lama lagi Junsu... Aku bahkan tak ingin menyampaikan salam pada keluarga dan sahabat-sahabatku... karena aku takut itu jadi salam yang terakhir...
"Hyeong?"
"Hmm?"
"Kau lelah? Mungkin kau harus tidur..."
"Aku akan. Junsu-ah..."
"Ya, hyeong?"
"Jangan menangis... walaupun kita tak kan saling bertemu lagi nanti, kita masih saling memiliki... mengerti?"
"Mmm..." dia mengangguk, dan menggigit bibirnya. Air matanya... apa yang dapat kulakukan?
"Aku sayang kamu, dongsaeng..."
"Hyeong, kau membuatku takut..." dia mulai terisak.
"Hush... apa yang baru kukatakan? Jangan menangis..."
"Aku tak ingin kau meninggalkan kami... tidak... Lebih baik aku yang meninggal lebih dulu daripada melihatmu pergi..."
"Dan aku tak tahan melihat salah satu dari kalian pergi sebelum aku..."
"Hyeong... jangan bilang begitu. Aku tak suka..."
"Maaf..." ada keheningan lama di antara kami. Dia menutup telepon dengan telapak tangannya dan terisak. Sementara aku? Aku berdiri di sini... memandangi dari jauh... tapi tak dapat menghapus air matanya... dan akupun tak menghapus  air mataku sendiri... begitu berat untuk kami... ini sungguh kejam! Hal ini membuatku lebih takut saat aku tak punya cukup waktu tersisa...
"Hyeong... kau harus istirahat... " kata Junsu setelah sejenak. Dia mencoba menahan suara sangat berat.
"Kau juga..." begitu saja, percakapan telepon itu berakhir. Dan aku menatap lagi pada anak laki - laki yang sedang terisak itu. Jangan khawatir, hyeong akan menyelamatkanmu.

[Junsu]
Yunho hyeong, aku sangat merindukanmua! Kenapa kau berkata begitu?! Aku benci kamu! Jangan menakutiku! Tuhan, tolonglah selamatkan hyeong... kumohon... Aku ingin ia panjang umur... jangan biarkan ia menderita lagi... tolonglah... Aku rela menggantikannya... tolonglah...

[Jaejoong]
Aku terkejut saat gelas yang ada dalam genggamanku terlepas begitu saja dan pecah. Aku tak suka perasaan ini. Yunho? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Tuhan, tolonglah selamatkan dia... bagaimanapun tolonglah dia... Changmin menatapku, khawatir. Dia pun tak menanyakan apapun.
"Hyeong! Kau sudah pulang??" kami menoleh pada Yoochun. Dia juga tampak terkejut.
"Ke mana saja kau? Kami kembali kemarin..." ucap Changmin.
"Di mana Junsu?" aku melihat ke sekitarnya, tapi dia sendirian. Dia menelan ludah dan memikirkan sesuatu. Kau tak bisa bohong padaku, Chun!
"Yoochun, aku tanya kau, di mana Junsu??" aku mendekatinya. Akhirnya dia menghela nafas.
"Aku sudah berjanji padanya untuk tak mengatakan apapun, tapi aku tak bilang kalau aku tak akan membiarkan kalian tahu. Ini, bacalah..." dia memberiku sebuah file. Itu adalah sebuah catatan kesehatan.
Aku membaca semua hal yang tercantum di situ dan membeku. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi ini sungguh terlalu buat kami. Kami bahkan belum tahu apa yang terjadi dengan Yunho, tapi kami sudah mendapatkan berita lain... tentang Junsu.
"Hyeong?" aku mengoper file itu pada Changmin, dan dia membacanya.
"Yoochun? Bagaimana... aku... apa..." aku menatap Yoochun. Dia menghela nafas dan berlalu ke kamarnya.
Ya Tuhan, apa yang akan terjadi dengan DBSK setelah ini? Mengapa Engkau mencoba mengambil kedua orang yang berharga dari DBSK? Kenapa? Aku terisak pelan, Changmin lunglai di lantai, berlutut.
"Kita baru saja bersatu kembali... Apakah kita akan berpisah selamanya sekarang?" kata-katanya... Aku tak dapat menjawabnya... tak seorangpun dapat menjawab...
 

<a href=”http://www.asianfanfics.com/story/view/2279/14/i-m-holding-back-the-tears-yunho-dbsk-yunho/”> The original english chapter</a>

Give the appreciation to the Author, ha_neul

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 13



Chapter                         :          13/30
Title                               :          Here
Genre                             :          Brotherly Friendship, Angst
Author                          :          ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer                  
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!                      
Prepare the tissues, it’s very very angst and touching!!
Characters              
TVXQ’s Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary                    
ha_neul said that she watched ‘One Litre of Tears’ before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.
Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

[Yunho]
Aku telah berdusta. Maafkan aku sobat... aku ada di sini. Bersama kalian. Memang benar aku sudah ke Amerika, tapi hanya beberapa hari. Apa gunanya? Mereka bahkan tak dapat menolongku juga. Terlalu berbahaya, itulah yang mereka katakan. Maafkan aku, Junsu... Changmin, maafkan aku... Maafkan aku, Yoochun... Maafkan aku, Jaejoong. Bukannya aku tak ingin bertahan  hidup lagi. Aku ingin..., sangat, sungguh - sungguh ingin. Tapi kesempatannya semakin kecil dan aku tak ingin mengambil resiko.
Aku mungkin dapat bertemu dengan kalian lagi suatu hari, dan aku tak ingin mempersempit hidupku. Beberapa hari sekembali dari Amerika, aku tinggal di hotel. Aku telah berpikir banyak tentang hal ini. Aku tak ingin seorang pun dari kalian yang melihatku. Terutama, Jaejoong. Dia mungkin akan membunuhku. Aku tersenyum sendiri memikirkannya. Aku meminta manajer untuk berbohong tentang segalanya. Di saat yang sama, aku menjaga keamanan untuk 'dongsaeng'ku. Setidaknya, itulah yang dapat kulakukan untuk saat ini. Kehilangan seorang leader, mereka mungking berada dalam bahaya.
"Yunho, kau yakin?"
"Hyeong, kau sudah menanyakan hal itu beberapa kali. Ya, aku yakin..."
"Tapi kesehatanmu..."
"Kesehatanku tak penting. Saat ini, aku ingin menjaga mereka..." mataku terus menatap layar itu.
Kulihat saudara - saudaraku di sana. Mereka tak dapat menemukan kameranya di dalam rumah itu karena kemeranya sangat kecil. Changmin makan banyak seperti biasanya. Dan Jaejoong terus menggodanya. Dua orang menghilang.
"Hyeong, bagaimana dengan Junsu?" aku tahu apa yang terjadi dengan Junsu kemarin. Aku  sangat terpukul. Terlalu terpukul. Aku kehilangan kata - kata. Junsu... si cabi, ceria, dan adikku yang imut... adik kami... juga sedang berjuang hidup. Dia lebih kuat daripada aku. Pasti sangat menyakitkan baginya melihatku seperti ini. Tuhan, ujian apa lagi yang harus melanda kami?
"Aku mendapat informasi bahwa dia stabil sekarang. Yoochun ada di sana untuknya."
"Aku ingin melihatnya."
"Kau ingin bilang bahwa kau ada di sini?"
"Nope. Dia akan kecewa. Aku tak dapat melihat ekspresi itu lagi. Hanya membuat hatiku hancur."
"Setidaknya, kau harus bilang pada seseorang tentang hal ini..."
"Kan sudah ada kau, hyeong..."
Maafkan aku hyeong. Aku adalah seorang pria keras kepala, ingat kan? Lalu kemudian, kami berjalan keluar kamar. Sobat, tunggulah di sana.
[Jaejoong]
Aneh sekali. Kami kembali pulang pagi ini, dan aku tak melihat Yoochun dan Junsu. Junsu, aku percaya dia akan pergi ke suatu tempat sepagi ini. Sejak kami terpisah, dia selalu menghilang di pagi hari. Kami hanya bertemu dengannya di malam harinya. Aku tak pernah bertanya, ke mana ia pergi. Melihat wajahnya yang muram yang berubah getir menjadi seorang badut, kami tak berani menanyainya. Tapi Yoochun?? Dia bahkan bukan orang yang keluar di pagi hari! Kira - kira ada di mana dia? Main gila? Kembali pada kebiasaan lamanya?
"Hyeong, aku lapaaaar..." aku menoleh pada Changmin.
"Kenapa tidak kau beres - beres dan aku memasak?"
"Tentu..."
Aku selalu bisa 'menyuap'nya dengan makanan. Mudah sekali. Aku tiba - tiba teringat Yunho. Bagaimana dia sekarang?

[Changmin]
Aku bereskan ruang tengah. Junsu hyeong selalu membuat berantakan, majalah, kertas-kertas... tunggu! Ini bukan perbuatan Junsu. Ini perbuatan Yoochun! Junsu tak akan membaca majalah macam ini. Terlalu ekonomik, katanya. Aku tertawa sendiri mengingat bagaimana kami selalu meledeknya dalam hal membaca.
Sejujurnya, dia selalu membaca. Tapi satu hal saja, dia selalu lupa apa yang telah dibacanya. Berbeda dari Yunho hyeong, hyeong tidak membaca sebanyak itu, tapi dia ingat apa yang Junsu baca. Sedangkan aku? Aku ingat semua yang telah kubaca. Terkadang kupikir, hanya akulah orang yang normal di keluarga ini.
Aku melihat seseorang memandangi rumah ini melalui cermin. Dia tampak familiar. Tapi dia melihatku, dan melarikan diri. Siapa kira-kira itu? Mungkin stalker? Aha! Aku ingin menelepon Yunho hyeong malam ini. Aku berpikir bagaimana keadaannya... Aku yakin dia sudah lebih sehat dari sebelumnya. Oooops! Jaejoong hyeong melihatku yang sedang cekikikan. Dia pasti berpikir aku gila.

[Jaejoong]
Oke, Changmin memang aneh... terlalu aneh... ketawa sendiri?? Dasar gila...

[Yoochun]
Aku menerawang ke luar jendela. Saat ini tidak turun salju, tapi masih dingin. Aku mendapat inspirasi dan menoleh pada Junsu yang sedang bermain dengan PSPnya. Aku tersenyum tanpa kusadari. Bagaimanapun, dia masih bocah.
"Yeahhhhhhhh!! Aku menang!!" dia tertawa gembira.
"Berapa poin yang kau dapat?"
"Hmmmmm... 50.000 poin!!"
"Wow! Banyak sekali... kau mau main lagi?"
"Yeah!"
"Tidak!"
"Huh??"
"Ini sudah waktunya kau istirahat. Tak ada lagi permainan..."
"Kenapa...?" keluhnya. Aku mengacak rambutnya dan  duduk menghadapnya.
"Kau sudah main selama setengah hari. Tidakkah kau lelah?"
"Aku selalu main game seharian. Setengah hari itu belum seberapa!"
"Na-ah! Kau harus berbaring, dan istirahat. Tidak boleh menolak! Atau aku akan bilang pada hyeong..."
"Oke," ia berbisik dan manyun. Lucunya...
"Aku berpikir bagaimana keadaan Yunho hyeong..." katanya tiba-tiba.
"Dia akan sehat, jangan khawatir..."
"Yeah... dia kan sudah janji!" Junsu nyengir senang.


<a href=”http://www.asianfanfics.com/story/view/2279/13/i-m-holding-back-the-tears-yunho-dbsk-yunho/”> The original english chapter</a>

Give the appreciation to the Author, ha_neul