Wednesday, July 28, 2010

Fan Fic TVXQ : You Are My Everything Part.20


FanFic Title   : You Are My Everything
Chapter         :  20
Genre            :  Romance, Friendship
Main Cast   :  Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author           :  아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

Sejak mereka berdua tertangkap kamera papparazi di Bandara Seokarno Hatta, kami benar - benar kehilangan kontak dengan Yunho dan Changmin. Nomor ponsel keduanya sudah diganti tanpa sepengetahuan kami, pun mereka sudah tidak pernah menghubungi kami lagi. Kami juga pulang dari Indonesia dengan diam - diam dan lebih hati - hati, takut dikenali oleh publik, terutama papparazi. Dengan penyamaran yang tak terduga serta penerbangan yang terpisah, aku dan YooSu akhirnya dapat kembali ke Jepang tanpa diketahui publik, mungkin mereka masih mengira kalau selama ini kami memang sedang sibuk di negara matahari terbit itu.
Setelah melaksanakan semua jadual kegiatan kami di Jepang, mulai dari peluncuran mobile drama Yoochun, launching single album Junsu, syuting drama Jepang perdanaku, sampai konser kami bertiga 'JYJ', kami langsung terbang ke LA untuk rekaman album kami bertiga yang terbentuk sebagai grup 3HREE VOICES. Aneh dan sedih memang menyandang nama 'baru' itu, tapi hal ini sementara harus kami lakukan sambil menunggu HoMin kembali dan kami dapat membawa nama Dong Bang Shin Ki kembali.
Aneh dan sedih juga saat kami tampil dalam konser JYJ lalu, seakan ruh kami tidak seutuhnya tampil di sana karena separuh jiwa kami masih berada di Korea, Yunho dan Changmin. Aku dapat merasakan kesedihan cassiopeia dan bigeast yang hadir di konser itu, sedih karena tidak dapat melihat kami tampil berlima bersama mereka berdua. Di konser itu, di samping lagu terbaru Junsu, kami membawakan beberapa lagu yang akan direkam untuk album bertiga, sebagian besar lagu itu liriknya adalah tentang kerinduan dan harapan kami bertiga untuk dapat bersama kembali, berlima dengan HoMin, menyandang nama TVXQ. Air mata haru dan kerinduan mengiringi konser itu, betapapun berusaha kami tahan. Beruntunglah cassiopeia dan bigeast yang menyaksikan sangat mengerti keadaan kami.
Konser itu, album bertiga yang kami siapkan ini, sebenarnya diadakan demi setidaknya sedikit mengobati kerinduan cassiopeia dan bigeast yang sangat mengharapkan kami menyanyi lagi, walaupun ada dua suara yang mungkin akan terasa hilang, suara Yunho dan Changmin. Dukungan dari penggemar yang selalu menanamkan harapan bahwa suatu hari kami berlima dapat tampil dalam satu panggung lagi sebagai TVXQ, membuat kami dapat bertahan dalam menghadapi segala kemelut ini, walaupun tak sedikit penggemar band lain yang mencibir dan menertawakan cassiopeia karena harapannya yang  dianggap 'konyol dan bodoh' itu.
Oleh karena itu, walaupun hampir lelah dan putus asa, kami tidak mau menghancurkan harapan mereka yang selama ini selalu setia mendukung kami. Kami akan terus berusaha memberikan karya terbaik kami, kami akan berjuang agar suatu hari dapat membawa Yunho dan Changmin tampil berlima dalam satu panggung lagi.
Kudengar berita bahwa Yunho akan promo dramanya di Jepang, Changmin pasti ikut mendamping. Tadinya kami berharap bisa bertemu mereka, tapi sayang mereka datang setelah kami sudah terbang ke LA. Sepertinya jadual kunjungan mereka memang sudah 'diatur' agar tidak ada kesempatan bertemu kami. Begitupun jadual penampilan mereka berdua dalam konser bersama Perusahaan Entertainment itu, jadualnya tampil di LA beberapa hari setelah kami nantinya harus kembali ke Jepang.
*****
Malam ini, kami kembali ke hotel setelah menyelesaikan rekaman dua lagu hari ini. Dua lagu saja sampai seharian karena harus berulang - ulang, suara Yoochun agak kacau, Junsu kurang konsentrasi begitu juga diriku sendiri. Tapi kami tetap berusaha semangat, apalagi yang menangani kami adalah seorang produser yang terkenal kelas dunia. Kami harap ini akan menjadi jembatan untuk go internasional, seperti harapan kami dan penantian cassiopeia.
"Okho... okho!! Mmmmmh... haaaah," Yoochun menyemprotkan inhaler aerosol ke dalam mulutnya dan menarik nafas dalam serta menghembuskannya, berulang - ulang.
"Yoochunaaa, apa penyakitmu kambuh lagi? Suaramu sangat tidak stabil tadi," aku khawatir melihatnya.
"Sedikit hyeong," jawabnya di sela nafasnya yang berat.
"Sebaiknya kau berobat ke dokter dulu Yoochunaaa."
"Gwaenchana hyeong, setelah minum obat dan tidur malam ini, besok pasti sembuh. Cuman kambuhan ringan kok," Yoochun nyengir berusaha menghalau kekhawatiranku.
"Jeongmal?" tanyaku lagi.
"Jeongmalyo," jawabnya sambil tersenyum, "Hyeong juga tampak lelah, istirahatlah!"
"Ne, kamu juga cepat minum obat dan tidur!"
"Araseo eommaaaaa," ledek Yoochun di tengah nafasnya yang Senin - Kamis. Ia segera minum obat lalu tidur berselubung selimut tebal dan kali ini ACnya tidak dinyalakan dengan lembut.
Kulirik Junsu yang sudah meringkuk dilingkup selimut tebal di sampingku, ia juga tampak sangat lelah setelah rekaman seharian tadi.
HARU EUI KKETESEO EONJENA... NAN GIDARYOJWOYO... HAENGBOKHAEYO... ponselku berbunyi, kulihat foto kontak yang muncul di screenphone-nya, Yong Ha hyeooooong! Dengan girang ku sambut panggilannya.
"Yeoboseyo hyeoooong, eorenmaniyeyo. Ke mana aja hyeong?? Sibuk ya?? Hyeong lagi sibuk apa sekarang?? Dengar - dengar mau maen drama terbaru lagi ya?" aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kyaaaa, Jaejoongi. Suaramu itu bisa bikin aku budek! Satu - satu dong nanyanya!" suara sahabat sekaligus kuanggap kakak lelakiku itu tak kalah stereo.
"He... he...., mianhae hyeong. Abis kita udah lama gak ketemu, hyeong gak pernah nelpon lagi, sibuk banget ya?" tanyaku antusias.
"Adik yang gak tahu diri, kamu tuh yang sok sibuk! Gak balik - balik ke negara sendiri!" candanya, "By the way, chukhahae Jaejoonga. Kalian dah dilirik kerja sama dengan produser sekelas dunia. Kalian emang pantas mendapat peluang itu."
"Geundae hyeong," aku jadi kurang semangat.
"Waeyo?" tanyanya dari seberang sana.
"Tak ada HoMin, rasanya kehilangan separuh jiwa kami," jawabku lesu.
"Ayolah Jaejoongi, kau harus tetap semangat! Berjuanglah! Masalah kalian pasti akan terpecahkan, aku yakin kalian bisa bersama lagi," supportnya.
"Ne, hyeong. Gomawo atas supportnya, hyeong emang sahabat dan kakak terbaik yang pernah kumiliki," pujiku, "Hyeong, jeoseonghaeyo. Aku belum bisa menengok abeojikesso lagi. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Mmmh, kami sudah pasrah Jaejoongi. Penyakitnya sudah stadium 4. Geunde, abeojikesso tetap tenang walaupun kami tahu ia sangat menderita dengan penyakit itu. Kami yang malah khawatir dan ketakutan dengan keadaannya," tiba - tiba suara hyeong terdengar begitu sedih.
"Aku turut prihatin hyeong," responku ikut sedih.
"Ehm, sudahlah. Pokoknya setelah selesai rekaman, kalian harus pulang dulu ke sini, ara?!" suaranya berusaha ceria lagi, "Kalian harus traktir kami di sini, kita kumpul lagi di tempat biasa. Araseo Kim Jaejoong?!"
"Ne, hyeong. Araseo... araseo, aku juga kangen ingin ngobrol - ngobrol sama hyeong dan chingudeul di sana. We'll see there, gidarishipsiyo," jawabku semangat lagi.
"Gidarilkeyo. Geureom Jaejoongi, HWAITING!!" supportnya lagi.
"HWAITING!!" sahutku. Tut...tuut...tuuuuut! Sambungan telepon ditutup.
Beruntung sekali aku bertemu sahabat sebaik Yong Ha hyeong, dia adalah sahabat yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Dia yang juga selalu memberi semangat, nasehat, dan juga berbagi pengalaman denganku. Saat aku kurang percaya diri menerima tawaran main drama, Yong Ha hyeong yang kemampuan aktingnya sudah tidak diragukan lagi, menyemangati aku untuk mencoba dan juga memberi banyak masukan tentang akting. Dia juga seorang penyanyi, kami pun pertama kali bertemu saat hyeong juga TVXQ kebetulan sama - sama sedang promo album di Jepang. Sekarang hyeong lebih banyak bergelut di dunia akting.
Malam ini rasanya aku mendapatkan semangatku kembali, mendengar Yong Ha hyeong yang begitu sibuk sekaligus harus menghadapi kenyataan ayah tercintanya sakit parah pun, tetap optimis bekerja keras. "Hyeong benar Jaejoonga! Kau harus tetap semangat! Berjuanglah! Kalian pasti bisa bersama lagi! HWAITIIING!!" teriakku pelan, menyemangati diri sendiri. Segera kususul YooSu ke alam mimpi, semoga di sana juga bisa bertemu HoMin.
*****
"Tidak mungkin!! Jangan membuat lelucon konyol!!" bentakku pada salah satu teman dalam percakapan telepon.
"It's true Jaejoonga. Hyeongi... hyeongi...," suara di seberang sana terdengar sungguh - sungguh.
NUT! Aku menutup sambungan begitu saja. Masih tak percaya dengan apa yang diucapkan temanku tadi. Berharap ini hanya leluconnya saja. Tapi suaranya tadi terdengar serius. Tapi tidak mungkin! Tak mungkin!
"Waeyo hyeong?" tanya Junsu mendengarku berubah kalut setelah menerima telepon dari Korea, saat coffee break di lobi studio.
"Ye, waeyo hyeong?" Yoochun pun penasaran.
"Yong Ha hyeong," aku tak melanjutkan kata - kataku.
"Yong Ha hyeong, wae?" Junsu semakin penasaran.
"Jae... Jaejoong," tiba - tiba hyeong manajer agak tergesa - gesa menghampiri kami.
Melihat ekspresinya, aku takut dugaanku tentang apa yang akan disampaikannya benar.
"Park Yong Ha ssi, ditemukan meninggal di kediamannya, gantung diri," lanjut hyeong.
"Andwaeyo!! Andwae!!" mulutku tak mau mempercayai apa yang baru didengar telingaku. Tapi, hatiku tak mungkin membantah lagi kenyataan yang sangat mengejutkan ini. Tak ada kata - kata lagi yang sanggup keluar dari mulutku, hanya air mataku yang sederas hujan di luar studio. Sepertinya bumi pun ikut menangis.
"Hyeongaaaa," Junsu juga Yoochun merangkulku sambil ikut mencucurkan air mata, mendengar kabar yang begitu mengejutkan itu.
'Mana mungkin Yong Ha hyeong meninggal seperti itu? Tadi malam baru saja aku mendengar suaranya di telepon. Bunuh diri?? Andwae!! Ne hyeongi tak mungkin bunuh diri! Ia yang selalu memberikanku semangat dan optimisme untuk menghadapi tantangan hidup. Andwaeyo!! Tak mungkin!! Impossible!!' hatiku terus berteriak, masih tak ingin mempercayai kabar itu. Air mataku terus mengalir, dadaku rasanya sesak.
*****
Karena kami harus profesional menyelesaikan rekaman sesuai jadual yang telah ditentukan, kami tidak bisa pulang dulu ke Korea menghadiri upacara pemakaman Yong Ha hyeong. Kami hanya dapat mengirimkan karangan bunga dan doa, aku sangat sedih. Joeseonghaeyo hyeong, aku tidak biasa mengantar ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. Jeongmal joeseonghaeyo.
Di situs - situs berita internet, kulihat foto - foto Yunho yang menghadiri upacara pemakaman hyeong, namun ia tak tampak bersama Changmin seperti biasanya. Aku jadi semakin merindukan HoMin, untuk mencurahkan dan mengadukan kesedihanku bersama, berlima. Setelah kabar menyakitkan itu, mulutku rasanya tak sanggup untuk berkata - kata selama beberapa hari terakhir ini. Aku hanya bertekad untuk secepatnya menyelesaikan rekaman agar bisa segera memberikan penghormatan terakhir pada hyeong.
"Oke, kita break dulu untuk hari ini. Kalian istirahatlah dulu, kebetulan sekarang weekend, kalian boleh jalan - jalan dulu untuk refreshing." ujar hyeong manajer, setelah kami menyelesaikan rekaman sore itu.
"Andwae hyeong, kita lanjutkan saja! Breaknya satu jam saja, supaya pekerjaan kita di sini cepat selesai," tukasku.
"Majayo, hyeong. Hari ini kita lanjutkan saja rekamannya," dukung Junsu. Yoochun pun mengangguk - angguk setuju. Para kru di studio tampak geleng - geleng kepala melihat kami yang antusias untuk terus rekaman.
"Tapi kalian sudah tampak lelah. Dan kau Junsu, mukamu sudah pucat begitu. Sebaiknya kamu istirahat," hyeong menatap Junsu, "Kalian berdua juga istirahat!" mengalihkan pandangan padaku dan Yoochun.
"Junsuya, gwaenchana? Kamu sakit lagi?" tanyaku pada Junsu, mukanya memang sudah pucat. Aku meraba dahinya, "Kau demam. Ya sudah, sebaiknya kita break hari ini."
"Andwae hyeong, aku cuma flu ringan aja. Breaknya sebentar saja, lalu lanjutkan rekaman lagi," Junsu menepiskan telapak tanganku dari dahinya.
"Tapi mukamu itu sudah hampir kayak mayat, Su. Udahlah, tidak mengapa kita break hari ini," tegasku lagi. Yoochun mengangguk - ngangguk lagi.
"Nan gwaenchanayo. Ayolah hyeong, aku tidak apa - apa kok. Kita rekaman lagi hari ini yaaaaa?" rengek Junsu, telapak tangannya yang hangat menarik - narik lenganku manja.
"Jeongmal gwaenchanayo?" aku bertanya memastikan, menatap sorot matanya yang tampak lelah namun juga antusias.
"Ne, gwaenchanayo!" angguk Junsu mantap.
"Baiklah, tapi harus break dulu. Kita makan dan istirahat dulu," jawabku. Sejujurnya aku masih agak khawatir melihat Junsu yang kelihatan pucat dan badannya agak panas. Begitu juga Yoochun, aku tak mau asmanya kambuh lagi gara - gara kecapean.
Akhirnya hyeong manajer pun menuruti keinginan kami yang ngotot untuk melanjutkan rekaman lagi. Kami melanjutkan rekaman sampai larut malam. Lagu Painting 'W' yang liriknya menggambarkan kerinduan kami pada HoMin, membuat rekamannya sempat harus diulang beberapa kali karena kami kehilangan kontrol suara akibat terlalu emosional menyanyikannya. Meskipun begitu, kami terus melanjutkan rekaman.
....
"Keep in mind that I love you," sing us.
"Aitakute!" teriak Yoochun.
"Aitakute!" Junsu menunduk.
"Aitakuteeee!" jeritku, terbayang wajah Yunho dan Changmin.
"Aitakute!" Yoochun menitikkan air  mata.
"Aitakuteeee," Junsu memejamkan mata.
"Aitakuteeee!" jeritku lagi, semakin terbayang senyum Yunho dan Changmin.
"Aitakute!" air mata Yoochun semakin deras.
"Aitakuteeeeeeee!" teriak Junsu. BRUKKKKK!! Junsu tersungkur ke lantai studio.
Aku dan Yoochun panik melemparkan headphone masing - masing lalu menyambar tubuh Junsu yang telah ambruk di atas lantai. Hyeong manajer dan para kru pun berhamburan masuk ke ruang kedap suara ini.
"Junsuyaaa!" teriak Yoochun menggenggam tangan Junsu.
"Junsu wae?!" aku menyangga tubuhnya yang panas, telapak tanganku meraba dahinya yang juga bersuhu tinggi dan menyeka cairan merah yang mengalir dari hidungnya.
Mianhaehyeong…” bisik Junsu mencoba tersenyum sebelum akhirnya ia terkulai lemas di atas pangkuanku.
"Mr. Junsu! Is he sick?" tanya salah seorang kru bule.
"Let's rush him to the ER! He's getting a high fever!" tukasku sambil meletakkan tubuh panas Junsu di punggungku, dibantu Yoochun.
Malam itu kami sampai mendatangi lebih dari 20 rumah sakit, tapi lagi - lagi mereka tidak bisa menolong dengan alasan weekend, petugas Emergency Roomnya libur. Kami sangat panik karena suhu badan Junsu sudah sangat tinggi dan denyutnya semakin lemah. 'Shit! Bagaimana bisa semua ER yang kami datangi tidak ada yang dapat merawat uri Junsu?! Memangnya orang sakit atau kecelakaan bisa diliburkan dulu pada saat weekend?! Apa karena kami pendatang?!' aku terus menggerutu dalam hati.
Setelah mencoba ke sana ke mari, akhirnya sebuah ER rumah sakit di kawasan Korean Town bisa segera memberikan perawatan pada Junsu, suhu tubuhnya sudah mencapai 40°C. Untung saja, setelah mendapat pertolongan intensif, keadaannya bisa lebih stabil. Kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap Junsu, aku sungguh tidak akan memaafkan rumah sakit - rumah sakit yang telah menolak kami!
Haaah! Mengapa kami harus menghadapi situasi seperti ini lagi? Lagi - lagi Junsu tumbang, Junsu yang nampak ceria dan kuat, ternyata bisa lemah karena berbagai tekanan batin dan kelelahan yang kami alami. Tadinya aku sangka malah Yoochun si sensitif, yang harus ekstra diperhatikan.
Sebelum memindahkannya ke ruang rawat inap, dokter bertanya tentang dugaan riwayat penyakitnya, aku menjelaskan bahwa memang benar dia sudah beberapa kali kolaps gara - gara demam tinggi. Bahkan yang terakhir, dia sempat koma selama hampir tiga minggu saat di Korea dulu. Dokter mengkhawatirkan syarafnya yang bisa terganggu akibat demam kali ini yang benar - benar tinggi dan hampir merenggut nyawanya. Jadi dokter hanya bisa menunggu dulu perkembangannya saat Junsu siuman nanti.
Dapat mengganggu syarafnya? Apa maksud dokter itu? Apa kemungkinan uri Junsu bisa berubah menjadi idiot atau semacamnya?? Akh, ANDWAE!! Walaupun kadang suka bertingkah konyol demi membuat kami tertawa, Junsu itu otaknya cerdas! Tak mungkin tiba - tiba berubah menjadi pabo, hanya gara - gara demam tinggi!
Kalau sampai Junsu kenapa - kenapa, aku juga tak kan memaafkan diriku sendiri! Karena akulah yang paling ngotot untuk menyelesaikan jadual rekaman kami secepatnya. Akibatnya kami kelelahan, dan aku sampai tidak memperhatikan kesehatan Junsu yang memburuk. Aku terlalu larut dalam duka atas kepergian hyeong sahabatku. Aku tidak menghiraukan, kalau sebenarnya YooSu pun tak kalah terpukul dan sedih. Seharusnya aku tidak melalaikan orang - orang yang masih ada di sampingku.
*****
"Mmmmhhhh.... euhhh... heuuuhhh," suara Junsu yang pelan, membuat kami membuka mata yang sejak tengah malam tadi terkantuk - kantuk menunggui di samping ranjang kamar perawatannya.
"Junsu~ya, kau sadar?" aku menepuk pipinya pelan, tapi ia tak membuka mata.
"Hheeuhhhh... hyeong... Yunho hyeong... Kajimaaaaa," igau Junsu.
"Rupanya dia hanya mengigau," simpul Yoochun.
"Yun... ho hyeong.... Chang... min..aaaah... ka... kajima," igaunya lagi, "Ka... hhh... ka... kajima..." bulir - bulir bening meluncur dari balik kelopak matanya yang masih terpejam.
"Uljima Junsuya. Hyeongi, Changmini, pasti akan kembali bersama kita lagi. Uljimarayo," ucapku sambil menyeka air matanya dengan tissu lembut.
"Euuuhhhh.... ka... kajima... ka...jima..." Junsu terus mengigau, bulir - bulir bening itu terus saja mengalir tanpa ia sadari.
"Please don't be like this Junsuya," Yoochun membelai rambut sahabatnya yang basah oleh keringat dingin, "You... we must be strong. Please don't give up. If you're give up, then I can't stand too."
Pagi itu Junsu terus saja mengigau memanggil - manggil Yunho dan Changmin, sampai akhirnya dia terlelap oleh pengaruh obat yang disuntikkan ganhosanim pada cairan infusnya. Kami berdua terus menungguinya di kamar ini, sambil menunggu dia siuman.
Berita Junsu sakit rupanya cepat sekali tersebar di dunia maya, membuat cassiopeia dan bigeast di semua negara menjadi panik dan khawatir. Kabar ini pun sudah sampai ke Indonesia, Nurul dan Ayu tak kalah khawatir, tak terkecuali Dian. Gadis itu berkali - kali menelpon sambil menangis panik, menanyakan kabar Junsu-nya. Kasihan Dian, dia sedang ujian semester, pasti tidak konsentrasi memikirkan Junsu.
HARU EUI KKETESEO EONJENA.... NAN GIDARYOJWOYO... HAENGBOKHAYO... ponselku berbunyi, nomor tak dikenal tapi dari nomor digit awalnya, kutahu ini panggilan dari Daehan Minguk.
"Yeo... yeoboseyo?" sapaku ragu - ragu.
"Yeoboseyo Jaejoongi," suara yang sangat kukenal.
"Yunho~yaaaaa...!" seruku senang sekaligus haru.
"Yunho hyeong??" tanya Yoochun menatapku. Aku mengangguk.
"Jaejoongi, gimana keadaan Junsu?" suara di sana terdengar khawatir.
"Sudah stabil, tinggal nunggu siuman," jawabku, "Dia mengingau terus, memanggil - manggilmu dan Changmin."
"Mianhaeyo, aku tidak bisa menjenguk ke sana."
"Ara, hyeong. Kalian berdua pasti susah gara - gara ketahuan bersama kami."
"Keadaanmu sendiri dan Yoochun bagaimana?" Yunho mengalihkan pembicaraan, "Kudengar kalian bertiga terlalu memforsir diri untuk bekerja. Kalian sudah ingkar janji, katanya bisa saling menjaga diri?!"
"Ne, Yunhoya. Aku janji tidak akan mengulangi lagi, ini semua juga gara - gara aku yang paling ingin cepat - cepat menyelesaikan rekaman. Mereka berdua jadi ikut - ikutan."
"Sudahlah! Tak usah menyalahkan diri sendiri. Kamu juga pasti syok banget mendengar berita Yong Ha hyeong. Sabar ya?"
"Aku sedih, tidak bisa menemaninya di saat - saat terakhir. Geugo arayo? Malam sebelum itu, tiba - tiba dia menelponku, kami sudah janjian mau kumpul lagi di Korea," air mataku kembali luruh, "Aku masih tak percaya dia mengakhiri hidupnya sendiri seperti itu. Dia malah sempat menyemangati aku untuk tetap optimis menghadapi segala kemelut hidup."
"Entahlah Jaejoongi, aku juga tidak percaya. Uljimarayo,” rupanya Yunho bisa menebak kalau aku sedang menangis,  “Kita harus merelakan dia pergi, itu sudah terjadi. Kadang hidup memang terlalu menakutkan untuk dihadapi,"
"Yunhoya, aku juga lelah menghadapi kemelut ini. Apa kau juga tidak merasa lelah?"
"Ireohjimaseyo!" tegasnya, "Kalau kalian menyerah, bagaimana dengan kami? Sia - sia dong perjuangan kita untuk kembali bersama?!"
"Mianhae Yunhoya, mianhae telah membuat kalian berdua susah."
"Eiiy, Kim Jaejoong! Jangan berkata seperti itu lagi! Semua ini memang sudah harus terjadi, kita tidak bisa mencegahnya. Mungkin ini malah akan lebih mengeratkan persahabatan  dan persaudaraan kita berlima," nasehatnya, "Jaejoongi, sudah dulu ya? Aku akan menghubungimu lagi, kuk jeonhwa halkeyo. Jaga diri kalian." TUT...TUUT....TUUUUT! Yunho menutup sambungan terburu - buru, tadi sepertinya ada yang datang.
"Waeyo?" tanya Yoochun melihat ekspresiku yang kecewa karena masih ingin ngobrol dengan Yunho. Aku bahkan belum menanyakan kabar Changmin.
"Ditutup, heuhhh! Kayaknya dia nelpon sembunyi - sembunyi." aku menghela nafas agak kecewa.
*****
Karena sakitnya Junsu, pihak produser dan manajer sepakat untuk memberikan istirahat dulu barang dua atau tiga hari, sampai Junsu pulih kembali. Kami menungguinya berdua di kamar perawatan ini.
"Eu... mmmh," Junsu membuka matanya.
"Junsuya, kau kenal aku??" menunjuk diriku sendiri lalu menunjuk Yoochun yang berdiri di sebelah kirinya, "Kau kenal dia juga??" tanyaku lagi, khawatir teori dokter itu benar.
"Jaejoong hyeong.... Yoochun..aaah," panggilnya lemah.
"Junsuya, syukurlah kau sudah sadar. Kami takut kalau - kalau kamu keenakan 'tidur' lama lagi atau berubah menjadi orang...." ucap Yoochun tertahan sambil menepuk - nepuk pipi Junsu seperti pada adik kecil saja.
"Kenapa kita ada di sini? Ini di mana? Bukankah kita sedang rekaman?" tanyanya pelan.
Aku menarik nafas lega mendengar pertanyaannya. Masih ingat rekaman, berarti otaknya masih normal.
"Ini di rumah sakit. Tadi malam kamu demam tinggi sekali, membuat kami panik," jelas Yoochun, "Kamu tahu? Semalam kita keliling LA mencari ER yang buka di malam weekend, sampai akhirnya kau dapat dirawat di sini. Kamu hampir saja..."
"Cugo?" sambung Junsu asal.
"Geure! Kalau kau sampai mati, bagaimana aku menghadapi Yunho karena tak bisa menjagamu?!" aku menjentikkan telunjuk di jidatnya pelan.
"Geureom, nan cugo chasalkeyo, biar Jae hyeong dimarahi Yunho hyeong," candanya tambah ngaco. SREEETTT! hatiku tiba - tiba terasa pedih lagi.
"Kyaaa, Kim Junsu!" Yoochun melotot padanya.
"Ah... eh... keugo... mianhaeyo hyeong," Junsu menunduk, baru menyadari apa yang diucapkannya.
"Gwaenchana," jawabku lesu.
"Dasar kau! Lagi sakit saja sudah merepotkan, udah bangun malah tambah rese," jitak Yoochun di kepala Junsu, pelan.
"Mianhae, aku hanya merepotkan dan membuat kalian khawatir saja selama ini. Mianhaeyo," raut wajah Junsu menjadi mendung.
"Eiiiy, aku cuma bercanda! Gitu aja diambil hati," Yoochun mencoel dagu Junsu, aegyo, "Ayolaaaaah, kami ingin mendengar tawa Xiah Junsu yang jelek lagi."
"Mungkinkah kita bisa tertawa lepas lagi? Tanpa Yunho hyeong dan Changmin?" tanyanya masih sedih, tanya yang juga ada di benakku dan Yoochun. Sejenak suasana hening, kami tertunduk dalam.
"Keumanhae!" ujarku mendongakkan kepala, menatap Junsu dan Yoochun, "Kita tidak boleh putus asa! Kalian tahu, Yunho dan Changmin pun sedang berjuang untuk dapat bersama lagi. Ayolah, jangan hancurkan harapan mereka, harapan semua cassiopeia yang selalu setia mendukung kita," bujukku berusaha semangat.
"Ne, aku juga tak ingin mengecewakan cassiopeia yang begitu besar cintanya dan sangat merindukan penampilan kita. Mereka akan sedih jika melihat kita menyerah," tambah Yoochun.
"Ye, aku pun masih ingin menyanyi  untuk mereka. Cinta merekalah yang bisa membuat kita bertahan sampai  saat ini," dukung Junsu.
Iya, Junsu benar. Ribuan cinta bahkan mungkin jutaan cinta dari cassiopeia membuat kami terus semangat menghadapi kemelut ini. Kami hanya ingin mempersembahkan lagi karya - karya terbaik kami. Walaupun mungkin tidak dapat menyandang nama TVXQ lagi, asalkan kami berlima bisa bersama lagi. Di hati mereka, kami tetao TVXQ yang mereka banggakan. Walaupun ada cassiopeia yang begitu cintanya pada kami, sehingga berharap tiada pernah ada TVXQ, karena mengaggap akhirnya hanya membuat kami harus menderita di tengah badai. Tidak, kami tidak menyesal menjadi TVXQ.
Bila kami menjadi orang biasa, mungkin tidak akan pernah kami menemukan cinta cassiopeia, juga tidak mendapatkan persahabatan terbaik yang kami miliki berlima. Sungguh cassiopeia, kami bangga dengan cinta kalian. Kami tidak pernah merasa terbebani dengan cinta kalian yang begitu dalam. Jangan pernah merasa membuat kami menderita dengan cinta kalian, kami bangga memiliki cassiopeia.

Epilog...
Senja yang indah, kami berlima bermain di tepi pantai yang pasirnya mulai memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Langit biru mulai menggambarkan siluet cahaya biru, jingga dan merah muda yang indah. Di ufuk barat, sang surya mulai beranjak dari singgasananya, tenggelam malu - malu di hamparan samudera.
"Eukh.... ha... ha... ha...!" sesekali terdengar tawa si bungsu, tubuhnya yang jangkung sampai terjungkir di atas pasir dan memegangi perutnya berguling terpingkal - pingkal, menertawakan lelucon Junsu yang kurang lucu. Aku, Yoochun dan Yunho ikut tertawa melihat tingkah kedua musuh bebuyutan itu.
"Eu... kyang... kyang...!" Junsu yang kegeeran, menyangka saudara - saudaranya tertawa karena guyonan lucunya, ikut tertawa bangga.
Setelah lelah bermain, kami berlima duduk berjajar menghadap sunset. Kami tersenyum bahagia menatap langit di atas samudera sana.
"Ingat, kita sudah go internasional sekarang. Besok kita harus tampilkan yang terbaik di atas panggung, araseo?!" perintah sang Leader UKnow Yunho.
"Araseo," jawab kami berempat kompak. Tanpa dikomando, kami meneriakkan pekik semangat.
"UKnow Yunho, hwaitiiing!"
"Hero Jaejoong, hwaitiiing!"
"Micky Yoochun, hwaitiiing!"
"Max Changmin, hwaitiiing!"
"Dong Bang Shin Ki, hwaitiiiiiiing!"
Kayaknya ada yang 'sengaja' terlewat, meskipun posisinya sekarang berada di tengah. Kami serempak menoleh ke arah orang paling imut yang berada di tengah. Bibirnya sudah maju satu senti, mukanya mulai bersemu pink.
"Hua... ha... ha...!" tawa kami berempat meledak karena 'kesuksesan' kami melihat ekspressi yang sudah lama kami rindukan itu.
"Nappeun chinguya!!!" teriaknya aegyo.
"Xiah Junsu, saranghae," sahut kami berempat dengan gaya aegyo, melengkungkan lengan kami di atas kepala, membentuk tanda hati sambil menatap Junsu dengan genit.
"Aish!! Keumanhaeee!! I'm not a teenager anymore...!" teriaknya protes, "Don't you realize that i'm a masculine and sexy man, now?!" konglishnya kumat.
"Hua... ha... ha...!" tawa kami berempat menggema lagi, "Araseo, the sexy man," kami merangkul pria yang merasa sudah dewasa itu.
"Xiah Junsu, hwaitiiiiiiing!" teriak kami kompak.
"Eu... kyang... kyang...!" ia tertawa puas.
Kami masih duduk di sana sampai hari mulai gelap. Hingga kami dapat melihat rangkaian cahaya yang membentuk huruf 'W' di langit. Kami merindukan cassiopeia yang selalu bersinar memberikan kami cinta dan spiritnya.
Aku bahagia bisa bersama keempat sahabatku lagi, bercanda, tertawa lepas, bernyanyi... Kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
YooSuHoMin, you are my everything.
Cassiopeia, you are my everything.
Senyumku terus tersungging, senyum bahagia bersama mereka. Hatiku terasa mengapung menggapai lukisan 'W' itu bersama keempat sahabat di sampingku. Kami tiada jemu memandangi langit, sampai cahaya berbentuk 'W' itu diselimuti oleh cahaya terang, cahaya mentari pagi yang menyilaukanku.

***The End***

Tuesday, July 13, 2010

[TRANS INDO] 100712 JYJ – “(Park) Yong Ha – hyeong, Maafkan Kami Terlambat”


"(Park) Yong Ha - hyeong, Maafkan Kami Terlambat"

Pergi ke makam Park Young Ha, mendoakan sebagai penghormatan mereka pada jiwa almarhum dalam linangan air mata.

Mengunjungi Memorial Hall Gyeonggi-do di mana Park Yong Ha dimakamkan  memasangkan bunga dan berdoa agar rohnya akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.

Saat mereka berdiri di depan foto almarhum dan berkata, "Hyeong, kami benar-benar menyesal kami datang terlambat", mereka akhirnya menitikkan air mata. Hal ini terutama sangat dalam untuk YoungWoong Jaejoong, yang menerima kejutan besar ketika ia menerima kabar kematiannya, sebagaimana dia telah melakukan kontak dengan Park Yong Ha saat ia berada di Amerika Serikat.

Kembali ke negaranya melalui Bandara Internasional Incheon. Meskipun kelelahan mereka dari penerbangan pulangnya yang  terlambat, mereka meninggalkan rumah mereka pagi - pagi untuk mengunjungi makam almarhum Park Yong Ha. Pukul 1 siang, ketiganya tiba di pemakaman dan saksi yang berkumpul mengatakan bahwa mereka menangis diam-diam.

Ikatan yang dibentuk antara mereka dan mereka semua yang aktif di Jepang pada saat yang sama.

Menerima kejutan besar ketika ia menerima kabar tiba-tiba saat ia rekaman untuk album mereka di Amerika Serikat. Seorang ajudan dekat  berkata, "Xiah Junsu, Jaejoong YoungWoong dan Micky YooChun begitu terkejut untuk menerima berita kematian Park Yong Ha sampai mereka tidak dapat berbicara."

Kenye West Rapper dan produser Amerika terkenal bekerjasama untuk album mereka dan mereka pulang pada tanggal 11 setelah mengakhiri rekaman.
Di bawah label rekaman Amerika Serikat yang memiliki jaringan distribusi luas dunia.

Mantan perusahaan, SME, telah menunjukkan bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan, akan kembali bekerja setelah istirahat sejenak. Juga, Micky Yoochun akan membuat debut TV dengan drama "SungKyunKwan Scandal" yang diatur ke udara pada bulan September.
Credit to : DBSK
Source: [newsen + my-own-way123]
Translation credits: mandasoh@tohosomnia.net
Shared by: tohosomnia.net

Sunday, July 11, 2010

Fan Fic : 사랑하는 친구 Saranghaneun Chingu (Beloved Friend)


Fan Fiction Title                 :   Saranghaneun Chingu (Beloved Friend)
1st  Episode (Prologue)      :   I'll Be There
Genre                                  :   Friendship, Romance???
Cast                                    :   Shin Ling Ki, Shin Sang Mi, Xiah JunsuHero Jaejoong, Max  Changmin, Micky Yoochun, UKnow Yunho, etc.
Author                                 :    아야 비루나시아  (Aya BirunaXiah)

"Eomma! Duit dong!" todong Sang Doo.
"Gya! Sang Doo~ya!! Kau kurang ajar banget sih sama omma!! Dasar tak berguna!" omelku, tapi anak keras kepala itu cuek aja, malah balik melototin aku.
"Eomma! Cepat dong, buru - buru nih!!" nada bicara Sang Doo meninggi lagi.
'Cish! Dasar manusia pemalas!!' gerutuku dalam hati.
"Gak ada lagi jatah uang sakumu. Ada juga buat belanja kebutuhan sehari - hari!" gerutu eomma sambil berlalu ke kamar dibuntuti Sang Doo sampai pintu.
Hana.... dul... set! Eomma keluar dari kamar itu, "Nih, abis! Jangan minta lagi! Kamu boros banget sih!"
Sudah kuduga! Pasti sikap eomma begitu menghadapi anak bungsunya yang keras kepala itu. Bilang habis, gak punya, tapi selalu akhirnya ngasih juga tiap Sang Doo minta duit. Sikap eomma yang tidak tegas inilah yang menurut Sang Mi, membuat adiknya jadi seenaknya, malas, dan yang paling menyebalkan kurang ajarnya gak ketulungan. Hal ini juga lah yang sering memicu pertengkaran antara eomma dengan Sang Mi.
Sang Doo adalah 'anak' manja berusia 18 tahun yang seenaknya, malas belajar, kerjaannya hanya nongkrong dan merokok, sehari sampai habis satu kotak, sudah mirip kereta api saja! Padahal appa adalah seorang guru, memalukan sekali. Beda sekali  dengan anak appa  dan eomma yang dua lagi, Sang Mi dan Sang Woo hyeong. Sang Woo hyeong, anak laki - laki yang pertama, meski tidak bakat di bidang akademik, tapi dia seorang pekerja keras yang mau berusaha. Anak tengah yang perempuan, Sang Mi mewarisi kecerdasan appa di bidang akademik dan selalu berusaha meraih prestasi. Dan aku diadopsi oleh keluarga ini sejak aku bayi dan ditinggalkan ibu kandungku begitu saja karena ia ingin bebas 'kencan' dengan laki -laki lain.
Beruntung sekali aku tinggal di rumah ini, walaupun tidak mewah tapi aku sangat disayangi Sang Mi, eomma, appa, dan oppa. Sang Doo saja yang sepertinya kurang suka aku di sini, karena aku dibawa ke rumah ini awalnya atas keinginan Sang Mi. Ia memang tampaknya selalu iri pada nunanya itu, karena di sekolah selalu meraih prestasi, sedangkan dia sendiri selalu jadi rangking 10 dari belakang. 'Salah sendiri, kenapa jadi anak kok malas banget!' gerutuku dalam hati.
Walaupun beda 2 tahun, Sang Mi dan Sang Doo satu sekolah dan sama - sama duduk di kelas III, walaupun di kelas yang berbeda. Itu karena dua tahun yang lalu, usaha sampingan appa gagal gara - gara modalnya dikorupsi oleh orang lain. Malah bukan hanya itu, appa pun terpaksa harus menanggung hutang orang itu. Sang Mi yang semangat belajarnya begitu menggebu, terpaksa harus berhenti sekolah selama 2 tahun, selama itu pula lah ia memilih tinggal di kampung halamannya di Busan bersama halmeoninya. Begitulah yang kudengar dari curhatan - curhatan Sang Mi padaku.
Sekarang Sang Mi dan Sang Doo baru saja lulus SMU. Sudah diduga, Sang Mi lah yang jadi juara umum di SMU itu, sedangkan Sang Doo jadi rangking 10 dari belakang lagi. Sang Mi berhasil lolos dalam ujian masuk  Seoul National University dan Sang Doo... haaah! Aku sudah malas melihat tingkah 'anak' itu.
*****
"Kamu ini mau jadi apa sih? Kuliah gak mau, kerjaan hanya main, nongkrong!" Sang Mi sudah kesal menasehati dongsaengnya.
"Bukan urusanmu! Jangan ikut campur!!" bentak Sang Doo. Ingin sekali aku mencakar muka anak kurang ajar itu!
"Kamu ini!! Kasihan appa, memangnya kamu mau hidup begini terus, nongkrong, traktir teman - teman kamu yang kurang kerjaan itu?!!"
"Kan udah ada kamu yang ngikutin jejak appa! Ngapain aku repot - repot kuliah!"
"Kamu itu kan namja, yang suatu hari akan menikah, menafkahi keluarga. Kalau cuma tamat SMU, mau kerja apa?" Sang Mi semakin tak kuat menahan kekesalannya.
"Aku gak mau kerja!!" bentak Sang Doo sambil berlalu dari rumah, memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
"Eomma lihat kan kelakuan dia? Cobalah eomma jangan terlalu menuruti keinginannya."
"Yah, sudahlah. Masalah dia biar jadi urusan eomma, kamu gak usah ikut - ikutan mikirin dia," jawab eomma.
"Bagaimana tidak mikirin, eomma... dia itu adikku satu - satunya. Kalau dia jadi rusak, aku juga ikut pusing...." Sang Mi menghela nafas.
"Memangnya kamu pikir eomma akan membiarkan anak eomma rusak??" eomma malah tersinggung, "Sudahlah! Jangan ikut campur, pikirin aja studymu di Seoul!" eomma berlalu ke dapur.
Sang Mi menghampiriku yang sejak tadi hanya menatap sedih pertengkaran mereka.
"Ling Ki, aku harus bagaimana??" mengusap - ngusap kepalaku lembut.
"Sabar Sang Mi~ya," hanya itu yang bisa kuucapkan, dia tersenyum mendengar perkataanku, senyum pahit penuh beban.
Lalu aku mengikutinya ke dalam kamarnya, ia mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari dan membereskannya ke dalam koper biru tua berukuran sedang.
"Mau ke mana lagi??" tanyaku sedih, sepertinya ia hendak pergi. Tapi ia hanya menengok sekilas kepadaku lalu kembali sibuk merapikan barang - barangnya ke dalam koper itu.
"Sang Mi~ya, mau pergi lagi?? Liburanmu kan masih panjang, baru juga sehari di sini," aku kembali memberondongnya dengan pertanyaan.
Ia hanya menatapku, tatapan penuh kepedihan. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, aku ikut berbaring di sampingnya.
"Mianhae, Ling Ki~ya," Sang Mi membalikkan tubuhnya menghadapku, sambil mengusap lembut tengkukku, "Sepertinya aku lebih baik kembali ke Haseokjip di Seoul besok pagi - pagi. Mianhae, sebenarnya aku masih kangen sama kamu, tapi aku tak tahan di rumah ini. Aku cape, tak tahu harus bagaimana lagi. Hah, andai oppa ada di sini," ia menatap foto keluarga kecil Sang Woo hyeong yang tergantung di dinding kamarnya. Air matanya mulai luruh, aku ingin sekali membendung, menghapus air matanya.
"Jangan bersedih Sang Mi~ya, aku ada di sini menemanimu," aku semakin merapat padanya.
"Ling Ki~ya, terima kasih karena kau selalu menemaniku di saat aku sedih. Kamulah yang selalu ada di sampingku. Tapi aku harus meninggalkanmu di rumah ini. Sebenarnya aku ingin mengajakmu tingggal di sana, tapi tak bisa..." ia mendekapku hangat.
"Gwaenchanayo Sang Mi~ya," padahal sebenarnya hatiku begitu merana dan kesepian sejak ia harus tinggal di Haseok Jip dekat kampusnya. Andai saja Daegu cuma satu kilometer ke Seoul, aku pasti sanggup berlari ke sana menyusulnya.
"Uri Ling Ki~ya, nan neoreul saranghae," tangan lembut dan hangatnya semakin mendekapku, air matanya masih mengalir sampai ia ketiduran, sampai kantuk pun melelapkanku.
Saat sinar keemasan mulai menyilaukanku, aku terkesiap.
"Sang Mi~ya??" aku kaget begitu pagi hari ia sudah tidak ada disampingku. Pasti gara - gara aku tidur terlalu lelap hingga ia tidak tega membangunkanku. ANDWAE!! Jangan - jangan ia sudah kembali ke Seoul?!  Aku segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar rumah menuju jalan raya.
Benar saja, dari jauh kulihat Sang Mi baru saja naik bus. Aku berlari mengejar bus itu.
"Sang Mi~ya....! Sang Mi~ya...Kajimaaaa...." aku terus berteriak sambil berusaha mengejar bus itu. Tapi percuma, kecepatan lariku kalah dengan laju bus itu.
Nafasku terengah - engah, aku hanya bisa menatap bus itu tampak mengecil semakin jauh. TIIIIIIIIIIIIIIID!! Tiba - tiba suara klakson mobil mengagetkanku, membuatku dengan refleks meloncat  ke pinggir jalan. Ups! Hampir saja aku mati ketabrak! Bus itu sudah menghilang, bus yang ditumpangi oleh gadis yang kusayangi... kucintai...
*****
Entah sudah berapa lama Sang Mi tidak pulang ke sini, biasanya paling nggak dua minggu sekali dia pasti menghabiskan ‘jumal’ di rumah. Minggu kemarin kudengar  ia pulang, tapi bukan ke sini melainkan ke rumah halmeoninya di Gyeonggi. Setiap hari aku menunggunya di halte depan, berharap gadis itu turun dari salah satu bis  yang berhenti di situ, tapi yang kudapat hanya kekecewaan karena sampai malam menjelang pun tak kudapati ia pulang. Aku tak tahu kenapa ia jarang pulang, apa benar – benar sibuk atau suntuk karena kelakuan namdongsaengnya.
Aku masih ingat waktu ia baru lulus SMU, kudengar dari percakapan Sang Mi dengan appa dan eomma, sebenarnya appa dan eomma ingin Sang Mi kuliah di kota ini saja. Saat itu Sang Mi ngotot ingin kuliah di luar kota saja. Masalah tempat kuliah, ia kukuh pada pendiriannya karena ia sudah mengalah dalam mengambil Jurusan. Sebenarnya ia tidak ingin mengambil Fakultas Pendidikan seperti keinginan ayahnya. Ia ingin  mengambil Fakultas Sastra, jurusan Sastra Korea dan pilihan keduanya Fakultas Seni Rupa. Tapi  untuk itu dia rela mengalah demi mengikuti jejak appa, karena Sang Mi satu – satunya harapan appa untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Sang Woo hyeong  menikah  muda tak lama setelah lulus SMU hingga ia lebih senang berwirausaha ketimbang kuliah dulu. Apalagi si bungsu Sang Do, sudah tidak bisa diharapkan lagi, jangankan untuk sekolah, kerjaannya hanya main saja, padahal otaknya gak lemot – lemot amat. Aku tahu itu, karena kulihat baik dari keluarga appa maupun eomma, semua sepupu Sang Mi, rata – rata menjadi bintang kelas, minimal the big five di sekolah masing – masing. Entah kenapa Sang Do beda sendiri, kupikir karena ia terlalu manja dan malas.
Aku salut pada Sang Mi, walaupun ia harus kuliah di bidang yang dia tidak minati, ia tetap belajar dengan tekun dan selalu meraih the big five di jurusannya. Dulu ia beralasan tidak mau menjadi guru karena harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan masyarakat, harus banyak ngomong, dan sebagainya. Ia ingin jadi sastrawati saja yang menurutnya pekerjaannya hanya merenung, menulis, tanpa harus banyak ngomong dan ‘berbasa – basi dengan orang lain. Kalau tidak jadi sastrawati, ia bercita – cita jadi pelukis, alasannya hampir sama, katanya pelukis itu hanya perlu mencari inspirasi, mengembangkan ide dan menuangkannya ke dalam lukisan tanpa harus banyak berbicara dengan orang lain. Aku tahu itu karena dia sebenarnya tidak suka banyak bicara, sifat dasarnya memang pendiam, hobinya sejak kecil adalah menulis dan menggambar.
“Annyeonghaseyo,” suara appa dari balik pintu, “Yeobo, aku pulang.”
“Ne, chankkanman,” suara eomma dari kamarnya. Tak lama kemudian ia membukakan pintu, “Appaga, where have you been? Jam satu malam begini baru pulang, nan geokcheonghaeyo,” eomma agak cemberut.
“Mianhae yeobo, aku baru dari Seoul. Nan Sang Mireul pogoshipho,” appa mengecup kening istrinya itu.
“Kan bisa lusa pas hari minggu. Kenapa hari kerja gini?” eomma masih mengomel sambil membukakan blazer appa.
“Aku tidak tahan ingin bertemu ne urita, sudah lama sekali ia tidak pulang,” jawab appa. Appaku ini memang sangat sayang pada Sang Mi. Walaupun sudah lelah bekerja, bila sedang ingin menengok puterinya, malam – malam pun ia rela pergi ke Seoul hanya untuk bertemu sebentar dan tengah malam pun ia akan pulang karena esoknya masih hari kerja. Aku paham maksud eomma, kalau ke sananya weekend, setidaknya appa bisa menginap di sana dan bisa bertemu Sang Mi agak lama tanpa harus buru – buru pulang tengah malam begini.
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“She’s fine,” kata appa, “I jumale, dia akan pulang.”
Aku melompat kegirangan, mendengar Sang Mi akan pulang. Tak terkira betapa rindunya aku padanya.
“Jeongmal? Aku juga sudah kangen sama dia,” respon eomma tak kalah senang.
“Ada untungnya juga kan aku ke sana?” ucap appa, “Yeobo, kau istirahat saja. Aku mandi dulu, nanti menyusul ke kamar.”
“Appa sudah makan?” tanya eomma.
“Ne, sudah. Aku sudah makan di luar.” jawab appa sambil mengecup kembali kening istrinya.
“Geureom,” eomma masuk kembali ke kamar.
“Ha… ha… ha… senangnya, Sang Mi akan pulang dua hari lagi. I miss you Sang Mi~ya….” aku ingin berteriak karena senang.
*****
Hari yang ditunggu – tunggu, setelah sarapan pagi aku dengan girang berlari kecil menuju halte yang berada di dekat taman, tak perduli rengekan Yeong Mi kecil yang minta ditemani main. Yeong Mi adalah keponakan Sang Mi satu – satunya, puteri dari Sang Woo hyeong, ia sedang liburan akhir pekan di sini.
Walaupun Sang Mi pasti datangnya siang, aku rela menunggunya di halte ini berjam – jam. Setiap bis yang lewat kuperhatikan, terutama jika ada bis yang berhenti di halte ini, aku mendongakkan kepalaku ke arah pintunya yang terbuka. Aku tak perduli orang – orang yang setiap hari lalu lalang di sini, yang sudah hapal dengan tampangku karena selalu ada  setiap mereka naik sampai turun lagi di halte ini. Mungkin pikir mereka, ‘Siapa sih yang kau tunggu?’
Sampai langit di Daegu yang tadinya biru mulai berwarna oranye dan jingga, aku masih menunggu Sang Mi, tapi kenapa dia belum juga muncul? Aku mulai khawatir, jangan – jangan terjadi sesuatu dengannya di jalan. “Aniyo!!” aku bergumam sendiri.
“Ling Ki~ya, sedang apa kau di sini?” tetanggaku yang baru pulang kerja menatap heran padaku yang masih tertegun di halte ini.
“Aku sedang menunggu Sang Mi, nuna,” jawabku.
“Ayo kita pulang, ahjumma pasti mencarimu,” ajaknya.
“Anio nuna, aku akan menunggu di sini. Hari ini Sang Mi pulang,” jawabku lagi. Ia hanya menggeleng tak mengerti.
Bulan sudah menggantikan posisi matahari yang seharian lelah menyinari bumi, tapi belum ada orang yang sangat kurindukan itu turun dari salah satu bis yang berhenti di sini. Kekhawatiranku semakin dalam.
“Sang Mi~ya, kenapa kau belum juga datang?? Apa yang terjadi denganmu? Tuhan, tolong lindungi uri Sang Mi,” aku bergumam sendiri, “Sang Mi~ya, nan aju neoreul bogoshipo. Sang Mi~ya, pulanglah! Sang Mi~ya…. Sang Mi~ya…“ aku mulai memanggil – manggilnya. Rasanya ingin menangis dan menjerit, kerinduanku padanya sudah tak terkira. Orang – orang yang pulang sehabis beraktivitas menatapku dengan iba, aku tak perduli.
‘Tenang Ling Ki, dia pasti baik – baik saja. Dia pasti akan pulang…. Tunggu sebentar lagi,’ hiburku dalam hati. Apa mungkin sebaiknya aku pulang dulu? Mungkin ada kabar terbaru darinya. Tapi aku mau jadi yang pertama menyambutnya di sini. Apa mungkin dia tidak jadi puang hari ini?? Ah, sebaiknya aku pulang dulu ke rumah.
Saat aku hendak menyebrang jalan untuk pulang, tiba – tiba sebuah motor melintas dan hampir menabrakku, motor Sang Doo, ia pasti habis pulang nongkrong.
“Gya, Aima!! Apa kau mau mati??!! I jashikya!!” Sang Doo berhenti sejenak untuk memaki – maki aku sebelum ngebut kembali ke arah jalan menuju rumah.
“Dasar menyebalkan!! Bukannya ngajak pulang bareng, malah maki – maki!” aku menatapnya kesal. Motornya tampak menghilang di balik belokan, aku melangkahkan kaki – kakiku kembali.
TIIIIIIIIID!! suara kencang diiringi sorotan lampu yang menyilaukan tak terduga datang dari arah kananku. Tiba – tiba aku terbang dan…. BRUKKKK!! Tubuhku mendarat di atas trotoar. Samar – samar motor itu berhenti dan pengendaranya turun berlari hendak menghampiriku, “Gwaenchanayo?” teriaknya.
“Anio!” lirihku parau dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan berlari pulang. Punggungku terasa semakin sakit saat berlari menghindari namja itu. Sepertinya punggungku patah atau malah remuk. Dengan air mata dan peluh yang mengucur menahan sakit, aku terus berlari ke rumah.
“Halmeoniiiiii! Ling Ki~ga…..!” Yeong Mi yang belum tidur, berteriak melihatku bersimbah darah. Eomma samar – samar muncul dari ruang keluarga.
“Eomma….” lirihku lemah menatap wanita kedua yang kucintai di dunia ini.
“Ling Ki~ya….!! Kau kenapa? Piga nayo,” eomma panik melihat darah yang membasahi tubuhku.
“Eomma…. jeongmal aphayo,” aku tak berdaya lagi untuk berjalan sekalipun untuk menghampirinya.
“Ling Ki~ya…” eomma langsung meraih tubuhku yang hampir tumbang.
“Halmeonikesso, Ling Ki~ga waeyo?” Yeong Mi ikut mengelus – ngelusku sambil menangis.
“Aaah, aphayo….” aku terus merintih lemah di pangkuan eomma. Rasanya tulang – tulang punggungku yang tadinya menopang tubuhku kini berbalik menusuki setiap lapisan dagingku.
“Sang Mi~ya….. saranghae…. Eomma, aphayo…” rintihanku semakin lemah. Perlahan rasa sakit itu mulai menghilang seiring wajah eomma dan Yeong Mi yang memudar dari pandanganku.

**To Be Continued**

Notes : Gimana… gimana?? Nyambung nggak ama sub judulnya?  Kalo gak nyambung, sambung – sambungin  aja deh, he…he… *nyengir kuda*
Do you like it?? Kalu reader gak suka, malas nerusin niiih…. *manyun*









NEXT