Wednesday, June 30, 2010

081229 Junsu - My Everything[picnicxiah]

Thursday, June 24, 2010

Aya Biruna: MLTR-I'm Gonna Be Around

Aya Biruna: MLTR-I'm Gonna Be Around

MLTR-I'm Gonna Be Around

When I Die No Mercy

Tuesday, June 8, 2010

Fan Fic TVXQ : You Are My Everything Part. 17



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 17
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

"A... aaaah!" ringis Nurul saat dibantu Dian naik ke ranjangnya. Ah, ingin sekali aku memangkunya agar ia tak kesakitan begitu.
"Gwaenchana oppa, jangan, biar Dian saja. Teteh sudah wudhu, nanti batal," tangan Dian kembali mencegahku saat aku hendak membantunya, aku tak mengerti kata - katanya.
"Ooooh.... eeeh... geureyo?" jawabku masih kikuk.
"Iya, tidak apa - apa. Gomawo," ucap Nurul lemah sambil tersenyum, tapi senyumnya masih canggung.
"Ini mukenanya teh. Sholatnya sambil duduk di tempat tidur saja ya?" Dian menyodorkan pakaian putih dari sutera dengan aksen bordiran bunga - bunga berwarna pink di pinggirannya.
"Iya, terima kasih de," angguk Nurul sambil memakai pakaian putih itu. Aku hanya memandanginya yang kini seperti...ah, bukan! Ia lebih cantik dan anggun! Kain putih dengan aksen pink itu kontras sekali dengan wajahnya yang kuning langsat tapi kini agak pucat.
"Jaejoong oppa, kita keluar dulu yuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," ajak Dian membuyarkan ketakjubanku, "Teteh mau sholat dulu, sebentar lagi ibu juga dari datang kok, beliau sedang ke kantin," Dian menarik tanganku untuk meninggalkan Nurul sendiri di kamar itu.
"Geureyo? Ne," akhirnya aku mengikuti langkah Dian keluar kamar itu.
Di luar Yunho dan Junsu sedang ngobrol dengan seorang yeoja bersama eommanya, mungkin mau nengok Nurul.
"Annyeong," sapaku pada yeoja yang bernama Ayu itu.
"Hai, perkenalkan oppa, ini mamaku," Ayu memperkenalkan eommanya.
"Mamanya Ayu," geu ahjeomma mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Jaejoong," membungkuk hormat.
"Oya, katanya oppadeul mau makan malam ya? Bagaimana kalau di tempat saya saja? Pak Udin sedang menjemput Changmin dan Yoochun oppa di villa untuk bergabung, Dian dan oppadeul biar ikut mobil saya saja," ajak Ayu, semangat.
"Iya, betul. Sebaiknya kalian makan malam dulu. Pasti capek bolak - balik ke sini," ujar eommanya, "Mama nunggu Bu Cahya di sini ya nak?" tambahnya. Yang dimaksud Bu Cahya adalah eommanya Nurul.
Akhirnya kami ikut Ayu ke restoran yang dikelolanya di pinggiran kota kecil ini. Memasuki gerbang restoran yang cukup luas itu, kami disambut oleh musik instrumen Sunda yang Ayu sebut 'degungan' dan suasana alam yang nyaman. Changmin dan Yoochun ternyata sudah sampai karena restoran bergaya kebun ini memang lebih dekat jaraknya ke daerah villa.
Di restoran kebun milik Ayu ini terdapat beberapa 'saung' bernuansa kayu dan bambu, hampir mirip 'saung' yang ada di belakang rumah Nurul. Kami diajak ke salah satu saung yang cukup untuk satu keluarga besar, terletak diatas kolam ikan dengan gemericik air yang 'dinyanyikan' oleh air terjun mini buatan di pinggir kolamnya. Beberapa lampu di beberapa titik taman kontras menerangi sekelilingnya yang mulai gelap. Saung - saungnya pun diterangi oleh lampu neon yang dihiasi ornamen dari bambu. 'Sungguh artistik,' kagumku dalam hati.
"Silahkan, Dian dan oppadeul boleh memesan apa saja," Ayu menyodorkan daftar menu yang dibawa pelayannya.
'Nasi Liwet, Nasi Uduk, Nasi Putih, Gurame Asem Pedas, Pepes Ikan Mas, Ayam Panggang, Bebek Panggang, Sayur Asem, Sayur Lodeh, Tumis Genjer, Tumis Kangkung, Sambel Terasi, Sambel Goreng, Sambel Goang,...' deretan menu itu kubaca dalam hati dengan bingung karena banyak macamnya. Beberapa nama masakan itu pernah kudengar dari Nurul saat ia menjamu aku dan YooSu makan siang. Yunho dan Changmin tampak lebih bingung karena mereka belum kenal masakan Sunda.
"Mmmh, sate ayam, sate kambing, sate sapi?" Changmin berpikir sok jenius membaca deretan menu yang masih asing baginya.
"Oh, sate itu daging panggang, seperti bulgogi. It serves with peanut sauce," jelas Ayu.
"It sounds delicious!" sambung Junsu.
"Nasinya, nasi liwet aja teh. Kalau lauknya apa saja, kumaha teteh wae, abis bingung kebanyakan, he...he..." Dian yang orang Indonesia asli pun bingung dengan sederet menu itu.
"Oke, kebetulan aku sudah suruh koki membuat nasi liwet. Mmmh, lauk pauknya cobain semua aja ya," tawar Ayu, "Pelayan, siapkan tiga kastrol nasi liwet dan semua menu lauk pauk, sayuran dan pelengkapnya."
"Baik Bu," jawab si pelayan.
"Oh, tidak perlu banyak - banyak, merepotkan," kata Yunho.
"Tidak apa - apa, saya ingin menjamu oppadeul. Anggap saja ungkapan terima kasih karena telah menyelamatkan saya," Ayu tersenyum, "Oya, minuman pendanpingnya apa?"
"Mmmh, manggo juice," ujar Yoochun.
"Mmmmh... " Yunho dan Changmin bingung lagi membaca daftar minuman di bawah jenis deretan jus.
"Oya, maaf kami tidak menyediakan wine atau minuman beralkohol lainnya," ujar Ayu lagi.
"Oh, gwaenchanayo," ucap Yunho mewakili kami.
"Sebagai penggantinya, untuk menghangatkan badan, kami menyediakan minuman hangat dari sari rempah - rempah yang berkhasiat dan bahan - bahan lainnya. Ada Bir Pletok khas Betawi, Bandrek, Serbat, Sekoteng, Bajigur, dan minuman khas Indonesia lainnya," papar Ayu.
"Boleh, kami juga ingin mencoba minuman khas Indonesia," Changmin terdengar antusias.
"Ne, kedengarannya minuman yang menyehatkan," tambah Junsu, "Lagipula aku tidak suka minuman beralkohol."
Tak beberapa lama kemudian, di atas meja pendek yang berada di tengah - tengah 'saung' itu terhidang menu masakan khas Sunda yang lengkap. Changmin tampak 'terpesona' melihat sajian di hadapannya.
"Jal meogesseumnida!" ujar Yoochun bak tuan rumahnya saja. Ia yang sudah mengenal beberapa jenis masakan itu, langsung menyantap menu favoritnya dengan lahap.
Junsu dengan manja ingin suap - suapan bersama Dian. 'Cis, mentang - mentang masih hangat jadian!' kataku dalam hati, melihat Junsu yang pamer kemesraan.
Adapun Yunho dan Changmin yang masih asing dengan tata cara makan ala Sunda, diajarin oleh Ayu cara menyuap dengan tangan, mencoel sambel, dan.... ah, mencoel sambel! Aku jadi ingat Nurul, ingat ketika aku disuapin makan dengan lalap dan sambel 'gandaria'. Gak semangat rasanya makan enak sementara dia masih terbaring sakit.
"Jae oppa, silahkan makan," ucap Ayu membuyarkan lamunanku.
"Oh... eh... Ne," jawabku agak kaget. Tak enak pada Ayu, aku pun pura - pura semangat menyantap menu yang kupilih. Masakannya enak - enak, tapi tetap saja tak semangat tanpa Nurul di sampingku.
"Sambel gandaria," gumamku sebelum menyuap lalapan yang telah dicoelkan pada sambal itu. Aku kembali teringat Nurul, terus menyantap suap demi suap makanan di piringku dengan pikiran yang masih melayang ke saat - saat bersama yeoja itu. Tak perdulikan keempat adikku yang mengeleng - geleng, menatapku 'iba'. How pity I am.
Setelah menu utama 'bersih', meja itu dirapikan pelayan lalu kembali disajikan kue - kue dan cemilan khas serta minuman - minuman tradisional yang tadi disebut - sebut Ayu.
"Oppa, coba ini, namanya Bir Pletok, terbuat dari ginger, cinnamon, dan rempah - rempah lainnya. Ini bisa menyegarkan badan, mencegah masuk angin,... " bla... bla.. bla... Dian mempromosikan minuman itu sambil menyodorkan pada Junsu dengan mesra. Aku menelan ludah memandang tingkah mereka. Yoochun memilih Bajigur, Yunho minum Bandrek, sementara Changmin begitu menikmati Sekotengnya.
"Ayu ssi, igeon mwoyeyo?" tanya Changmin seraya membuka kue basah kecil berwarna putih yang dibungkus daun pisang, mulutnya masih mengunyah kacang tanah panggang dan 'teman - temannya' yang tadi mengambang di atas mangkok Sekoteng.
"Oh, itu namanya Papais," jawab Ayu sambil tersenyum.
"Mwo?? Papais?" Changmin bertanya lagi sambil menyuapkan kue yang lembut itu ke dalam mulutnya yang belum selesai mengunyah pelengkap Sekoteng.
"Yes, it's called Pa...pais," Ayu mesem - mesem.
Pasti Ayu kaget sekaligus geli melihat kerakusan adik bungsuku ini. 'Hi.. hi.. dasar Min! Lupa gengsi deh kalau sudah ketemu makanan!' Mau tak mau aku jadi ikut cengar - cengir melihat tingkah adik bungsuku.
"Mmmmh, masitta! Ini pasti terbuat dari tepung beras, mmmh... dan isinya campuran kelapa dengan gula!" Changmin nebak - nebak dengan gaya detektif.
"Betul sekali! Waaaah, Changmin oppa pintar juga soal makanan ya?" puji Ayu masih mesem - mesem melihat tingkah si bungsu.
"Of course, Shim Chang Min paling pinter di antara hyeongnya!" ngocolnya dengan bangga, kemudian ia melahap kue lainnya yang disajikan di atas wadah bundar dari anyaman bambu yang dihiasi daun pisang.
"Hua... ha.. ha... dia emang paling pinter kalo soal makanan!" tawa Yoochun ngeledek. Yang lain pun ikut tertawa melihat 'kerakusan' adik kami yang kumat menghadapi makanan unik beraneka ragam di hadapannya. Yang ditertawakan cuek saja, tetap asyik mencicipi semua kue - kue itu.
"Jal meogeossemnida!" ujar Changmin dengan bahagia, setelah kenyang mencoba semua makanan. Yunho geleng - geleng kepala melihat tingkah adik kami. Tuan rumahnya hanya tersenyum geli.
"Jae oppa, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dian kemudian.
"Ne, mwoseul malhagesseo?" aku malah balik tanya.
"Ada yang ingin Dian jelaskan pada oppa, tentang teh Nurul," tukas Dian, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke taman.
"Junsuya, aku pinjam Dian sebentar ya?" ijinku pada Junsu, adikku itu mengangguk tanda mengerti.
Aku mengikuti Dian ke arah jembatan yang melengkung di atas kolam taman itu. Dian duduk di pagar pembatas jembatan itu, aku pun duduk di sampingnya.
"Jae oppa,"... "Dian ssi," ucap kami bersamaan.
"Meonjeo malseumhae juseyo," kataku mempersilahkan.
"Ne," sambungnya, "Oppa, saya sudah tahu apa yang terjadi antara oppa dan teh Nurul."
"Ye, apa kata Nurul? Apa ia membenci oppa?" potongku penasaran.
"Anio, teteh sama sekali tidak menbenci oppa. Malah setelah sekian lama menutup hatinya dari laki - laki, baru kali ini teteh jatuh cinta lagi," kata Dian lagi.
"Then, kenapa ia marah waktu oppa kissing her? Apa ia juga sampai jatuh sakit gara - gara kissu oppa?" tanyaku semakin penasaran.
"Teteh merasa berdosa."
"Mwo??" potongku.
"Ne, teteh merasa berdosa karena ia berkomitmen kalau hal - hal seperti itu hanya boleh dilakukan dengan pasangan yang sah, suami - isteri," tambahnya.
"Aigo, rupanya karena itu," aku tersenyum sendiri, "Tapi kenapa ia menolak untuk menjadi isteriku? Dengan begitu kan kami bisa jadi pasangan yang sah? Bukankah ia juga mencintaiku?"
"Teh Nurul memang mencintai oppa, tapi sayang kalian tidak bisa bersatu," Dian menunduk.
"Keunde wae?" aku tak mengerti, "Kami saling mencintai, bukankah itu sudah cukup? Mengapa kami tidak bisa bersatu?"
"Karena kalian berbeda," Dian belum meneruskan kata - katanya.
"Wae? Karena aku seorang artis? Atau karena aku bukan orang Indonesia? Waeyo? Malhaeyo," aku tak mengerti.
"Semua itu bukan masalah," kata - kata Dian tertahan, " Uriga, keyakinan kita, I mean... keyakinan oppa dan teh Nurul berbeda."
"You mean, our religion?" tanyaku ingin meyakinkan.
"Ne," Dian mengangguk, "Walaupun teteh merasa belum menjadi muslimah yang baik, tapi ia selalu berusaha menjalankan ajaran agamanya."
"Keureyo," gumamku. Aku baru menyadari gap itu, seketika lututku terasa lemas dan terjongkok, menyandar pada pembatas jembatan itu. 'Kenapa harus ada perbedaan itu? Wae?' sesalku dalam hati.
"Itulah sebabnya oppa, kalian tidak bisa bersatu. Makanya teteh begitu terbebani, ia takut perasaan itu makin dalam. Ia jadi bingung harus bersikap bagaimana terhadap oppa," Dian mendesah.
"Wae?" aku menghela nafas berat, bingung, tak tahu harus berpikir apa lagi. Ya, walaupun aku juga bukan orang yang begitu taat, tapi aku selalu berusaha menjalani ajaran yang kuyakini. Dan Nurul ssi juga punya keyakinannya sendiri, aku harus menghormati itu. Jadi... jadi bagaimana? Wae ireohke?
***to be continued...***

Fan Fic TVXQ : You Are My Everything Part. 16



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 16
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)


"Hyeong odiega?" tanya Changmin, melihatku tergesa - gesa mengambil jaket dan meninggalkan keempat adikku yang masih menikmati sarapannya.
"Aku harus ketemu dia," jawabku sambil memakai sepatu kanvasku, "Udin ssi eh Pak Udin, saya pinjam motornya dong," aku menghampiri sopir pribadi Hikaru shan di villa ini, yang sedang membuat kopi di dapur.
"Oh, mangga kang, silahkan," laki - laki paruh baya itu menyodorkan kunci motornya.
"Hyeong, cuma ke tetangga sebelah kok naik motor?" tanya Junsu penasaran.
"Don't follow mix, eh I mean... jangan ikut campur!" jawabku pura - pura galak.
"Iiiih, hyeongaa.... gitu aja ngambek," Junsu aegyo.
"Jaejoonga, sebaiknya jangan temui sekarang. Yeoja kalau sedang emosional jangan dulu di ajak ngobrol, bisa tambah runyam," nasehat Yunho, Yoochun manggut - manggut.
"Ara hyeong, tapi gak tau kenapa, aku ingin ketemu dia sekarang. Munjega isseoyo," aku berlalu, tak perdulikan mereka.
Setibanya di depan rumah Nurul, "Assalaamu alaikuum, permisiiii.... punteeeen," suaraku agak lantang mengucapkan 'greeting' yang sering kudengar di sini kalau mau bertamu ke rumah orang lain, "Puuuunteeeen," ucapku sekali lagi, belum ada jawaban, 'Kenapa sepi?' tanyaku dalam hati.
"Maaaanggaaaa..., sakedaaaaap!" baru kini kudengar suara agak berteriak dari dalam, suara seorang gadis yang tak lain adalah Dian, kekasih Junsu. Suaranya memang sudah kukenal.
"Eeeeh, oppa. Dian kira siapa, logatnya udah kayak orang Sunda sih, he..he..." Dian muncul dari balik pintu kayu berukir sambil senyum - senyum.
"Kok sepi ya? Yeorobeun odie?" ucapku basa - basi.
"Oh, Adi sudah berangkat sekolah. Pak Edi sedang piket di Rumah Sakit Daerah sejak tadi malam dan Ibu dari tadi pergi ke kota, membeli obat di Apotik buat teh Nurul," papar Dian.
"Nurul, ada? Katanya dia sakit demam, benarkah?" tanyaku ragu.
"Ne, semalaman ia memang demam. Tapi barusan teteh tetap memaksakan diri berangkat ngajar karena beberapa guru di sana sedang ada urusan di luar sekolah. Padahal demamnya belum turun benar," ucap Dian khawatir.
"Mwo?! Sudah berangkat kerja? Diantar siapa?" tanyaku tak kalah khawatir.
"Honjaseo, bawa motor. Mau Dian anter juga tidak mau," jelas Dian.
"Mwo?! Naik motor, honja?" potongku.
"I...iya oppa, teteh susah dicegah... " Dian agak kaget dengan nada suaraku yang meninggi.
"Sudah lama berangkatnya?" tanyaku lagi.
"Sekitar 10 menit yang lalu," jawabnya masih khawatir.
"Geureom, aku susul dia," kubalikkan arah motor.
"Ne, oppa... Nado geokchonghaeyo..."
Tanpa mendengar Dian melanjutkan kalimatnya, aku segera menstarter motor itu dan dengan agak ngebut menyusuri jalan aspal menuju godeunghakyo tempat Nurul mengajar. Entah kenapa hatiku begitu cemas tak karuan sejak melangkahkan kaki dari villa tadi.
Aku terus memacu laju motor, jalan raya ini sepi sekali. Entah apa yang membuatku ingin menengok ke sekitar, seolah mencari - cari sesuatu. Belum sampai di sekolah itu, ditengah jalan, pas di jalan menurun, kulihat di pinggir jalan sebelah kanan tergeletak sesosok tubuh seorang yeoja yang sudah kukenal. Begitu sampai di bawah, aku buru - buru ke pinggir jalan dan menggeletakkan motor Udin ssi, panik melihat tubuh Nurul tergeletak tak sadarkan diri dengan sebagian kaki kanannya tertindih body motor.
Aku segera mengangkat motor itu, menggulingkannya ke arah berlawanan. Lalu kuraih bahu yeoja itu, menyandarkannya di pangkuanku. Badannya sudah terasa dingin, mukanya pucat dan darah mengalir membasahi wajahnya yang mulus, menetes ke blazer biru muda itu menjadi bersemu merah. Tanganku mencari - cari saputangan di saku jaketku lalu segera menekan sapu tangan itu pada dahi kanannya yang terus mengeluarkan darah segar.
"Nurlul ssi, ireonayo!" aku tak bisa membendung kepanikanku sambil menepuk - nepuk lembut pipinya. Sementara tangan kiriku menyangga kepalanya dan dahi kiriku kurapatkan pada dahi yeoja itu untuk menekan sapu tangan yang menahan darahnya, tangan kananku kembali sibuk mencari - cari ponsel di saku jeans. Setelah kupegang ponsel itu, kusentuh speed dial yang kukenal.
"Junsuga, cepat ke sini! Bawa Udin ssi dan mobilnya!" teriakku panik.
"Museun iriya? Wae... wae hyeonga?" Junsu terdengar gugup.
"Nurlul ssi kecelakaan di turunan jalan raya menuju sekolahnya!"
"Mwo?!" teriak Junsu kaget.
"Ppalli wa!!" bentakku makin panik.
"Ne, ara hyeong..." TUUT.. TUUT... TUUUUUUT, sambungan terputus. Kumasukkan kembali ponsel itu ke saku jeansku.
"My queeny, my sunshine, chebal ireonayo," kuguncang - guncang tubuhnya, diliputi ketakutan di dalam hatiku. Kupeluk tubuhnya agar kembali menghangat, malah pipiku yang hangat dengan cairan bening yang meluncur begitu saja dari pelupuk mataku. Aku tak perduli dikatakan namja yang cengeng... Aku hanya ingin i yeoja membuka matanya yang indah, menatapku lembut.
"Eoso ireonayo! Nega... nega ireohjimaseyo! Kau belum menjawab semua pertanyaanku! Ireona... chebal ireonayo!" kugenggam telapak tangannya yang semakin dingin, aku semakin panik.
"Ireona! Chebal ireona!" telapak tanganku kini sibuk menyeka darah yang membasahi pelipisnya, hidungnya, pipinya, "Please don't leave me now! Jeoneun neo obshi sal su eopseo, jagiya... ireona! Open your eyes!" aku terus berteriak - teriak, tapi ia tetap diam membisu.
*****
"Bagaimana keadaan teteh, Pak?" tanya Dian begitu Nurul dipindahkan ke kamar perawatan.
"Alhamdulillah tidak ada cedera yang fatal di kepalanya, tinggal menunggu siuman," ucap dr.Edi yang tak lain ayah Nurul ssi, ia kebetulan sedang tugas di rumah sakit ini, "Hanya kesehatannya memang sedang menurun dan tadi sempat kehilangan darah banyak, untung nak Jaejoong menemukannya, di jalan itu jarang ada yang lewat. Kalau tidak cepat - cepat, mungkin tak kan tertolong. Terima kasih banyak atas pertolongannya nak," laki - laki hendak membungkuk mengikuti kebiasaan kami, tanda terima kasih.
"Gwaenchana eh maksud saya tidak apa - apa Pak," aku menahan bahunya, kalau ia tidak perlu membungkuk hormat begitu. Sebenarnya malah aku yang merasa bersalah karena sejak kejadian kissu itu, Nurul ssi sakit.
"Iya, kami sangat berterima kasih sekali, nak Jaejoong dan nak Yoochun sudi mendonorkan darahnya. Golongan darah O jarang, ibu sendiri yang golongan darahnya sama, tak bisa menolong karena masih baru ikut donor darah beberapa hari yang lalu. Kalau tidak ada kalian berdua, entah bagaimana jadinya," ibunya Nurul terharu.
"Tidak apa - apa Bu, ibu sudah menolong orang lain. Jadi Tuhan pun pasti menolong putri ibu," Yoochun mengusap - ngusap bahu Mrs.Edi seperti pada ibunya sendiri.
"Betul, sekali lagi kami ucapkan terima kasih," sekali lagi dr.Edi membungkukkan badan, "Oya, lebih baik kalian berdua pulang, istirahat dulu karena pasti lemas setelah mendonorkan darah," ia menepuk bahuku.
"Ne, eh iya Pak. Tapi kami mau melihat Nurlul dulu," anggukku sambil membungkuk hormat.
"Baiklah silahkan. Saya tinggal dulu ya," jawabnya, "Bu, bisa ke kantor ayah dulu?" ajaknya pada wanita itu. Mrs. Edi mengikuti suaminya.
Aku memasuki kamar perawatan itu diikuti Dian, Junsu dan Yoochun. Sementara Yunho, Changmin dan Udin ssi menunggu di bangku selasar pavilliun Jasmine itu. Di atas bed rumah sakit bernuansa hijau pupus. Aku mendekat, duduk di kursi yang terletak di sampingnya.
"Ne piti, my shine... mianhae, it's all because of me. Jega ttemune, nega jalmot haesseo. Mianhae, geu haneun geoseul euimihaji anhayo... i don't mind to...." kugenggam telapak tangan kanannya yang masih agak dingin.
"Sudahlah hyeong, it's all not your fault. She must be understand," hibur Junsu, aku tahu ia mengerti rasa bersalahku, ia pernah merasakan hal yang sama saat - saat akhir bertemu Jang Mi dulu.
"Muon-gareul malhaeyo, nan neo~eui meoksorireul deutgoshipho," kubelai lembut kepalanya yang sebagian tertutupi perban. Ingin sekali aku mencium keningnya, tapi aku ingat kejadian tempo hari. Aku harus menghormati sikapnya meskipun aku tak tahu dan tak mengerti apa alasan sebenarnya, kalau memang ia juga mencintaiku. Ya, saat itu aku melihat cinta di sorot matanya.
"Ayo hyeong, lebih baik kita pulang dulu," bujuk Yoochun, "Nurul ssi eui appa kan bilang dia sudah aman. We should go home now."
"Ne, oppa. Biar aku dan ibu yang menjaganya, O.K.? Oppa istirahat dulu, nanti ke sini lagi setelah teteh sadar," sambung Dian.
"Ne," jawabku tak semangat, membelai wajah Nurul sekali lagi sebelum mengikuti langkah Yoochun keluar.
"Hyeong, aku menemani Dian di sini ya?" ujar Junsu.
"Ne, tolong jaga Nurul. Kot doraogesseo." aku menoleh di depan pintu.
Yunho merangkulku begitu juga Changmin pada Yoochun, mengajak kami pulang dulu ke villa diantar Udin ssi. Mobil yang tadi dibawa Yunho, tetap disimpan di parkiran rumah sakit, kalau - kalau Junsu dan Dian membutuhkannya.
*****
Sore hari aku segera minta diantar ke rumah sakit oleh Udin ssi karena Junsu mengabari kalau Nurul sudah sadar. Yunho ikut denganku, sedangkan Changmin dan Yoochun menunggu di villa saja.
Saat kami berjalan dari parkiran rumah sakit menuju pavilliun Jasmine tempat kamar rawat Nurul, beberapa pengunjung yeoja juga para ahjeomma berbisik - bisik melihat kami lewat, terutama memperhatikan Yunho.
"Sssst, cowok ganteng," bisik seorang cewek ABG pada temannya yang papasan dengan kami.
"Iiiih Ateu, itu cowok mirip Cha Bong Gun. Ganteng bangeeeeet," kata seorang yeoja yang duduk di bangku selasar pada ahjeomma yang dipanggil 'ateu'.
"Cha Bong Gun, makhluk dari dunia mana itu? Aneh amat namanya?" tanya si 'ateu'.
"Eta Ateu, yang di drama 'No Limit' tea," ujar si yeoja manja.
"Ah, dasar kamu sudah keracunan drama Korea! Mana mungkin aktor Korea nyasar ke kota kecil ini. Ke Jakarta pun belum tentu pernah datang!" si 'ateu' menjitak kepala yeoja itu gemas.
"Hush, liat - liat! Yang pake kaos putih, mirip Cha Bong Gun ya?" bisik yeoja di sisi selasar yang lain, pada temannya.
"Aaaah, ini mah lebih ganteng! Cha Bong Gun mah rada culun!" bisik temannya, "Eh, yang sebelahnya cantik eh ganteng bangeeeeeet!"
'Aish!! Lagi - lagi aku dibilang cantik!' gerutuku dalam hati.
"Kik... kik... kik...!" Yunho terkekeh ditahan.
"Mwoya?!" bisikku jutek pada Yunho sambil melotot dengan bibir dimanyunkan.
"Oooh, andai aku bisa ketemu Jung Yunho. Pasti aku pingsan karena kesenengan," masih kami dengar gumaman yeoja itu.
Yunho mesem - mesem aja diomongin gitu, aku cuma nyengar - nyengir. 'Ha... ha..., kalau mereka sadar sudah ketemu seorang Jung Yunho. Gimana reaksinya ya? Jangan - jangan rumah sakit ini tiba - tiba kebanjiran pasien yeoja yang pingsan,' pikirku geli. Rupanya tampang Yunho sudah dikenal luas sampai ke seluruh Indonesia, kudengar dramanya memang sedang ditayangkan di salah satu stasiun TV di sini. Dan orang - orang yang bukan cassiopeia mungkin lebih mengenalnya sebagai 'Cha Bong Gun'.
Setelah melewati beberapa selasar rumah sakit ini, diiringi bisikan - bisikan kekaguman para yeoja melihat dua namja teramat ganteng lewat, akhirnya kami tiba di depan kamar Nurul. Junsu baru saja keluar lalu duduk di bangku depan kamar itu. Kami berdua menghampirinya.
"Nurul ssiga eotteohke?" tanya Yunho, duduk di samping Junsu.
"She's going better," jawabnya dengan Konglish lagi.
"Seosigeul deureoseo anshimhaeyo," Yunho menarik nafas lega.
"Nurul ssi mwoseul hagoisseo?" tanyaku menunjuk kamarnya.
"Oh, tadi sedang diantar ke kamar mandi oleh Dian," jawab Junsu enteng.
Aku mengetuk pintu kamar itu.
"Ya, silahkan masuk," jawab Dian dari dalam.
Kupegang handle pintu, begitu terbuka aku langsung menghampiri Nurul yang sedang dibopong Dian berjalan ke arah tempat tidur. Tapi Dian menghalangi tanganku yang hendak membantu memegangi bahu Nurul.
"Gwaenchana oppa, biar Dian saja," ucap Dian memberikan isyarat untuk tidak menyentuhnya.
"Tapi, hati - hati," ujarku kikuk melihat Nurul hanya melihat sekilas padaku dengan senyum yang canggung, tak berkata apa - apa. Apa Nurul ssi masih marah padaku gara – gara ‘insiden’ kissu itu?? Aku jadi salah tingkah.
***to be continued...***

Wednesday, June 2, 2010

Pict. intoXIAHcation


My Xiah's picture own edited. Hope you like it :D

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 15



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 15
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

"Hyeonga..., ayolah ceritakan pada kami," rengek Changmin menarik - narik lengan kiriku.
"Ne, Yoochuna.... Bagaimana kronologis ceritanya?" Yunho tak kalah aegyo, tapi masih dengan bahasa yang sok detektif.
"Molla! Tanyakan saja sendiri pada Junsu, gara - gara hyeong dan Changmin, kita jadi gagal melihat Junsu kissu!" Yoochun manyun sok imut.
"Jaejoongaaa...., ayo dong cerita..." Yunho makin aegyo, menarik - narik lengan kananku.
"Araseo...araseo... singkat ceritanya, Junsu udah jadian ama Dian," jelasku.
"Geureyo... mmmmh, jeohayo," Yunho manggut - manggut, Changmin ikut - ikutan.
"Hmmm....hyeong, bagaimana denganmu dan Nurul ssi?" tanya Changmin tiba - tiba.
"Ne?? Na??" aku gugup.
"Ne, masak kau kalah dengan Junsu! Ayo donk, mana Kim Jaejoong si penakluk hati yeojadeul??" ledek Yunho.
"Tenang aja, walaupun belum pernah terucap, I knew that she love me too," jawabku penuh percaya diri.Turun dong reputasiku sebagai 'The most wanted boyfriend' di Asia, kalau sampai aku ditolak yeoja.
"Tapi kan butuh kepastian, kalau ternyata hyeong yang kege-eran gimana?" Changmin makin manas - manasin aku.
"Mwo?? Tentu saja dia juga jatuh cinta padaku, dia masih malu - malu aja nerima aku. Lihat saja nanti sore... Nurlul ssi pasti hatinya meleleh olehku..." jawabku menggebu - gebu.
"Oke, pokoknya hyeong harus buktikan pada kami. Ingat, waktu kita di sini tinggal dua hari lagi," Yoochun ikut memanasi.
"Geurooom, I'll must be get her!" timpalku berapi - api, "Awas ya, jangan mengintip!"
"HUA… HA... HA... HA...." tawa mereka bertiga malah meledak kompak.
*****
Sore harinya, aku ngajak Nurul ssi jalan - jalan di pantai, menjalankan 'misi'ku memastikan hubungan dengan yeoja yang udah bikin aku terpesona dengan pribadi dan kecantikannya yang alami. FERFECT, matahari yang hendak pulang ke peraduan setelah menyinari daerah yang indah ini seharian, menciptakan pemandangan indah di atas bentangan laut biru yang berubah keemasan. Langit pun mulai membentuk lukisan jingga dihiasi gumpalan 'kapas' yang menguning memantulkan cahaya surya yang mulai tenggelam.
"Areumdakuna," kagumku memandang sunset, duduk di atas hamparan pasir yang berkilauan keemasan. Hatiku terasa hangat karena di sampingku ada yeoja yang kucintai. Thanks God, suasananya mendukung banget, so... romantic!
"Nurlul ssi," ucapku lembut, menoleh pada yeoja di sampingku.
"Ya," jawabnya merdu, ia masih memandangi sunset di lepas pantai sana. Dari samping, siluet wajahnya yang memantulkan cahaya mentari keemasan, membuat degup jantungku semakin tak menentu, 'cantik sekali' kagumku dalam hati, kecantikan yang belum pernah kutemukan sebelumnya.
"Eh, wae Jaejoong ssi?" geu yeojaga gugup menyadari kalau aku dari tadi memandanginya. Ia sempat menoleh tapi tak berani menatap mataku lebih lama, kemudian mengalihkan pandangan kembali ke arah laut.
"Nurlul ssi," kuraih bahunya lembut, mengarahkannya untuk berhadap - hadapan denganku tapi wajahnya malah tertunduk, "Jangan panggil ssi lagi, tapi oppa, O.K.?"
"Ne, Jae...Jaejoong oppa," ia mendongakkan wajahnya sekilas lalu kembali memandang kilauan pasir pantai.
"Nega jeongmal yeppoyo," punggung jemari tangan kananku membelai pipinya yang kuning langsat bersemu pink, lalu bibirnya yang pink alami tanpa polesan.
"Eh.. eh... ireojimaseyo Jaejoong oppa," dengan gugup tangan kirinya berusaha menepiskan tanganku, tapi aku malah menggenggamnya.
"Nan jeongmal neol saranghae... I really fallin' love with you," ucapku lembut, "Would you be my love and marry me?"
"Jae...Jaejoong oppa, tapi aku..." ucapnya terbata - bata.
'Aish, bodoh! Kenapa aku langsung melamarnya, terang aja dia jadi salah tinggah. Bahkan aku gak bawa cincin lagi. Sungguh konyol!' gerutuku dalam hati.
"Maksudku, maukah kau menjadi kekasihku?" kusatukan kedua belah jemari tangannya yang halus, kegenggam erat, "Aku serius, bahkan ingin kau jadi isteriku."
"Tapi..." ucapnya masih tertahan.
"You love me too, do you?" kuangkat dagunya lembut agar ia bisa menatap mataku.
"Yes, I do. But..." tatap matanya kembali dialihkan dari mataku.
"Mideoyo, trust me... I really.. really love you, walau kita belum lama bertemu," kuraih telapak tangan kanannya, kutempelkan di dada kiriku.
"Ne, nan neoreul mideoyo. Tapi,"
"Sudahlah, cukup kau katakan mencintaiku, aku sudah bahagia. Believe me, aku tak kan menyakiti perasaanmu seperti namja yang bodoh itu," kutatap wajahnya yang masih tertunduk, "Even though it will be a long distance relationship, aku akan setia padamu. You're the queen of my heart."
"I believe in you, but..." ucapnya masih ragu.
"Wae? Don't worry my queen, sesibuk apapun aku akan berusaha berkunjung ke sini.... melepas rinduku," bujukku, tapi ini sungguh bukan rayuan belaka, this is the voice of my heart.
"Anio, bukan itu..." ia masih tak berani menatap mataku.
"Ssst, sudah jangan ucapkan tapi lagi. Nan neoreul aju saranghae," bisikki lembut menempelkan telunjukku di bibir lembutnya. Aku jadi ingat kata - kata Yunho tempo hari. Lalu kuraih kembali bahunya lembut, menariknya ke dalam pelukanku.
"A... aaah, Jaejoong oppa... ireojimaseyo," ia agak meronta, mungkin masih canggung. Aku semakin mengeratkan pelukanku.
"Saranghae, saranghae Nurul ssi, my sunshine," bisikku lembut di telinganya. Lalu kulepaskan pelukanku, kini kubelai rambutnya yang hitam lembut berkilauan. Tatapannya masih tak mau bertemu.
"Jae... Jaejoong oppa," ia menatap sekilas lalu tertunduk lagi gugup.
"Mideoyo... I love you," bisikku sambil mendekati wajahnya. Telapak tanganku meraih kepalanya lembut, mendorongnya agar wajah kami semakin mendekat. Kemudian bibirku mendarat di bibirnya yang lembut, lidahku mulai menjelajah, tapi, 'Wae?! Kenapa ia tak membalas?? Kenapa bibirnya terkunci??'
Tiba – tiba ia berusaha melepaskan ‘cengkraman’ tanganku di kepalanya, mendorong bahuku, daaaan.... PLAAKKK!! Pipi kiriku terasa perih. Kulihat ia menangis, menatapku dengan... akh, aku juga tak mengerti maknanya. Lalu ia berlari meninggalkanku, meninggalkanku yang terbengong - bengong sambil memegangi pipi kiriku yang perih. Perlahan perihnya menjalar sampai ke hatiku. WAE?? WAE?! Katanya ia mencintaiku, tapi kenapa??? Apa ini artinya ia menolakku?? Tapi aku yakin dari tatap matanya kalau ia juga mencintaiku. But, why??? Why??? Hatiku diliputi oleh tanya itu, Why?? Why??
"Waeeeeeeeeee??!!" teriakanku menggema di pantai ini, pantai yang mulai beranjak gelap. Bahkan matahari pun kini meninggalkanku.Kulangkahkan kakiku tanpa semangat, menuntun sepeda yang tadi kunaiki bersama yeoja itu.
"Aish!!" kuhempaskan sepeda itu dan meninggalkannya tergeletak di pantai begitu saja. Aku kini ingin pulang sendiri, bahkan tidak ingin ditemani oleh sepeda pun. Kakiku terus melangkah gontai diliputi pertanyaan WAE? WAE? WAE?? hingga tak terasa sudah sampai di teras villa. Tak kuperdulikan keempat adikku yang menyambutku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku langsung berlalu masuk menuju kamar.
"Wae?!" pertanyaan itu lagi. Aku menghempaskan punggungku di atas chimdae, menatap langit - langit kamar membayangkan kembali kejadian di pantai tadi, "She told that she love me too. But why?? Wae ireyo??" aku bergumam sendiri.
"Hyeong, what's going on??" Yoochun duduk di sampingku yang masih menatap langit - langit kamar. Tak lama kudengar beberapa langkah kaki yang lain, HoSuMin masuk.
"Hyeong, Why did Nurul ssi running home while crying badly??" Junsu mencecarku dengan pertanyaan sok Inggrisnya, aku hanya menghela nafas.
"Ne, waeyo hyeong?? Apa yang telah kau lakukan padanya?" kini Changmin ikut menginterogasiku.
Yunho memegang bahu Changmin dan Junsu, memberi isyarat, 'Biarkan dia sendiri, jangan ganggu dulu.' Ia tak bartanya - tanya seperti adikku yang lain. Mungkin ia mengerti pikiranku sedang tak karuan.
"What's wrong hyeong?? Why??" Yoochun masih bawel, Yunho melotot padanya. "Why?" Yoochun setengah berbisik, belum mengerti isyarat Yunho.
"Nado mollaseo!! Wae...wae..wae?!" aku mendengus kesal, bangkit dari chimdae dan berlalu meninggalkan mereka.
Aku menyendiri di gasibu belakang villa, menatap laut yang memantulkan cahaya bulan sepotong. Lihatlah bulan itu pun sedang menyendiri, bintang - bintang bersembunyi di balik awan. Malam ini aku enggan menyiapkan makan malam, bahkan saat Yunho memanggilku untuk masuk dan makan malam bersama adikku yang lain, aku masih enggan beranjak dari sini sampai angin malam membuatku ngantuk dan kedinginan. Akhirnya aku masuk ke villa dan langsung ke dalam kamar, terlelap merehatkan pikiranku yang masih dipenuhi tanda tanya.
*****
Esok paginya, aku terbangun saat mentari menyilaukanku dan udara pagi berhembus dari jendela yang sudah terbuka. YooSuMinHo sudah tidak ada di kamar. Aku segera ke kamar mandi, melepas pakaianku #sensor# lalu mencoba menyegarkan pikiranku dengan menyirami kepalaku di bawah guyuran shower agak lama.
"Hyeong, sebenarnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Changmin hati - hati di meja makan. YooSuHo menatapku, menunggu kata - kata meluncur dari mulutku.
"Molla!" jawabku enggan sambil melahap roti panggang potongan besar dalam sekali suap.
"Wae, Nurul ssi pulang sendiri sambil menangis??" Yunho pun bertanya hati - hati. Aku hanya mendelik padanya.
"Ne hyeong, apa yang telah kau perbuat padanya?" kini Junsu melanjutkan iterogasinya yang terputus kemarin, "Keugo arayo Jaejoong hyeong? Do you know what?"
"Molla!" potongku asal.
"Nurul ssi kau apakan hyeong?" lanjut Junsu, "Geunyoga jigeum aphayeo."
"Mwo?? Aphayo??" tanyaku kaget, hamper keselek roti panggang yang sedang kukunyah.
"Ne, Dian said that she's sick after last evening," tambah Junsu.
"Aish! Wae ireoyo??" aku menepuk - nepuk dahiku sendiri.
"Memangnya, apa yang hyeong lakukan padanya kemarin?" Yoochun penasaran.
Mataku mengarah pada Yunho, "Yunhoya, nega ttemune!"
"Mwo?? Na??" Yunho mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri, bingung.
"Ne, nega ttemune," aku mendelik pada Yunho, "Kau bilang aku harus lebih agresif!"
"Maksudnya?" Yunho malah balik tanya.
YooSuMin menatap aku dan Yunho bergantian, tak mengerti dengan arah pembicaraan kami.
"Ne, gara - gara ngikutin saran Yunho untuk lebih agresif, malah begini jadinya," aku mengusap - ngusap pipiku yang rasanya masih terasa panas, sebenarnya hatiku yang panas.
"So, what did you do?" tanya Junsu, YooMinHo pun menatapku penasaran.
"Dia tiba - tiba menangis waktu aku mencium bibirnya," jelasku agak gengsi menceritakannya karena reputasiku bisa down, "Bahkan, dia sempat menampar pipiku sebelum berlari meninggalkanku," aku mengusap - ngusap pipi kiriku.
"Mwo?!!" teriak mereka sok kaget, "HUA... HA… HA… HA..." tawa mereka menggema se-antero villa.
"Gya, Jaejoonga... siapa suruh langsung nyosor aja! HUA... HA... HA...!" Yunho tak berhenti menertawakan aku.
"Tapi Nurlul bilang sebelumnya kalau dia juga cinta padaku. Jadi artinya dia nerima aku dong? Tapi kenapa malah begini?" tanyaku tak mengerti.
"Agresif maksudku bukan langsung nyosor gitu. Tapi agar kau berani meyakinkan lagi padanya tentang perasaanmu," bela Yunho, "Pabo~ya!"
"Wae?? Apa salahnya kissu? Toh, kami saling mencintai," belaku juga.
"Gya Jaejoonga, ini kan bukan Korea! Kulturnya beda, jangan main cium aja!" Yunho mendaratkan sebuah jitakan di kepalaku, kurang asem! Aku kan lebih tua darinya!
“NYA…. HA…. HA… HA….!” YooSuMin juga makin terpiingkal - pingkal, 'Huh! Apanya yang lucu?' gerutuku dalam hati.
“Eh, tapi apa salahnya kalau Cuma kissu?” tawa Junsu tiba – tiba berhenti, “Dian juga mau kissu sama aku.”
“Gya! Jadi tempo hari kau lanjutkan kissu dengan Dian?” todong Yoochun.
“Eu.. kyang… kyang…!” Junsu malah tertawa lepas, “Of cors, I mean of course! Eu… kyang… kyang….”
“Kembali ke masalah Jaejoong hyeong,” potong Changmin, “Jika Nurul ssi mencintai Jae Hyeong. Why did she refuse to kissing?”
“Mmmh, mungkin dia tipe Indonesian yeoja yang pemalu,” tebak Yunho, “Mungkin dia kaget ditembak langsung dikissu.”
“Aaaah, ara.. ara…. Dia pasti kaget dikissu namja seganteng aku,” Pe – De ku mulai terbit kembali.
“Cish! Jaejoong’s narcissism!” Yunho mencibir dengan bibirnya yang khas.
“Tapi kenapa sampai geunyo cried badly and now she’s being fever??” Tanya Junsu dengan Konglishnya yang campur aduk.
Mollaseo,” jawab Changmin.
Yoochun pun menjawab, “Nado mollaseoyo.”
Yunho mengangkat bahu, tanda belum mendapat ide. Aku kembali diliputi tanda tanya dalam benakku.
***to be continued...***