Saturday, August 28, 2010

[Fanfic 2 Shoot] 사랑하니까… 미안해 Saranghanikka... Mianhae


FF Title            :     [사랑하니까미안해] Sorry, Cause I Love You
Chapter            :     2
Genre               :     Romance, Angst                                 
Character        :     Changmin, Geun Yeong, Ga In, Jung Hoon, Da Hae, Junsu, Yunho, Jaejoong, Yoochun.    
Author              :     아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)
Desclaimer      :     I don't own the characters,they are humans who had the human right. But, the story is mine.
Summary         :     When love became the guilty feeling,
When loving became the sin,
But  my love for you,
It’s too strong, strong enough to kill me from the deep inside of my heart...

WARNING!!!  Buat cassiopeia terutama Min's lover, sebelum baca FF ini, amit - amit dulu. Ini cuma sebuah cerita... I Love You, Minnie ♥.♥ *diusir Junsu*      

FF  ini  terinspirasi  dari  kenangan  tentang  seorang  sahabat....


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan berbau obat menyengat itu terbuka, tubuh tak berdaya Changmin tergolek di atas wheel bed yang didorong perlahan oleh dua orang perawat diikuti dokter, seorang perawat lainnya terus memompakan oksigen melalui selang yang tersambung di mulutnya. Geun Yeong meringis pedih, hatinya miris.
Geun Yeong menghentikan langkahnya di depan ruang ICU, ia belum berani ikut masuk. Ia tak mau melihat dokter dan perawat - perawat itu memasangkan berbagai peralatan di tubuh sahabatnya. Ia bersandar pada tembok ruangan itu, lututnya terasa lemas, punggungnya perlahan turun sampai terduduk memeluk lututnya dan masih menyandar pada ruangan mengerikan itu.
"Agassi~ga, keluarga Shim Changmin ssi?" tanya perawat yang tadi membawa sahabatnya ke ruangan itu.
"N... ne," Geun Yeong memaksakan berdiri.
"Ini barang - barang yang kami temukan bersama pasien," perawat itu menyerahkan keranjang plastik kecil, "Geureom," perawat itu berlalu setelah membungkuk hormat.
Geun Yeong melangkah ke arah bangku di depan ruangan itu. Ia lalu duduk dan menyentuh lembut barang - barang dalam keranjang tadi. Di sana ada sebuah i-pod, handphone, sebuah cincin platina polos dari mendiang ibunya, serta sebuah kalung berliontin pipih berbentuk bunga matahari. Geun yeong membuka keping liontin itu, di dalamnya terdapat foto ibunya yang sedang tersenyum. Air matanya menetes pedih, ia tahu sahabatnya sangat kehilangan ibunda tercintanya.
Lalu ia menekan tombol turn-on handphone berwarna putih itu. SARANGHAE... disambut rekaman suara Changmin sebagai welcome greeting handphone itu, dan... air matanya semakin mengalir pedih dengan sambutan wallpaper handphone itu, foto Han Ga In. Changmin masih menyimpan foto - foto wanita itu.
Ia kemudian menyalakan i-pod Changmin, di sana juga masih ada koleksi foto - foto nuna tercintanya. Jemari Geun Yeong bergerak hendak menghapus semua foto wanita itu, takut nanti ketahuan oleh Jung Hoon ssi atau Yeon ssi, takut rahasia yang ingin disembunyikan Changmin jadi terbongkar. Tapi ia merasa tidak berhak mengotak - ngatiknya. Akhirnya ia menyimpan dulu barang - barang itu ke dalam tas kecilnya.


Geun Yeong tertegun sejenak melihat baju khusus yang harus ia pakai untuk memasuki ruangan itu. Langkahnya agak gemetar, menunduk seakan tak ingin melihat tubuh - tubuh tak berdaya yang terbaring di ruangan itu dengan berbagai alat dan mesin yang menopang hidup mereka. Ia masih menunduk saat mendekati ranjang di mana sahabatnya terbaring tanpa daya.
Ia lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang itu, tubuhnya terasa lemas saat ia mendongakkan kepala, menatap wajah Changmin yang putih pucat, sebagian kepalanya terbalut perban, lehernya masih disangga alat penopang. Sebuah mesin terus memompakan oksigen melalui selang yang dimasukkan lewat mulutnya. Desis mesin itu membuat Geun Yeong merinding, ditambah bunyi alat lainnya, terdengar begitu menyakitkan, meskipun semua alat itulah yang sekarang membantu sahabatnya untuk bertahan.
Geun Yeong memejamkan mata, tak tega melihatnya. Ia membuka mata kembali, memandangi tubuh lemah itu yang sebagian tertutupi selimut. Masih ada benda - banda mengerikan lainnya yang terpasang di tubuh itu... selang infus di lengannya dan kabel - kabel pemantau detak jantung serta nadinya...
"Changmin~aaaa," isak Geun Yeong menggenggam telapak tangan dingin yang 'pasrah' tak bergerak. Hatinya pedih melihat pemandangan menyakitkan itu, "Apa yang harus kulakukan?? Apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu Changmin~a?" air matanya terus menetesi punggung telapak tangan Changmin. Ia perlahan mengusap kulit pucat itu dengan hati - hati, seakan takut sentuhan perlahan pun dapat menyakitinya.
"Mianhae, Changmin~a. Mianhae... aku tak bisa menahan tangis... Mianhae... Bertahanlah Changmin~a, bangunlah agar aku tidak menangis lagi. Changmin~a..." Geun Yeong terus terisak, membenamkan wajahnya di samping tubuh lemah itu.
"Agassi, silahkan tunggu di luar. Anda tidak boleh berlama - lama di ruangan ini," seorang perawat menepuk pundaknya pelan.
"Jo... jeoseonghamnida," Geun Yeong membungkuk hormat, kemudian ia mengecup lembut kening Changmin yang terbalut perban. Lalu berbisik ditelinganya, "Changmin~a, aku tunggu di luar ya?"
Akhirnya dengan terpaksa Geun Yeong harus keluar, walaupun ia ingin terus menemani namja itu. Lagipula ia tidak boleh egois, Mr. Yeon pun pasti ingin menjenguk puteranya, begitu juga Jung Hoon oppa. Ia melangkah lesu keluar dari ruang ICU. Mr. Yeon bergantian yang masuk melihat Changmin. Di depan ruangan, Junsu sedang duduk dengan ekspressi cemas, tak jauh beda dengan Yunho yang tak kalah sedihnya.
"Geun Yeong~a, gimana keadaan Changmin," tanya Junsu. Yunho menyikutnya seolah berkata, 'Huss, jangan ditanya dulu!'
Geun Yeong malah semakin terisak, Yunho segera menghampiri, meraih bahunya dengan lembut, mengajaknya duduk di bangku. Bahunya semakin berguncang. Junsu meraih pundak dan kepala gadis itu dengan lembut, membiarkannya menumpahkan air mata di dalam dekapannya.
"Oppa, Changminnie... aphayo... " Geun Yeong tak sanggup melanjutkan kata - katanya, dadanya sesak dipenuhi kesedihan.
Junsu hanya sanggup mengelus - ngelus rambutnya, Yunho pun ikut menepuk - nepuk bahu gadis itu. Mereka berdua bisa merasakan kesedihan yang sama, mereka shock mendengar Changmin yang ceria dan tak pernah mengeluh, ternyata menderita sakit yang cukup berat.
*****
Sudah hampir lima hari, kondisi Changmin belum juga membaik. Atas permohonan Mr. Yeon, ia bisa dipindahkan ke kamar perawatan sendiri, supaya kami bisa berada di sisinya. Berbagai peralatan masih terpasang di tubuhnya. Yoochun dan Jaejoong yang sedang berlibur di Lombok, sudah pulang ke Korea lagi. Geun Yeong dan keempat sahabat lainnya memutuskan untuk menjaga Changmin bergantian, kebetulan masih summer holiday. Jung Hoon dan Mr.Yeon juga selalu menyempatkan ke rumah sakit di sela kesibukan mereka di kantor.


"Annyeong," seorang wanita masuk, menyapa Yoochun dan Yunho yang masih terkantuk - kantuk di sofa.
"Aaa.. Ga In nuna, tumben sendirian? Jung Hoon hyeong tidak ikut?" tanya Yoochun sambil mengucek - ngucek matanya.
"Oh, geuge... aku belum ketemu oppa hari ini. Mmmh, bagaimana keadaan Changmin, apa dia sudah sadar?" tanya Ga In agak gugup.
"Belum nuna, tapi kami akan terus menyemangatinya," jawab Yunho sambil memandang ke arah tubuh yang masih tak bergerak di ranjang.
"Geure...," Ga In mengangguk, sejenak ia tercenung kehabisan kata - kata, "Yang lain ke mana?"
"Junsu, Geun Yeong, dan Jaejoong kami suruh pulang dulu tadi malam, biar mereka istirahat dulu," jelas Yunho.
"Geure...," lagi - lagi Ga In mengangguk, "Kalian berdua juga lebih baik pulang dulu, biar nuna yang gantian menjaganya."
"Nuna tidak ke kantor?" tanya Yoochun.
"Ani, sudah dihandle dulu oleh wakil nuna. Hari ini nuna ingin menjaga Changmin," jawab Ga In sebiasa mungkin, "Kalian istirahatlah dulu."
"Baiklah, tolong hubungi kami kalau Changmin bangun ya nuna?" Yunho bangkit membungkuk hormat dan menarik lengan Yoochun, "Ayo Chunnie, kita pulang dulu."
"Geureom, annyeong," Yoochun membungkuk hormat sebelum mengikuti Yunho keluar.
Setelah Yunho dan Yoochun keluar, Ga In mendekati ranjang itu. Ga In menatap wajah pucat itu, matanya mulai hangat. Kemudian terdengar isak tangis pelan yang diiringi bunyi monitor jantung serta desis alat pemompa oksigen.
"Minnie~ya, babe... mianhae... aku telah menyakitimu. Tapi sungguh, sebenarnya aku juga sudah mulai jatuh cinta padamu... aku... aku merasa lebih bahagia saat bersamamu," Ga In menggenggam lembut telapak tangan yang terkulai lemah itu, "Tak pernah sedikitpun terbersit niat untuk mempermainkanmu. Kau memang telah mengisi hari - hari sepiku saat hyeongmu pergi, tapi sungguh... itu bukan hanya pelarian, aku menemukan kenyamanan bersamamu... aku... " Ga In mengecup punggung telapak tangan Changmin, jari tengahnya dijepit oleh alat yang dihubungkan dengan kabel kecil pada sebuah monitor.
Ga In terus mengecupi telapak tangan yang dingin itu, sesekali ditempelkan pada pipinya yang lembut, seolah ingin mengalirkan kehangatan padanya, "Minnie~ya, sembuhlah... bangunlah... aku ingin mendengar tawa renyahmu lagi...," isaknya pelan, "Mianhae... aku bingung... aku tak ingin menikah dengan kakakmu... aku ingin bersamamu, tapi aku juga tak pantas untukmu... " bahunya berguncang perlahan, "Minnie~ya, bukan kau yang harus mengalah, tapi aku yang seharusnya pergi dari kehidupanmu... dari kehidupan Jung Hoon oppa... "
"Eonnie?!!" terdengar suara yang meninggi, Geun Yeong berdiri menatap sinis pemandangan itu.
"Geu... Geun Yeong~a?" Ga In kaget, ia buru - buru bangkit dari kursi di samping ranjang itu, menghapus air mata dengan jemari tangannya.
"Sebaiknya eonni tidak di sini!" usir Geun Yeong secara halus.
"Geu... Geun Yeong~a, aku... " ucap Ga In terbata - bata.
"Aku sudah tahu semuanya, eonni. Changmin cerita padaku setelah kalian 'putus' waktu itu," ucap Geun Yeong dengan perasaan campur aduk yang berkecamuk dalam hatinya, marah, cemburu, sedih...
"A... aku... " raut muka Ga In bagai tersangka yang ketahuan alibinya.
"Tolonglah eonnie, jangan memberinya harapan lagi. Eonni sudah cukup menghancurkannya!" histeris Geun Yeong, tangisnya tak terbendung lagi.
"Geun Yeong~a... " Ga In meraih bahu gadis itu, mencoba menenangkannya walaupun ia perasaannya sendiri tak karuan.
"Pergilah eonnie! Jangan sampai ada lagi yang tahu masalah ini... terutama oppa, atau Changmin akan lebih terluka lagi. Ia merasa tak pantas hidup karena rasa berdosanya pada oppa," tegas Geun Yeong getir, menepiskan tangan Ga In, "Dan tolong jangan buat Jung Hoon oppa curiga akan masalah ini."
Sebelum angkat kaki dari kamar itu, Ga In menatap sekali lagi pada pria muda yang masih tergolek di ranjangnya, 'Selamat tinggal, Minnie...' bisik hatinya pedih.
Geun Yeong menatap kepergian wanita itu dengan hati yang pedih, wanita yang dicintai Changmin. Suasana kamar itu kembali hening, hanya terdengar suara alat pemompa oksigen serta bunyi pengiring grafik nadi dan detak jantung yang menemani tidur lelah sahabatnya, sahabat yang dicintainya. Ia kemudian menghampiri ranjang Changmin dan duduk di kursi yang tadi diduduki wanita itu.
"Changmin~aaa, aku datang," Geun Yeong menyentuh pipi Changmin yang agak terhalang plester yang menahan selang oksigen di mulutnya, "Changmin~aaa, bangunlah. Bangunlah sebelum summer holiday keburu habis. Jun-pa, Chun-pa, Jae-pa, dan Yun-pa juga menunggumu. Cepatlah sembuh, kita berlibur sama - sama lagi, ne?"
Tak ada jawaban, hanya ada bunyi yang biasa menemani hari - hari Changmin di kamar itu. Kemudian terdengar pintu terbuka perlahan, dan suara beberapa langkah kaki, Yunho, Yoochun, Jaejoong dan Junsu, mendekat padanya.
"Lihat Changminnie, sudah lengkap kan? Kita semua menunggumu," bulir - bulir bening kembali meluncur di pipi mulus gadis itu.
"Iya Minnie, kami semua ada di sini," tambah Junsu sambil mengusap lembut bahu gadis yang sebenarnya ia cintai.
"Ne, Changmin~a, we're here for you. Please speedy recovery," ucap Yoochun, mengenggam lembut telapak tangan sahabatnya yang lemah.
"Geure Min, kasihan tu Joongie dan Chunnie, mereka gak jadi menghabiskan liburan di Lombok karena kamu tidur begini," canda Yunho mencoba menghangatkan suasana, "Betul kan Joongie?"
"Ne, Minnie~ya. Gara - gara kamu, aku harus balik ke sini, padahal aku kan lagi pe-de-ka-te dengan cewek Indonesia kenalanku di sana," Jaejoong mengiyakan, sambil manyun imut.
"Tuh, denger Min. Kasihan Jaejoong oppa, misinya untuk dapetin pacar jadi gagal deeeh," Geun Yeong menghapus air matanya, mencoba tersenyum.
"Eu.. kyang... kyang...! Salah sih, liburan gak ngajak - ngajak kita. Kalau kita liburannya sama - sama, pasti kita bantuin dia cari pacar. Iya kan Min?" sahut Junsu melirik pada Changmin yang masih diam seribu bahasa.
"Kamu saja belum punya pacar! Berlagak mau mencarikan pacar untuk Jaejoong oppa!" ledek Yoochun.
"Aku kan setia menanti.... " Junsu melirik seorang gadis satu - satunya yang ada di kamar itu.
"Ha... ha... kasihan kau Su. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Geun Yeong kan hanya mencintai Chang Min," timpal Yoochun tak mau kalah.
Geun Yeong tersipu, 'Geure, mianhae Junsu oppa, aku hanya mencintai Changmin,' bisik hatinya, memandang wajah pucat Changmin.
Mereka terus bercanda, memecah keheningan kamar itu. Mereka ngobrol seolah Changmin pun mendengarkan dan sedang bergabung dengan obrolan ringan mereka, seperti saat biasa mereka berkumpul.
"Changmin~aaa?" panggil Yoochun melihat kelopak mata Changmin tampak bergerak perlahan.
"Changmin~a?" panggil yang lain kompak.
Perlahan kelopak matanya bergerak ke atas, sedikit demi sedikit matanya terbuka, lalu terpajam lagi karena cahaya dalam kamar yang belum bisa diadaptasi matanya yang telah lama ditemani kegelapan.
"Changmin~a, kau bisa mendengar kami??" Yunho mendekatkan wajahnya.
Changmin berusaha membuka matanya kembali, samar ia melihat wajah Yunho, lalu mengedarkan pandanganya. Seperti mimpi, ia melihat wajah semua sahabatnya yang telah lama ia dirindukan, serta wajah gadis yang menyambutnya dengan senyuman lega.
"Thanks god, akhirnya kau bangun kid," Yoochun menarik nafas lega, menyambutnya dengan senyuman termanisnya.
"Eorenmanhiyeyo, masih ingat kami kan?" sapa Jaejoong tersenyum lega..
Changmin hanya dapat merespon dengan kedipan matanya yang masih lemah. Perlahan telapak tangannya bergerak, diangkat sekuat tenaga untuk menyentuh selang oksigen yang terpasang di mulutnya, "Eu... eunghh..." ia ingin bicara, tapi selang itu mengganjal di tenggorokannya.
"Sudah, jangan bicara dan banyak bergerak dulu. Aku panggilkan dokter," Yunho meraih telapak tangan Changmin lembut, menurunkannya kembali ke posisi semula.


Dr. Han dan dua orang perawat datang untuk memeriksa, setelah diberitahu pasiennya sadar. Kemudian salah satu perawat mencabut sambungan selang oksigen dari mesin itu, perlahan ia pun melepaskan plester yang menahan selang di mulut Changmin dan menarik keluar selang itu dari tenggorokannya. Changmin tampak meringis menahan sakit.
Geun Yeong tak tega melihatnya, ia membenamkan wajahnya di bahu Junsu. Saat menoleh lagi, selang itu sudah diganti dengan masker oksigen. Nafas Changmin masih tampak berat, gerakan dadanya naik turun masih lemah.
"Tolong, pasien jangan diajak bicara dulu. Jantung dan paru - parunya belum kuat untuk bernafas normal," pesan dr. Han, "Kami akan selalu memantau kondisinya. Kalau ada apa - apa, segera panggil kami," pria itu keluar diikuti para perawat tadi.
Junsu, Yunho dan Yoochun duduk memandangi Changmin dari sofa, Geun Yeong duduk di samping kiri ranjang Changmin sementara Jaejoong berdiri di samping kanannya.
"Kamu istirahat dulu, Min. Kami akan selalu menemani di sini," Jaejoong membelai kepala Changmin yang sudah tidak dibalut perban lagi, "Oya, aku akan hubungi appa dan hyeongmu."
"Heu... hyeong," suara Changmin hampir tak terdengar, ia mencoba berbicara, tapi tenggorokannya masih terasa sakit dan lemah.
"Sudahlah, jangan bicara dulu. Tidurlah Minnie, kamu masih lemah," nasehat Jaejoong sambil terus mengusap dahi dan kepala Changmin dengan lembut, sementara Geun Yeong mengusap - usap lengannya. Akhirnya kelopak mata Changmin menutup lagi perlahan, mungkin obat yang diberikan dokter juga membuatnya mengantuk.
*****
Begitu tahu adiknya sudah sadar, siang harinya Jung Hoon datang didampingi oleh seorang wanita cantik, sekretaris barunya di kantor, serta driver pribadinya yang tampak menjinjing beberapa paket makanan dari sebuah restoran terkenal. Sebelum menengok Changmin, mereka menghampiri Yunho, Jaejoong dan Yoochun yang tengah duduk di sofa luar, di samping kamar Changmin. Mereka bangkit dan membungkuk hormat begitu melihatnya datang.
"Gomawo, kalian selalu mendampinginya. Oya, ini aku belikan makanan, kalian pasti belum makan siang kan?" Jung Hoon memberi isyarat pada Soo Man ssi untuk meletakkan barang yang dibawanya di atas mejanya.
"Gamsahamnida, hyeong," ucap Yunho mewakili.
"Aku yang harusnya berterima kasih. Kami masuk dulu ya?"
Sekali lagi mereka membungkuk. Jung Hoon segera masuk kamar Changmin diikuti sekretarisnya, sementara drivernya kembali menunggu di lobi.
"Oh, oppa," Geun Yeong berdiri, membungkuk hormat.
"Annyeong, hyeong," sapa Junsu, juga membungkuk hormat.
"Annyeong Geun Yeong~a... Junsu~ya. Apa dia masih tidur?" tanya Jung Hoon perlahan, takut membangunkan adiknya.
"Ne," jawab Geun Yeong.
"Kalian makan siang dulu sana, jangan sampai ikutan sakit. Aku bawakan makanan di luar, bergabunglah di sana," Jung Hoon menepuk bahu Junsu.
Junsu dan Geun Yeong mengangguk, lalu keluar bergabung dengan ketiga sahabatnya di sofa samping kamar.
"Heu... hyeong," panggil Changmin lemah, dibalik masker oksigennya. Matanya terbuka perlahan, memandang dua orang yang tengah berdiri di samping kanannya.
"Ne? Kau bangun?" Jung Hoon mendekatkan wajahnya sambil membelai lembut rambut adiknya.
"Geunyeo... nugu... seyo?" bisik Changmin pelan.
"Oh, iya... perkenalkan ini teman lama hyeong, sekarang jadi sekretaris pribadi, Lee Da Hae," jelas Jung Hoon.
"Annyeong, Changmin~a. Masih ingat nuna? Lee Da Hae imnida. Nuna pernah main kerumah waktu kami SMA dulu."
Changmin agak mengernyitkan alisnya, sudah lama sekali. 'Jadi inikah wanita yang dicemburui Ga In?' tanyanya dalam hati.
"Annyeong," sapa Changmin lemah, telapak tangannya berusaha melepaskan masker oksigen.
"Andwae... andwae! Tidak usah di lepas," Da Hae memasangkan kembali masker itu.
'Tampaknya dia wanita yang baik. Apakah benar hyeong menjalin hubungan lagi dengannya? Bagaimana dengan Ga In?' Changmin memandang wanita itu dengan bimbang, hatinya bertanya - tanya dan ia tak rela bila nuna yepponya (Han Ga In) akan sedih, jika akhirnya ditinggalkan oleh hyeongnya karena wanita ini.
"Hyeong," panggil Changmin pelan.
"Ne?" Jung Hoon kembali mendekatkan kepalanya.
"Hyeong~a masih mencintai dia?" bisik Changmin lemah.
"Nugu?" tanya Jung Hoon.
"Geu yeojaga," bisik Changmin, melirik Da Hae.
"Anio, hanya sahabat," bisik Jung Hoon, takut kedengaran Da Hae.
"Syukurlah," suara Changmin masih lemah, ia menghela nafas.
"Geundae wae?" bisik Jung Hoon lagi.
"Ah... anya," jawab Changmin susah payah, nafasnya terasa sesak lagi, berbicara sedikit pun rasanya lelah seperti habis berteriak-teriak di tengah gurun.
"Ssst... sudah, kamu tidur lagi," Jung Hoon masih membelai rambut adiknya, sampai ia tertidur kembali karena masih dalam pengaruh obat.
"Da Hae~ya, kamu kembali ke kantor duluan bersama Soo Man ssi. Nanti aku menyusul," perintah Jung Hoon. Da Hae mengangguk lalu keluar setelah membungkuk hormat terlebih dahulu.
Mr. Yeon masuk, Jung Hoon membungkuk hormat menyambut ayahnya.
"Adikmu tidur?" lirik Mr.Yeon pada Changmin yang terbaring tenang di ranjangnya.
"Ne. Jadi, apa kata dokter, appa?"
Mr.Yeon tidak langsung menjawab, ia malah menghela nafas seraya menyandarkan punggungnya ke sofa di kamar itu.
"Wae, appa?" Jung Hoon duduk di sampingnya, ia jadi khawatir melihat appanya tampak sedih dan putus asa.
"Jantung adikmu sudah parah, dan keadaan itu juga menyebabkan hipertensi pada paru - parunya," jelas Mr.Yeon berat.
"Hipertensi paru - paru? Apa lagi itu?"
"Entahlah, appa juga kurang mengerti, katanya oksigen susah melewati paru - parunya. Nampaknya lebih parah dari apa yang dialami mendiang eommanya," Mr.Yeon menitikkan air mata.
"Apa tidak ada cara untuk menolongnya? Transplantasi misalnya?"
"Kalaupun ada donor yang cocok sekalipun, tidak mungkin melakukan transplantasi saat begini, kata dokter akan lebih berbahaya karena kondisinya sangat lemah."
"Jadi, apa yang bisa kita lakukan??"
Mr. Yeon hanya menggeleng putus asa.
"Jadi, dia tidak bisa bertahan??"
"Tergantung motivasi dari dalam dirinya sendiri," Mr.Yeon menghela nafas lagi, "Mianhae, Yeon Mi~ya.... Aku tak bisa menjaganya dengan baik," Mr. Yeon menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya, butiran air mata merembes dari sela - sela jarinya. Jung Hoon pun tak bisa menahan air matanya, ia mendekap pundak ayahnya, saling memberikan kekuatan dalam menghadapi kenyataan pahit yang harus mereka terima.
Changmin yang tidak sepenuhnya terlelap, diam - diam mendengar percakapan pelan appa dan hyeongnya, 'Appa... hyeong.... mianhae telah membuat kalian menangis... Tapi aku memang pantas mati... aku ini adik yang tidak tahu diri... Aku pantas mati...' air mata Changmin meleleh dari sudut matanya.
*****
Mentari pagi bersinar menerangi kamar Changmin melalui jendela yang terbuka, udara pagi musim panas menghangatkan suasana kamar yang beraroma khas rumah sakit itu. Wajah Changmin sudah tidak sepucat kemarin. Junsu, Yunho, Yoochun, Jaejoong dan Geun Yeong sedang menikmati teh ginseng hangat di sofa kamar itu.
Sementara di samping ranjang Changmin ada Jung Hoon didampingi Ga In yang tampak agak canggung. Sesekali Geun Yeong menatap wanita itu dengan sinis. Kemudian datang Mr.Yeon menghampiri, ia selalu menyempatkan diri menjenguk Changmin sebelum berangkat ke kantor.
"Bagaimana magnae appa pagi ini?" sapa Mr.Yeon tersenyum, mengusap lembut kening Changmin.
"Lebih enakan, appa," jawab Changmin, melepaskan masker oksigennya.
"Eit, jangan di..." cegah Mr.Yeon.
"Gwaenchana appa, aku ingin menghirup udara pagi."
"Geure," Mr.Yeon mengangguk.
"Appa...," ucap Changmin parau.
"Ne?"
"Kapan appa akan menikahkan mereka??" Changmin melirik Jung Hoon dan wanita di sampingnya.
"Nanti setelah kamu sembuh," jawab Mr.Yeon tersenyum, dalam hatinya ia ingin menangis, mungkinkah ia bisa melihatnya sembuh??
"Geure, makanya kamu cepat sembuh. Biar sekalian kita bisa mengadakan pesta besar - besaran," tambah Jung Hoon sambil merangkul bahu Ga In dengan mesra. Ga In menundukkan wajahnya, perasaannya tak karuan.
"Hyeong," raut wajah Changmin berubah mendung, "Mianhae... jeongmal mianhae," air matanya meluncur begitu saja.
"Waeyo?" tanya Jung Hoon heran.
"Waeyo, Changmin~a... ada yang sakit lagi?? Apa yang sakit??" Mr. Yeon khawatir.
Geun Yeong yang mendengarnya, tiba - tiba menjadi tegang, khawatir dengan apa yang akan diucapkan Changmin. Begitu juga dengan Ga In, jantungnya terasa berdegup lebih kencang.
"Hyeong... jeongmal mianhae... " Changmin menangis terbawa emosi.
"Wae... kenapa harus minta maaf? Changmin waeyo?" Jung Hoon menghapus air mata Changmin dengan telapak tangannya.
"A... ani," Changmin tersadar akan tingkahnya yang hampir mengungkapkan segalanya, "Mianhae, gara - gara aku sakit, pernikahan hyeong dengan nuna jadi tertunda," ia berusaha menyembunyikan kata hati yang sebenarnya.
Geun Yeong menghela nafas lega mendengarnya, keempat sahabatnya menatap heran. Sadar diperhatikan, Geun Yeong hanya nyengir pura - pura bego.
"Aigooo, hyeong kira apa. Jangan merasa bersalah gitu. Kami akan menunggu sampai kamu sembuh. Kami tidak akan menikah sebelum kamu sembuh, betul kan jagi?" Jung Hoon melirik Ga In.
"Ah... eh, betul," jawab Ga In berusaha untuk tidak gugup.
"Andwae. Jangan menungguku... aku tidak mungkin..." ucap Changmin tertahan menarik nafas pedih.
"Kamu pasti segera sembuh, nak. Kita akan pesta besar - besaran, araseo??" potong Mr.Yeon getir, menghibur dirinya sendiri.
"Aaagh... hyeong~a," Changmin berusaha duduk, Mr. Yeon dengan refleks menyangga punggung Changmin dengan tangannya, untuk membantu puteranya bangkit.
"Ne?" tanya Jung Hoon mendekat.
"Hyeong~a," Changmin meraih telapak tangan Jung Hoon, "Nuna~do," meraih telapak tangan Ga In.
"N... ne?" Ga In masih gugup.
"Maukah kalian berjanji untukku?" Changmin menyatukan telapak tangan hyeong dengan nunanya.
"Janji apa?" Jung Hoon mengernyitkan dahi.
"Berjanjilah, kalian akan segera menikah dan berbahagia. Janji hyeong?" Changmin menatap Jung Hoon dengan memelas.
"Tentu," senyum Jung Hoon haru.
"Nuna??" Changmin melirik Ga In.
"Te.. tentu Minnie~ya," jawab Ga In berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Appa, sudikah appa berjanji untukku?" Changmin menatap Mr.Yeon.
"Ne?" pria itu tersadar dari lamunannya.
"Appa berjanjilah untuk tidak bersedih... " Changmin menyodorkan jari kelingkingnya.
"Ne??" Mr.Yeon malah tertegun.
"Janji?" Changmin memberi isyarat lagi dengan jari kelingkingnya.
"Oh.. eh.. janji," Mr.Yeon mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Changmin.
"Sekarang aku lebih tenang," Changmin menghela nafas lega, lalu hendak berbaring kembali, Mr.Yeon refleks membantu merebahkannya, hatinya sudah tak tahan ingin menangis, tapi ia menahannya di depan Changmin.
Geun Yeong menitikkan air mata haru bercampur sedih, Junsu mendekapnya erat.
"Appa... hyeong, berangkatlah," tambah Changmin, "Kalian akan terlambat ke kantor."
"Tidak apa - apa, toh itu perusahaan kita sendiri," ucap Mr Yeon.
"Appa, hyeong, dan nuna, berangkat saja ke kantor," usir Changmin.
"Kami ingin menemanimu dulu di sini," jawab Jung Hoon.
"Tapi aku mau istirahat. Kalau kalian pandangi terus, bagaimana aku bisa istirahat?" Changmin merajuk manja.
"Baiklah... baiklah... kami berangkat dulu."
Akhirnya mereka bertiga berangkat, tinggal Changmin bersama kelima sahabatnya. Geun Yeong kembali menghampiri ranjang Changmin, diikuti Junsu, Yoochun, Jaejoong dan Yunho.
"Kalian juga," Changmin menatap keempat cowok yang mendekat.
"Wae??" tanya keempat sahabatnya kompak.
"Kalian pulang dulu sana! Mandi dulu! You guys so stinky!" Changmin pura - pura galak.
"Kyaaa!" protes mereka kompak.
"Neo~do," Changmin menatap Geu Yeong.
"Na??" Geun Yeong menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu juga pulang dulu!"
"Andwae! Aku mau di sini! Mereka saja yang pulang," Geu Yeong menunjuk keempat cowok yang masih berdiri di depan ranjang Changmin.
"Geure, kita pulang," ucap Yunho langsung menarik ketiga sahabatnya keluar.
"Tunggu!" panggil Changmin.
"Ne?" mereka menoleh kompak.
"Gomawo," senyum Changmin. Dibalas senyuman oleh keempat sahabatnya. Mereka berempat keluar, tapi tidak pulang melainkan duduk di sofa tunggu di samping kamar itu. Mereka sadar benar kalau Changmin pura - pura kuat dan ceria. Mereka tidak ingin meninggalkannya di rumah sakit itu.
Tinggal Geun Yeong duduk di samping ranjang Changmin.
"Geun Yeong~a... , gomawo..."
"Ne?"
"Mianhae, bila aku menyakiti hatimu."
"Ne??"
"Aku tahu kamu mencintaiku lebih dari sahabat. Tapi aku tak bisa..."
"Araseo, gwaenchana."
"Boleh aku memelukmu?"
Geun Yeong mengangguk lalu mendekatkan dirinya sambil membantu Changmin duduk.
"Gomawo telah menyembunyikan rahasiaku... aibku... mianhae bila itu membebanimu," Changmin mendekap gadis itu erat.
"Gwaenchana, aku rela melakukannya."
"Mianhae, karena aku terlambat menyadarinya..."
"Ne??"
"Geun Yeong~a, saranghae... "
"Ne??"
"Mianhae,"
"Ne??"
"Anio," Changmin melepaskan dekapannya, "Aku ngantuk sekali."
"Kalau begitu, tidurlah," Geun Yeong membantu Changmin merebahkan punggungnya di kasur rumah sakit itu.
"Geun Yeong~a," Changmin tersenyum menatapnya.
"Ne?" Geun Yeong membelai kepala Changmin.
"Gomawo," bisik Changmin lagi. Matanya yang sudah lelah, semakin mengantuk. Perlahan ia memejamkan mata, bibirnya masih menyunggingkan senyum.
Geun Yeong tersenyum memandang wajah tenang sahabat yang dicintainya, ia terus memandangi wajah yang agak pucat itu, tertidur manis seperti bayi, "My Min, my babe, saranghae..." bisiknya sambil mengecup bibir 'sleeping baby' itu. Lalu ia duduk kembali di kursi semula, tapi tangannya tak lepas mengganggam telapak tangan Changmin. Ia menaikkan selimut Changmin sampai sebatas dada pria itu.
"Saranghae," bisik Geun Yeong merebahkan kepalanya dekat paha Changmin, masih menggenggam jemari tangan kanannya, masih tak melepaskan pandangannya dari wajah bayi yang tertidur damai itu, namun perlahan matanya pun terasa berat hingga ia ikut tertidur.
Tanpa Geun Yeong sadari, bulir - bulir bening meluncur dari kedua sudut mata Changmin, wajahnya semakin pucat, jemarinya semakin dingin, sampai akhirnya bunyi monitor di samping tempat tidurnya menjerit panjang, NUUUUUUUUUUUUT!


*The End*

[Fanfic 2 Shoot] 사랑하니까… 미안해 Saranghanikka... Mianhae



FF Title            :     [사랑하니까미안해] Sorry, Cause I Love You
Chapter            :     1
Genre               :     Romance, Angst                                 
Character        :     Changmin, Geun Yeong, Ga In, Jung Hoon, Da Hae, Junsu, Yunho, Jaejoong, Yoochun.    
Author              :     아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)
Desclaimer      :     I don't own the characters,they are humans who had the human right. But, the story is mine.
Summary         :     When love became the guilty feeling,

WARNING!!!  Buat cassiopeia terutama Min's lover, sebelum baca FF ini, amit - amit dulu. Ini cuma sebuah cerita... I Love You, Minnie ♥.♥ *diusir Junsu*           

FF  ini  terinspirasi  dari  kenangan  tentang  seorang  sahabat....



Geun Yeong menyeret koper kecilnya menuju lobi bandara Incheon. Matanya terus mencari kalau - kalau orang yang menjemputnya berada di antara hiruk pikuk bandara yang agak ramai karena orang - orang banyak yang hendak berlibur ke luar negeri atau sekedar ke luar provinsi. Saat itu memang awal liburan musim panas. Ia pulang ke Seoul, juga untuk menghabiskan liburan musim panas bersama sahabat kecilnya.
Sejak SD sampai SMP ia selalu satu sekolahan dengan sahabatnya itu di Seoul, rumah orang tua mereka juga berdekatan. Tapi karena ayahnya yang bekerja di kedutaan dipindahtugaskan ke Jepang, mau tak mau Geun Yeong ikut pindah ke Jepang.
Walau jarak Jepang - Korea tidak begitu jauh, tapi ia kangen rasanya bila lama tak bercengkrama dengan sahabatnya itu, sahabat yang diam - diam membuatnya jatuh cinta. Jadi setiap bulan atau libur sekolah, ia pasti pulang ke Seoul, ayahnya memberikan sebuah apartemen yang gedungnya bersebelahan dengan apartemen kakak sahabatnya itu. Dia tinggal bersama kakaknya dengan alasan lebih dekat ke kampus. Ya, mereka berdua sekarang sudah kuliah menginjak semester tiga di kampusnya masing - masing.
"Aish, ke mana sih tu orang? Kalau dia tidak bilang mau ngejemput dari awal, aku kan bisa langsung pulang sendiri naik taxi. Gak usah nyari – nyari kayak gini!!" mulut gadis imut itu terus mengomel. Sesekali ia melihat jam tangannya, beberapa menit ia duduk - berdiri gelisah menunggu seseorang yang ia kira akan menyambutnya di gerbang kedatangan tadi.
"Geun Yeong~a... Geun Yeong~aaaaa!" seorang cowok jangkung datang setengah berlari dari arah pintu gerbang bandara sambil melambaikan tangan dan berteriak memanggilnya dengan suara khas yang tinggi, membuat beberapa pasang mata di situ menoleh padanya.
"Aish! Udah bikin bete nungguin, sekarang malah teriak - teriak kayak Tarzan, bikin malu aja!" gerutunya, sebelum cowok jangkung itu 'menangkap' dan mendekapnya tiba - tiba.
"Geun Yeong~a...., I miss youuuuuuu," ucap pria itu mendekapnya erat.
"Kya... Changminnie, jangan gini. Uuugh... aaaah, aku gak bisa nafas nich!" balas Geun Yeong.
"He... he...., mian. Abis aku kangen banget ama kamu." Changmin melepaskan dekapannya dan giliran mengacak rambut gadis itu pelan.
"Kyaaaa.... kau, jangan gini dong, malu! Emangnya aku anak kecil?!" sungut Geun Yeong.
"Kaja," tangan kanan Changmin merebut koper Geun Yeong dan tangan kirinya melingkar di pundak gadis itu, mengajaknya ke tempat parkir.
*****
"Ke mana aja sich?! Aku nunggu sampai bulukan tau?!" gerutu Geun Yeong, melirik Changmin yang ada di belakang kemudi, "Tampangmu berantakan banget sih, pasti belum mandi yaaah?" Geun Yeong memandang sahabatnya, rambutnya masih acak - acakan seperti belum disisir.
"Biar berantakan tapi tetap ganteng kaaaan?!" Changmin melirik sekilas, nyengir narsis sambil menaik - turunkan alisnya.
"Cish!" cibir Geun Yeong, melirik Changmin yang masih fokus mengemudi, "Bagaimana Junsu oppa, Yun oppa, Jae oppa dan Chun oppa? Apakah sering bertemu mereka?" Geun Yeong menanyakan keempat sahabat mereka semasa SMP yang kini sudah berpencar - pencar karena kuliah di kampus yang berbeda.
"Oh, jarang," jawab Changmin singkat. Entah kenapa, sahabatnya itu tampak lebih pendiam dari sebelumnya. Biasanya kalau ia pulang ke Seoul, sepanjang jalan terus mengoceh sambil mengemudi, ada saja yang dia bicarakan.
"Aku lapar nich! Kita mampir ke restoran biasa dulu yah? Aku kangen banget masakan Korea di situ," sambung Geun Yeong, memecahkan keheningan di mobil itu.
Changmin masih tampak 'fokus' menatap jalan di depannya. Tapi pikirannya mengembara ke mana - mana. Ia tak menyadari apa yang Geun Yeong ucapkan, restoran yang dimaksud sahabatnya terlewat begitu saja, mereka sudah hampir memasuki kawasan di mana apartemen mereka berada. Restoran itu memang tak jauh, hanya 500 meretan dari apartemen mereka.
"Gyaaaa! Changmin~aaaaa! Kita udah lewat nich!" Geun Yeong mulai meneriaki Changmin yang sejak tadi asyik sendiri dengan 'dunia'nya.
"Oh, eh... Lewat ke mana??" Changmin agak kaget dengan teriakan sahabatnya.
"Aiiish, ada apa sih denganmu?? Biasanya begitu mendengar kata 'makan' dan 'restoran' pasti langsung konek!"
"Kenapa? Kamu mau makan?"
"Oh Mai Got! Baru nyambung, cape deeeeeh!"
"Kamu mau makan di mana?"
"Di restoran biasa!" bentak Geun Yeong kesal.
"O.K. bos. Kita putar balik di depan."
Geun Yeong hanya bisa menarik nafas kesal, sudah dibuat nunggu lama, sekarang capek ngoceh malah dicuekin.
Seampainya di restoran pun, Changmin masih tampak asyik dengan lamunannya, ia tak lagi antusias memesan semua menu favouritnya. Ia hanya menuruti apa yang dipesan Geun Yeong.
"Minnie, ada apa sich denganmu hari ini?? Aneh banget!"
Changmin menatap hidangan di depannya dengan pikiran yang masih mengembara ke mana - mana.
"Kyaaa...! Shim Changmiiiiin?!"
"Oh.. eh... Wae?" lagi - lagi Chang Min kaget.
"Kamu kenapa aneh banget?"
"Aneh gimana?" Changmin berlagak menikmati makanannya.
"Ya nggak biasanya aja. Sejak kapan kamu jadi hobi bengong??  Kamu lagi mikirin apa sich? Cerita dong, mumpung aku ada di sini?"
"A... amugeotdo anya," Changmin tersenyum kecil.
"Kamu juga tampak kurus sekarang. Kamu sakit?"
"Enggaaaak... "
"Oh... come on! Cerita dong," tukas Geun Yeong sambil mengunyah bulgoginya.
"Gak apa - apa kok. I'm okay."
"By the way, bulan ini Jung Hoon oppa udah selesai 'wamil' kan?"
"Okho... okho!!" Changmin tiba - tiba terbatuk - batuk mendengar kata - kata Geun Yeong.
"Nih, minum dulu. Makanya jangan bengong terus," Geun Yeong menyodorkan air putih. Ia mengernyit melihat tingkah sahabatnya agak aneh.
"Eh, ne. Rabu ini hyeong pulang," jawab Changmin setelah mereguk air minumnya, kemudian ia terhanyut lagi dengan lamunannya.
"Ekspressimu kok gitu sich? Kayaknya kamu gak suka oppa pulang," tatap Geun Yeong penuh selidik.
"Eiiiih, tentu saja aku senang setelah hampir tiga tahun ditinggal sendiri di apartemennya," Changmin nyegir agak gugup.
"Lalu kenapa kamu tampak gak semangat gitu??"
"Mmmmh, enggaaaaak... hanya sedang pusing aja mikirin tugas kuliah yang menumpuk..." Changmin ngeles asal, "Ya... tugas kuliah," tegasnya masih menyembunyikan kegugupan..
"Jangan bohooong! Ini kan masa liburan. Lagipula kamu cukup cerdas untuk dipusingkan dengan tugas kuliah."
Changmin tak menyangkal lagi, ia tahu Geun Yeong sudah hapal gerak - geriknya.
"Geure... mmmmh.... Najunghae." Changmin masih ragu untuk membuka mulutnya.
"Ya udah deeeh, nanti aja ceritanya di rumah," ujar Geun Yeong, "Mmmmhh, kalau oppa pulang berarti sebentar lagi akan ada pernikahan dong. Oya, calon pengantinnya, Ga In eonni gimana kabarnya?"
"Okho... okho!!!" Changmin terbatuk - batuk lagi, segera meneguk air minumnya lagi.
Geun Yeong tahu itu bukan batuk biasa, tapi batuk keselek karena kaget. Ia mulai menatap sahabatnya penuh selidik.
"W... waeyo??" Changmin tambah gugup ditatap begitu rupa.
"Tingkahmu hari ini, aneh banget sih? Jangan - jangan.... " Geun Yeong mulai berfikir, "Kamu.... kamu masih diam - diam mencintai eonni?"
Changmin tak menjawab, ia menghentikan suapannya. Ia kini menunduk, menatap sisa makanan di hadapannya, tatapan kosong.
"Jadi benar??" Geun Yeong menghela nafas, hatinya terasa perih lagi. Ia sebenarnya sangat mencintai sahabatnya itu. Ia sebenarnya ingin lebih dari sahabat, meskipun dengan bersahabat pun hubungan mereka sudah dekat. Tapi Changmin diam - diam jatuh cinta pada Han Ga In, tunangan kakak tirinya. Ia lebih mencintai perempuan yang lebih dewasa, ketimbang dirinya yang beberapa bulan lebih muda.
Tak ada kata - kata lagi yang terucap dari keduanya, mereka diam tak bicara sampai tiba di depan pintu apartemen Geun Yeong.
"Istirahatlah, Geun Yeong~a. Kamu mungkin capek di perjalanan tadi. Aku pulang dulu. Kalau ada apa - apa, kamu tahu di mana aku."
"Gak masuk dulu?"
"Nanti saja aku ke sini lagi. Pulang ya? Annyeong," Changmin berbalik, meninggalkan Geun Yeong yang menatap punggungnya sampai menghilang di balik lorong apartemen.
*****
Changmin melangkah gontai masuk ke apartemen hyeong-nya yang sudah 4 tahun terakhir ia ikut tinggal di sana karena SMA dan Universitas tempatnya belajar lebih dekat ke sana daripada ke rumahnya. Lagipila, sejak eomma kandungnya meninggal 5 tahun yang lalu, hyeongnya tidak tega meninggalkannya di rumah, oppanya selalu menyibukkan diri di kantor.
Ayah kandung Changmin yang seorang kapten kapal pesiar, meninggal dalam kecelakaan saat ia masih berumur 3 tahun. Lalu ibunya bekerja sebagai sekretaris di perusahaan YJS corp. milik ayah kandung Jung Hoon yang juga sudah tidak memiliki ibu kandung karena meninggal waktu melahirkan dia. Saat Changmin berusia 5 tahun dan Jung Hoon berusia 15 tahun, Mrs. Shim dan Mr. Yeon yang sama - sama single parent, akhirnya menikah.
Walaupun Jung Hoon bukan kakak kandungnya dan usianya juga terpaut 10 tahun, tapi mereka lebih dekat dari saudara kandung sekalipun. Jung Hoon selalu menyayangi dan melindungi Changmin, sebagaimana ibu kandungnya juga menyayanginya tanpa membeda - bedakan.
Mr. Yeon juga menyayangi Changmin dan eommanya. Tapi sejak eommanya meninggal, pria itu begitu terpukul dan mulai menyibukkan diri di kantor, jarang pulang ke rumah yang menyimpan banyak kenangan. Mr. Yeon lebih suka pulang ke apartemen yang ia beli di dekat kantornya.
"Kok lama ngejemputnya?" sapa seorang yeoja yang sedang merapikan penampilannya di depan cermin di dalam kamar Changmin.
"Mmmh, aku nganter dia ke restoran dulu."
"Yaah, padahal aku sudah menyiapkan sarapan kesukaan kamu."
"Ooh, buat makan siang aja nanti," sahut Changmin sambil berlalu ke kamar mandi.
Setelah mandi dan ganti baju, Changmin melangkah ke living room, disambut senyuman manis yeoja yang sedang duduk santai di sofa. Changmin duduk di sampingnya.
"Nggak mandi pun, kamu tetap tampan kok," yeoja itu meraih kedua pundak Chanmin agar berhadap - hadapan dengannya, "Saranghae," sebuah kecupan lembut mendarat di bibir tipis Changmin yang tak merespon.
"Mmmh, Ga In~a.... lusa oppa pulang," ujar Changmin sambil menurunkan tangan Ga In dari bahunya, seakan ingin mengingatkannya.
"Ne," jawab Ga In datar.
"Kok ekspresimu datar gitu? Apa tidak ada kekhawatiran sedikitpun?" tanya Changmin agak heran dengan tanggapan yeoja yang lebih tua 4 tahun itu.
"Mungkin saatnya kita menjelaskan segalanya."
"Andwae!!"
"Waeyo?"
"Aku tak mau melukai perasaannya."
"Tapi aku lebih mencintaimu, Minnie."
"Tapi kalian sudah berjanji akan menikah begitu hyeong selesai wamil," Changmin menghela nafas, "Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan hyeong kalau tahu calon isterinya 'berselingkuh' dengan adiknya sendiri. Seharusnya aku pendam perasaanku seperti dulu... Sekarang... sekarang aku jadi pengkhianat! Mengkhianati hyeong~ku sendiri. Pabo!!" Changmin menutupi muka dengan kedua telapak tangannya, menunduk sambil berusaha menahan air mata penyesalan.
"Minnie~ya, tapi aku juga mencintaimu... " bisik Ga In bimbang.
"Andwae!! Semua hal gila ini harus berakhir! Kau harus tetap menikah dengan hyeong!"
"Lalu bagaimana dengan kita??"
"Kita?? Tidak ada kita, dari awal seharusnya kita sadar ini sebuah kesalahan besar."
"Salahkah kalau kita saling mencintai??"
"Tapi kau sudah milik hyeong."
"Aku belum jadi milik siapa - siapa."
"Kau sudah bertunangan dengannya."
"Kami belum menikah," sanggah Ga In, "Minnie~ya, aku yakin oppa mau mengerti kalau kita menjelaskan segalanya."
"Andwae!! Lalu di mana cinta kalian selama ini?? Apa kau mau bilang, 'I don't love you anymore, I've fallin' love with your own brother??' Dia begitu mencintaimu, dia setia menunggu, menjalani wamil dulu sebelum menikahimu."
"Tidak, dia tidak sesetia itu. Dia juga sudah berselingkuh dengan Da Hae, mantan pacarnya."
"Jadi aku hanya jadi alat pembalasan saja?!"
"Tidak Minnie, aku juga mencintaimu."
"Juga mencintai hyeong-ku?!"
"Minnie~ya..." Ga In mencoba menarik telapak tangan Changmin yang masih membenamkan mukanya.
"Sudahlah, kita kubur sendiri semua ini. Jangan pernah katakan sedikitpun pada hyeong. Kita... kita anggap semua tidak pernah terjadi."
"Lalu semalam itu juga harus dilupakan begitu saja? Minnie~ya, aku baru pertama melakukan itu... bahkan dengan oppa sekalipun... kamulah yang pertama."
"Itu hanya kehilapan kita saja. Ga In~a, aku tahu sebenarnya kau masih mencintai hyeong. Kau hanya sedang kesepian ditinggal hyeong, kau hanya melihat hyeong dalam diriku," ucap Changmin parau.
"Minnie~ya."
"Sudahlah! Aku bilang kita harus akhiri semua hal gila ini!" nada bicara Changmin meninggi, seiring kepedihan yang ia rasakan, harus berbicara agak kasar pada yeoja yang ia cintai itu. Tapi bayangan hyeongnya terus menari - nari di benaknya.
...
"Ga In~ah, tolong jaga adikku selama aku di camp pelatihan, ya?" Jung Hoon mengecup lembut pelipis Ga In sebelum ia melangkah masuk ke gerbang camp pelatihan.
"Ne, oppa. Aku akan jaga adikmu," bisik Ga In.
"Changmin~a, kau juga harus janji," Jung Hoon menoleh setelah agak jauh dari kedua orang yang disayanginya, "Jaga juga nunamu untukku."
"Of course, hyeong!" sahut Changmin setengah teriak.
"Jangan sampai dia selingkuh dengan lelaki laiiiiin," canda Jung Hoon.
"Ne??" tanya Changmin pura - pura tak mendengar, sambil melirik jail pada Ga In.
"Jangan sampai nunamu selingkuh dengan lelaki laiiiiiiiin!" Jung Hoon agak teriak dengan senyum menggoda.
"Tentu hyeooong! Tak kan kubiarkan nuna melirik lelaki laiiiiin," sahut Changmin kembali.
Muka Ga In merona dan pura - pura cemberut karena digodain kedua kakak beradik itu.
"Gomawoooo..." teriak Jung Hoon sekali lagi, sebelum ia membalikkan punggung, masuk ke gerbang itu.
...



"Minnie~ya," isak Ga In, "Mianhae. Tapi aku juga mencintaimu."
"Pulanglah!" tegas Changmin getir.
"Minnie~ya," bisik Ga In lirih.
Changmin tak berkata lagi, ia kembali membenamkan wajah di balik telapak tangannya. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan air mata.
Ga In juga tak banyak berkata lagi melihat Changmin seperti itu, ia sudah tidak dapat mengeluarkan apologi apapun lagi. Di satu sisi, hatinya membenarkan perkataan pria muda itu, ia memang kesepian selama ditinggal Jung Hoon wamil, selama itulah Changmin mulai mengisi hari - hari sepinya, terlebih lagi setelah 'calon adik ipar'nya itu menyatakan asanya. Namun di sisi lain, ia juga mulai jatuh cinta pada Changmin, hari - harinya jadi lebih berwarna. Adapun dengan Jung Hoon yang lebih dewasa, rasanya agak lebih monoton karena Jung Hoon jarang memberi perhatian - perhatian kecil dan romantisme seperti Changmin.
"Annyeong," ucap Ga In hampir tak terdengar setelah mengambil tas tangannya, lalu membuka pintu keluar apartemen itu dengan lesu.
"Eonni?!" sapa Geun Yeong agak kaget, ia baru saja akan menekan bel.
"Oh... eh, Geun Yeong~aaa?" sapa Ha In tak kalah kaget, ia tak menyangka Geun Yeong berdiri tepat di depan pintu.
"Eorinmanhiyeyo, eonni. Pogoshipho," Geun Yeong meraih pundak Ga In ke dalam pelukannya, "Eonni, how are you?"
"I'm... I'm fine, Geun Yeong~a," Ha In masih gugup.
"Eonni mau kemana?" Geun Yeong melepaskan pelukannya.
"Oh, eonni mau pulang. Mmmh, habis menengok Changmin," mengembangkan senyum sebisanya, "Geureom, annyeong," Ha In segera pamit meninggalkan Geun Yeong yang terpaku di depan pintu.
Geun Yeong menatap kepegian yeoja itu penuh penasaran. Hatinya bertanya - tanya melihat mata yeoja itu agak sembab, sepertinya habis menangis. Karena pintunya sudah dibuka oleh Ha In tadi, Geun Yeong melangkah masuk setelah menutupnya kembali.
Changmin masih membenamkan muka di balik telapak tangannya yang mulai basah oleh cairan hangat yang keluar dari sudut matanya. Ia kira Ha In sudah pergi dan tak ada seorang pun lagi yang menemaninya di sana. Ia tak menyadari Ga In yang menghampirinya. Ia baru sadar setelah merasa sofa agak bergoyang karena seseorang duduk di sampingnya.
"Geun Yeong~a??" Changmin agak kaget dan buru - buru menyeka air matanya.
"W... waeyo??" tanya Geun Yeong semakin penasaran, "Nega ureoyo??"
"Eh... a... anio. Cuma kelilipan... ya, kelilipan," Changmin ngeles.
"Pabo~ya. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Apa ada hubungannya dengan Ga In eonni? Tadi kupergoki dia keluar dari sini dengan mata yang sembab. Ada apa? Kamu bertengkar dengan eonni? Apa masalahnya?" Geun Yeong memberondongnya dengan pertanyaan.
Changmin tak menjawab, beberapa detik kemudian ia meraih bahu Geun Yeong, mendekapnya dengan tetesan air mata di pundak gadis itu.
"Waeyo, Changmin~a??" Geun Yeong tambah bingung, ia mengelus rambut sahabat tercintanya dengan lembut.
Beberapa saat, Changmin masih terisak di dekapan Geun Yeong, "Jega... jega jeongmal jal motdoeseo. Aku pengkhianat!"
"Maksudmu apa, Minnie? Berkhianat pada siapa?"
"Aku... aku mengkhianati hyeong."
"Maksudmu??" Geun Yeong melepaskan dekapan Changmin, menatap mata sahabatnya itu.
"Aku berselingkuh dengan nuna...." Changmin tercekat, bahunya kembali berguncang, "Hyeong sekalipun bahkan tidak ingin menodai wanita yang dicintainya sebelum resmi menikah, tapi aku... aku malah mendahuluinya..."
"Mworaguyo??!" Geun Yeong terkejut, "Kalian melakukannya?!" ia agak berteriak, hatinya perih... 'Kenapa?? Sedalam itukah cintamu pada eonni? Sampai lupa kalau dia tunangan kakakmu sendiri??' hatinya lebih menjerit.
Changmin mengangguk sambil terisak dalam, ia menaikkan kakinya, tangannya dilingkarkan pada lututnya dan membenamkan wajahnya, bahunya semakin berguncang.
"Lalu bagaimana dengan oppa? Bagaimana reaksinya kalau dia tahu dikhianati adik yang sangat disayanginya?! Kenapa kau berbuat bodoh, Changmin~a? Apakah cinta sudah benar - benar membutakanmu??" Geun Yeong menghela nafas kecewa.
"Ara... ara... jega pabo~ya! Jega michyeosso!" Changmin mengutuki dirinya sendiri.
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Kami sudah putus, aku berharap dia tetap akan menikah dengan hyeong... Aku akan pergi dari kehidupan mereka. Geun Yeong~a, tolong jangan bilang pada hyeong, dia akan sangat terluka. Lagipula, Ga In sangat mencintainya, ia hanya kesepian waktu bersamaku."
Geun Yeong diam, hanya menatap cowok di hadapannya tanpa ekspressi. 'Tentu saja aku tak kan bilang pada oppa, aku ingin melindungimu... Minnie~ya, kenapa kau bodoh?! Kenapa kau bodoh mencintai wanita yang menjadi milik kakakmu, padahal ada aku yang begitu mencintaimu?? Kenapa kau tidak sedikitpun tersentuh dengan perhatianku, kasih sayangku?? AKU  MENCINTAIMU  CHANGMIN ~AAAA!!' hatinya berteriak.
"Tolong ya? Jaga rahasia ini??" Changmin memohon, memegang bahu Geun Yeong, menatapnya penuh harap. Geun Yeong masih menatapnya tanpa ekspressi.
"Hkkkh... " tiba - tiba Changmin melepaskan tangan dari bahu Geun Yeong, lalu memegangi dada kirinya, nafasnya tersengal - sengal, mukanya berubah memucat.
"W... waeyo Changmin~a? Nega gwaenchana?" tanya Geun  Yeong khawatir, belum pernah melihat sahabatnya seperti itu.
Changmin mengangguk, tapi masih terengah - engah memegang dada kirinya. Lalu ia berlari ke kamarnya, entah apa yang akan dilakukannya. Geun Yeong ingin mengikutinya, tapi entah mengapa ia malah terpaku di sofa itu dengan pikiran yang kusut penuh tanda tanya.
Tapi akhirnya ia bangkit dan melangkah menuju kamar Changmin, "Changmin~a, nega gwaenchanayo?? Boleh aku masuk?"
Mendengar panggilan di pintu, Changmin yang baru saja meneguk air putih, segera menyembunyikan botol berisi tablet - tablet kecil ke dalam saku celananya.
"Ne, masuklah. Jega gwaenchana," sahut Changmin dengan nafas yang masih kepayahan.
Pintu kamar terbuka, "Changmin~a, nega jeongmal gwaenchana?" Geun Yeong ikut duduk di pinggir tempat tidur, memengangi pipi Changmin yang agak tirus dengan kedua telapak tangannya, lembut. "Nega aphayo? Badanmu agak panas," menempelkan punggung telapak tangan kanannya di dahi Changmin.
"Ania, gwaenchanayo. Aku nggak apa - apa," Changmin menggeleng, "Aku cuma agak tak enak badan, chogeum."
"Ya sudah, kamu istirahat saja." Geun Yeong memegang bahu Changmin dan perlahan mendorongnya untuk berbaring di tempat tidur, menyelimutinya. Mata Changmin sudah nampak lelah, akhirnya ia pun tertidur dengan belaian tangan lembut Geun Yeong di rambut hitamnya.
Geun Yeong menatap wajah tirus pria yang dicintainya dengan penuh iba. Mengasihani sahabatnya sekaligus mengasihani dirinya sendiri yang sama - sama harus memendam perasaan cinta. Lalu ia melangkah keluar dari kamar itu. Menempelkan pesan kecil di pintu kamarnya, 'Changmin~a, aku pulang dulu ya? Kamu istirahatlah. Kalau ada perlu, hubungi saja. Aku akan secepat kilat datang ke sini. O.K?'



*****
RISING SUUUUUUN! ponsel Geun Yeong berteriak - teriak, namun matanya enggan melek. RISING SUUUUUN!! ponselnya terus berteriak, padahal matahari belum bersinar. Tangannya meraba - raba meja kecil di samping tempat tidurnya. Setelah mendapatkannya, ia menempelkan benda itu ke dekat telinganya dengan mata yang masih terpejam.
"Yoboseyoooo?"
"Geun Yeong~aaaaa." suara Changmin di seberang sana.
"Ne, Changmin~a, waeyooooo?" kelopak matanya masih terasa lengket.
"Geun Yeong~aaaaaa, hikz!" panggil Changmin lagi diiringi suara cegukan.
"Kyaaa.... Changmin~aaaaa?? Kau mabuk?" Geun Yeong langsung bangkit duduk, ia melirik jam di meja, masih jam 3 dini hari. Ia khawatir mendengar Changmin yang terdengar seperti sedang mabuk, ia tahu benar kalau namja itu gak kuat minum alkohol.
"Akuuuu.... hikz! Aku mabuk cinta... hikz! Mabuk Ga In, ne yeppeun nunaaaa... hikz!" racau Changmin, "Aku hanya jadi pelarian kesepiannya saja.... hikz! Aku kira dia mencintaiku... hikz! Hua... ha... ha... ini hukuman buat pengkhianat... Changmin pengkhianat... kau lebih pantas mati... mati oleh cinta yang kejam itu... hikz!"
"Changmin~aaa? Odie?"
"Hikz! Aku tak punya muka bertemu hyeong... hyeong yang bodoh! Menitipkan nuna yang cantik padaku... hikz! Aku malu bertemu si bodoh itu besok... hikz!"
"Changmin~aaaa?! Jigeum odie?! Malhae!!" Geun Yeong berteriak - teriak panik, tapi tak dijawab. Sambungan telepon malah diputus seenaknya dari seberang sana.
"Aish! Percuma saja nanya sama orang mabuk! Lebih baik aku mencarinya. Tapi ke mana??" Geun Yeong mengacak rambutnya, kehilangan ide. Tiba - tiba ia ingat sesuatu dan langsung mengenakan jacket melapisi piyama yang dipakainya, mengambil kunci mobil dan turun ke tempat parkir.
Mobil Geun Yeong segera melaju ke tempat yang biasanya Changmin datangi ketika sedih atau pusing. Sebuah taman kota di tepi sungai Han. Tapi di sana ia tak menemukan tanda - tanda Changmin. Ia memutuskan untuk berputar balik, mungkin Changmin tadi menelpon dari apartemennya. Ia hanya terlalu khawatir, sampai mencari ke tempat itu.
Mobilnya berbalik lagi ke jalan semula, beberapa ratus meter dari taman itu, masih ada orang yang berkerumun di pinggir jalan. 'Ada apa sih pagi - pagi sudah rame begitu, tumben?'
"Jeoseonghamnida, ahjeomma. Ada apa ya? Kok sepagi ini sudah rame?" tanya Geun Yeong mendongakkan kepalanya ke luar jendela mobil, bertanya pada seorang ibu - ibu yang mulai bubar dari kerumunan itu.
"Oh, itu... ada seorang pemuda nyetir mobil sambil mabuk, jadi nabrak pohon! Kasihan, masih muda, tampan pula," jawab bibi itu.
"Oooo," bibir Geun Yeong membentuk huruf 'O'.
'Tunggu! Pemuda tampan? Masih muda?' teriak hatinya kaget. Geun Yeong tiba - tiba keluar dari mobilnya, berlari ke tempat kerumunan tadi.
"Changmin~aaa?!" teriaknya melihat mobil sedan putih yang depannya sudah penyok, melihat darah bercereran di belakang kemudinya.
"Kamu kenal pemuda itu, agassi?" tanya seorang bapak - bapa yang ikut berkerumun.
"Ne, ahjeossi. Orangnya di bawa ke mana??" tanya Geun Yeong panik.
"Mungkin ke rumah sakit ter..."
Geun Yeong segera kembali ke mobilnya tanpa mendengarkan penjelasan orang itu. Mobilnya segera berlari ke rumah sakit yang terdekat dari tempat itu.
*****
"Keluarga dari Shim Chang Min ssi?" seorang dokter bedah yang baru saja keluar dari ruang operasi menghampiri Geun Yeong dan Mr. Yeon yang menunggu di luar. Jung Hoon masih dalam perjalanan dari camp wamil.
"Ne, saya Yeon Jung Soo. Bagaimana putera saya, dokter?" tanya Mr. Yeon.
Dokter itu mengernyitkan dahi sekilas, mendengar marganya yang berbeda dengan pasien yang dimaksud, "Begini tuan, luka putera anda akibat kecelakaan itu tidak begitu parah, ia juga dapat tertolong dari bahaya kehilangan darah. Tapi..."
"Tapi, kenapa dokter?? Malhae!"
"Tapi alkohol yang masuk ke dalam aliran darahnya, walaupun tidak begitu banyak, sudah memperparah kondisi jantungnya."
"Mwo? Jantung? Maksud dokter?"
"Lho? Anda tidak mengetahuinya? Di saku jaket pasien kami temukan sebuah botol obat, obat yang biasa dipakai untuk meredakan sakit jantung. Nampaknya putera anda menderita penyakit jantung bawaan."
"Mw... mwo?? Pe... penyakit jantung bawaan??" wajah Mr. Yeon berubah pucat, ia teringat kembali pada isterinya (ibu kandung Changmin) yang meninggal karena penyakit jantung, "Ba... bagaimana bisa?? Selama ini putera saya sehat - sehat saja, tidak pernah mengeluh sakit. Sejak kapan ia sakit?"
"Masalah itu, saya tidak bisa memastikan, yang tahu hanya pasien dan dokter yang pertama mendiagnosanya. Tapi berdasarkan pengetahuan saya, penyakit ini tidak akan terasa bila keadaan fisik maupun psikis pasien bagus. Daya tahan kedua aspek tersebut, dapat membuat pasien seperti itu, hidup sehat seperti orang normal lainnya. Tapi nampaknya penyakit putera anda sudah memburuk agak lama. Kami akan coba mencari tahu dokter yang merawat putera anda sebelumnya."
"Tolonglah dokter, berusahalah untuk menyembuhkannya. Apakah tidak ada cara untuk menolongnya?? Saya akan melakukan apapun, berapapun biayanya, asalkan putera saya sembuh. Atau bila perlu dibawa ke Amerika, asal dia sembuh,"
"Saya mengerti Yeon ssi, tapi di Amerika sekalipun, tidak akan banyak membantu kondisi putera anda. Tapi kami akan selalu berusaha. Mmmh, sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya."
"Jeoseonghaeyo, euisanim," sela Geun Yeon saat dokter itu akan berbalik menuju ruangannya, "Bo... boleh saya melihatnya?"
Dokter itu melirik pada Mr. Yeon, seolah bertanya, 'Apakah ia anggota keluarga juga?' Lalu dibalas dengan anggukan Mr. Yeon, "Nanti setelah dipindahkan ke ruang ICU, ya? Mari Yeon ssi," dokter itu melangkah pergi diikuti Mr. Yeon.
***to be continued…***