Monday, May 24, 2010

XIAH JUNSU Kimi Ga Ireba (FULL Song)

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 14




FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 14
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

Hi, long time no see "Uri gilda sigan anbwa" *Junsu mode* Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya ketemu lagi dengan kisah ini *lebay on* Kagak pake lama lagi, langsung aja.... silahkan baca ceritanya... hope U like it :D
Untunglah kemarin sopir kami, I mean... sopir Hikaru san sudah belanja bahan - bahan makanan. Tak tanggung - tanggung, dari Tasik belanja jauh - jauh ke daerah Korean Town di Jakarta. Semua itu demi mendapatkan 'bahan baku' masakan korea.... demi memperkenalkan masakan Korea pada my angel (cieee, sok deket). Sebenarnya aku ingin ikut agar dapat memilih sendiri bahan - bahan masakannya, malu dong kalau sampai masakanku kurang enak karena salah atau kurang bahan. Tapi karena di Jakarta kabarnya banyak cassiopeia, akhirnya hyeong yang ikut ke sana.
Jadilah rencana hari ini, mengundang Nurul ssi dan temannya makan siang di sini. Aku semangat sekali memasak hidangan yang akan kusajikan nanti, bedanya sekarang aku tidak membuat masakan yang berasal dari babi ataupun mengandung alkohol, karena Nurul ssi tidak suka. Soju yang biasa kusajikan sebagai minuman pendamping pun tidak ikutan, kali ini diganti dengan Insam Cha dan Bori Cha. Setelah siap menata hidangan di meja pendek ala Jepang yang terletak di gasibu belakang villa, dibantu oleh YooMinHo dan ahjeomma yang menjaga villa itu, aku buru - buru berlari ke kamarku, ganti baju, merapikan rambut dan penampilanku.
"Perfect!" KLIK! Aku mengagumi refleksi diriku di cermin, "Jaejoonga, hwaitiiiing!!" mengepalkan tanganku, lalu kembali ke belakang villa.
Ternyata Junsu sudah kembali 'membawa' Nurul ssi, Dian ssi, dan ... ah siapa gadis yang tempo hari hampir tewas tenggelam itu? Mmmmh...
"Perkenalkan, ini Ayu," Nurul memperkenalkan gadis itu.
"Jaejoong," kujabat tangannya sambil tersenyum tamah.
"Ayu," gadis itu pun tersenyum.
"Silahkan, inilah masakan Korea. Semuanya aku yang masak sendiri," ucapku bangga, "Ayo Nurul ssi," aku duduk di samping yeoja itu, menunjuk mangkuk nasi di hadapannya, isyarat mempersilahkan pertama padanya.
Nurul masih tampak tak terbiasa dengan penyajian hidangan di hadapannya, begitu juga Ayu. Sementara keempat adikku sudah mulai menyantap hidangan dengan 'lahap', maklumlah selama liburan di sini kami belum 'bertemu' masakan khas negeri kami lagi. Dian tampaknya tidak begitu asing dengan hidangan Korea, katanya dia pernah beberapa kali makan di restoran Korea di Jakarta dan Bandung.
"Nurlul, coba ini," setelah membolak - balikkan irisan galbi sapi di panggangan, kuletakkan dengan sumpitku di atas mangkok nasinya.
"Gomawo," senyumnya, sambil meniru aku menggunakan sumpit untuk menyuap nasi dan potongan galbi itu. Tapi berkali - kali gumpalan nasi dan potongan galbi itu jatuh kembali ke mangkoknya.
"Begini," tanpa izin aku menarik mangkok nasinya dan, "Aaaaa," aku memberi isyarat padanya untuk membuka mulutnya, refleks satu suapan masuk ke balik bibirnya yang indah itu, "Eottohke? Masakanku enak tidak?"
"Mmmmh...mmmh..." Nurul mengangguk - ngangguk sambil mengunyah suapan itu.
Aku girang melihat ekspresinya yang tampak menikmati masakanku, "Aku suapin saja ya?" semangatku.YooMinHoSu cengar - cengir.
"A..ah... gwaenchana, aku coba sendiri," ucapnya kikuk, menarik kembali mangkuk nasinya. Tambah cantik yeoja ini bila mukanya yang kuning langsat jadi bersemu pink.
"Kalau tidak biasa pake sumpit, pake sendok saja, gwaenchana," kulepaskan sumpit yang ia pengang dan menggantikannya dengan sendok (kesempatan pegang - pegang jemarinya yang indah, he..he..)
"Iya..iya... pake sendok saja," Changmin yang biasanya asik sendiri bila sedang makan, masih sempat - sempatnya ikut menggantikan sumpit Ayu yang duduk di sampingnya, "Silahkan Ayu ssi," senyum Changmin SKSD.
Kini aku 'memainkan' kembali sumpitku, membolak - balikkan bulgogi di panggangan, lalu meletakkannya lagi di atas mangkuk nasi Nurul. Geu yeoja masih malu - malu menyuap makanannya.
"Dian~a, aaaaa.." Junsu menyuapi Dian dengan irisan daging, nasi dan bumbu yang dibungkus daun selada, "Enak kan?"
"Mmmh...mmmm..." Dian mengunyah sambil mengacungkan jempolnya, "Gomawo oppa," lanjutnya setelah menelan makanannya.
'Sejak kapan ni anak dekatnya? Kemarin - kemarin masih pada malu - malu,' ucapku dalam hati melihat Junsu dan Dian sudah akrab banget. Yoochun menggigit sumpitnya dongkol. Yunho dan Changmin tersenyum 'iba' melihat Yoochun kalah saingan.
"Ayu ssi, ayo silahkan," ucap Yunho mencairkan kekakuan Ayu yang belum begitu mengenal kami.
"Iya, terima kasih," Ayu masih canggung.
"Kejadian tempo hari.... saya mewakili semua, mohon maaf.... jeongmal mianhamnida," Yunho membungkuk 90°, "Ayu ssi, gwaenchanayo?? I mean... tidak apa - apa?"
"Tidak apa - apa, saya sudah tidak apa - apa..." senyum Ayu tulus.
"Ne, jeongmal mianhamnida... mohon maaf," Changmin ikut - ikutan, "Itu semua gara - gara Junsu hyeong nendang bolanya kesetanan," ledek Changmin melirik Junsu. Yang dilirik malah mendaratkan sebuah jitakan 'mesra' di kepalanya, "Aish!" rintih Changmin.
"Jega... saya tidak sengaja. I'm so sorry... Jeosonghamnida... maaf sekali ya?" kini Junsu yang membungkuk 90°.
"Tidak apa - apa. I'm fine now," Ayu ikut membungkuk, "Saya dengar kak Yunho juga sakit gara - gara menolong saya. Saya minta maaf."
"Eeeeh, gwaenchanayo. Justru saya tidak berhasil nolong Ayu ssi, Yoochun lah yang menyelamatkan kita," Yunho menyunggingkan senyum pada Yoochun.
"Bagaimanapun saya terima kasih," ucap Ayu, "Terima kasih banyak, Yoochun.... ssi," ia membungkuk sekali lagi.
"Cheonmaneyo... sama - sama banyak... eh..." Yoochun senyum - senyum bangga.
"Haaah, ini semua gara - gara bola Junsu hyeong... " ledek Changmin lagi.
"Oh my god, sun! Aku kan tidak sengaja," Junsu manyun, Dian tersenyum melihat tingkah idolanya. "Gara - gara Yoochun juga manas - manasin aku..." Junsu malah berbalik menyalahkan Yoochun.
"Mwo?! Na???" ekspressi polos khas Yoochun sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Sudah... jangan saling menyalahkan. Yang penting sekarang semuanya baik - baik saja. Lebih baik lanjutkan makannya, Jaejoong sudah cape - cape memasak," ujar Yunho menengahi.
"Mmmh, betul... betul," anggukku sambil menelan makanan yang telah ku kunyah, "Nah, coba yang ini... namanya Samgyetang," promoku pada Nurul, "Sup ayam ginseng sangat baik untuk musim panas eh kemarau seperti ini."
"Mmmmh, enak sekali," puji Nurul setelah mencobanya, "Jaejoong ssi... I mean Jaejoong oppa, pernah sekolah chef ya? Masakannya seperti masakan chef hotel bintang lima," pujinya lagi.
"Aaaah...eeh, bakat alam kok," jawabku narsis sambil merapikan rambut dengan telapak tanganku. Yunho sempat mencibir, melihat tingkah narsisku. Aku membalasnya dengan pelototan dan mengangkat alisku sekilas, isyarat KENAPA?? MEMANG AKU TAMPAN DAN MULTI TALENT!!
"Nah, kalau yang ini namanya Kimchi Jjigae.... yang ini Sundubu Jjigae... yang ini.... " bla.. bla.. bla...aku terus semangat mempromosikan semua masakanku bak pelayan restoran saja, sampai - sampai ketinggalan menghabiskan porsiku sendiri.
Setelah semuanya menghabiskan makanan utama dan kurapikan meja dibantu ahjumma dan pelayan satunya lagi, aku menghidangkan kudapan pudding kelapa muda dan Yaksik dengan Bori Cha dan Insam Cha sebagai pilihan minumnya. Eh, tapi Junsu ke mana? Dian juga sudah menghilang?
"Junsu dan Dian ssi ke mana?" tanyaku sambil menyerudup Bori Cha yang beraroma khas.
"Oh, mau jalan - jalan katanya," jawab Yunho.
"Tampaknya, Junsu hyeong sudah dekat dengan Dian ssi ya?" sambung Changmin sambil asik mengunyah Yaksik. Sementara Yoochun manyun karena tampaknya dia benar - benar kalah saingan.
*****
Aku mengantar Nurul ke rumahnya (walaupun hanya dibatasi pagar tanaman), MinHo mengantar Ayu ke rumah ibunya yang tinggal di desa ini juga sementara Yoochun katanya mau jalan - jalan menghirup udara segar.
Sepulang mengantar Nurul, kulihat Yoochun sedang berdiri merapat di sudut tembok, memperhatikan sesuatu di taman samping villa. Penasaran, aku mengendap - endap mendekatinya, semakin dekat semakin kudengar bunyi CIIT...CIIT... dari arah taman, sepertinya suara ayunan. Kuhampiri Yoochun semakin dekat, kucolek punggungnya.
"Hei, ada apa??" tanyaku pelan.
"Ssst, jangan berisik!" Yoochun mmberikan isyarat telunjuk di bibirnya.
Aku ikut mengintip ke arah ayunan di taman itu. Junsu di ayunan sebelah kiri dan Dian di sebelah kanannya, membelakangi tempat kami berdiri. Kutajamkan pendengaranku, mencoba menangkap perbincangan mereka berdua.
......
"Dian~a, menurutmu oppa bagaimana?" tanya Junsu *aegyo on*
"Bagaimana apanya?" Dian balik tanya.
"Menurut pendapatmu, oppa orang yang bagaimana?" masih aegyo.
"Mmmmh...mmmmh... Menurut Dian, oppa tu sepertinya punya pribadi yang menarik, ramah, baik.... dan ternyata setelah bertemu langsung... oppa lebih baik dari yang kubayangkan, oppa ramah, lucu, tidak sombong dan rajin menabung," canda Dian.
"Eiiiih, oppa serius," cubit Junsu di pinggang gadis itu.
"I..hi.., Dian serius oppa..." ucap Dian menahan geli cubitan Junsu.
......
"Aish! Pake cubit - cubitan segala!" bisik Yoochun ngiri.
"Husss, jangan berisik," bisikku menempelkan telunjuk di bibirnya.
......
"Dian~a," Junsu bangkit dan berdiri menghadap Dian yang masih duduk di ayunan, menggenggam rantai ayunan itu, "Nan neoreul saranghae," Junsu menatap wajah gadis itu.
"O..oppa serius??" hening "Dian kan hanya orang biasa, sedangkan oppa selebriti..." nada suara Dian ragu.
"Dian~a, I really fallin' love with you," Junsu membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Dian.
"Na... nado oppareul saranghaeyo..." suara Dian hampir tak terdengar dari sini, "Setelah bertemu langsung, ternyata aku tidak hanya mengidolakan oppa... tapi juga benar - benar jatuh cinta.."
Wajah Junsu semakin mendekati wajah Dian, tangannya meraih pundak gadis itu perlahan. Bibir mereka semakin berdekatan, Dian memejamkan mata....
"Hyeongdeul! What's going on?" suara lantang Changmin dan tepukan Yunho di pundakku, membuyarkan 'konsentrasi' kami.
Bukan hanya itu, Junsu dan Dian juga kaget menyadari bahwa mereka berdua sedang diintip. Junsu hampir tersungkur dan Dian hampir terjungkal dari ayunan, untung Junsu refleks mendekap bahunya. Entah bagaimana air muka kedua insan itu jadinya, aku jadi gak enak hati sudah mengganggu.
"Aish..!" aku menutup muka malu. 'Gak jadi deh liat adegan kissu!' gerutuku dalam hati.
"Oh! Junsuya.. Dian ssi, mianhae..." Yunho segera menggiring kami berdua masuk ke dalam villa, Changmin mengekor.
Tiba di ruang tengah, Yunho mendorongku dan Yoochun duduk di sofa. Changmin pun tampak siap menginterogasi kami.
"Hyeongdeul! Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" dengan tampang juteknya, muka Changmin mendekati muka kami berdua.
"Kalian sedang mengintip Junsu pacaran ya?!" Yunho melotot, wajahnya ikut mendekat.
Aku dan Yoochun terpojok, bagai maling yang sedang diinterogasi polisi.
"Uri... kami.. gak sengaja hyeong.." bela Yoochun terbata - bata.
Yunho menatap Changmin sekilas, entah memberi kode apa. Mereka berdua semakin mendekat ke wajah kami, dengan tampang juteknya, bagai harimau yang hendak menerkam mangsanya. Aku dan Yoochun semakin terpojok.
"Apa yang kalian lihat dan dengar tadi?!" tanya Yunho galak.
"Ya! Apa yang hyeongdeul lihat dan dengar tadi?!" Changmin tak kalah galak.
"Mmmmh...eeeh..." aku gugup tak tahu harus mengatakan pembelaan apa, "Kami... kami..." aku nyengir sambil garuk - garuk kepala memasang tampang innocent.
"Gya!!" Yunho menggebrak sofa, melirik Changmin lagi.
"Ceritakan pada kami," tiba - tiba MinHo merengek dengan nada aegyo.
GUBRAKKKK!!!
***to be continued...***

Bagaimana hubungan Jaejoong dengan Nurul selanjutnya?? Kok masih belum ada kemajuan?? Sementara 2 hari lagi JaeChunSu kembali ke Jepang dan HoMin ke Korea. Apakah Junsu dan Dian akhirnya harus berpisah?
Nantikan kisah selanjutnya... *disambit audien pake sendal jepit* H...H... lumayan buat naek motor kalo lagi becek :D

Tuesday, May 11, 2010

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 13



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 13
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

Last episode: Jaejoong mendapati Yunho terserang demam tinggi. Mungkin karena tenggelam saat menolong seorang gadis kemarin. Junsu begitu panik ingin segera membawanya ke rumah sakit di kota, namun atas pertimbangan manajer JaeChunSu, mereka memutuskan untuk memanggil dokter pribadi Hikaru Shan, walaupun harus menunggu agak lama.
"Hhhhh... Jebal.... please... don't kill them... hajima.. Hhhh... andwaeeee..." Yunho masih saja mengigau tak karuan. Dokter pribadi Hikaru san di sini, baru saja menyuntikkan obat melalui cairan infusnya. Sore hari dokter itu baru tiba di sini, karena perjalanan dari Jakarta ke sini nampaknya memang jauh walau lewat jalan tol dan by pass.
"Bagaimana dokter? Kenapa panasnya belum juga turun? Dan dari tadi dia terus mengigau," tanya Junsu dengan nada khawatir.
"Pasien yang mengalami demam tinggi memang biasanya mengigau. Hasil analisis sementara, Yunho san sejak awal sudah mengalami kelelahan yang membuat daya tahannya menurun, sehingga efek tenggelam itu membuat keadaannya drop. Setelah dia sadar dan keadaannya stabil, mungkin perlu pemeriksaan lebih lanjut. Saya khawatir paru - parunya mengalami peradangan akibat kemasukan air laut," jelas dokter itu, "Saya tunggu di luar kamar. Bila pasien sudah sadar, tolong panggil saya. Kalau begitu, saya permisi," dokter itu keluar dari kamar ini diantar hyeong. Tinggal aku dan YooSuMin yang menemani Yunho.
Aku ikut duduk di pinggir tempat tidur itu, memandangi wajah Yunho yang pucat menggigil. Junsu mengganti air es dari pengompres itu dan meletakkannya kembali di dahi Yunho, sementara Yoochun menaikkan selimut tebal itu sampai leher hyeongnya. Changmin hanya memandangi wajah hyeongnya dengan mata yang berkaca - kaca.
"Jebal hwange... don't kill them... aku akan jadi budakmu selamanya...asal jangan bunuh mereka... puthakhae...." Yunho masih tetap mengigau dengan nada ketakutan.
"Hyeong..." Changmin membelai rambut hyeongnya yang basah oleh keringat dingin.
"Ah...ah... puthakhae.... Hwange... andwae... Junsuga... andwae!... Junsuuuuuu!" Yonho hampir berteriak dengan suaranya yang lemah.
"Hyeong, aku di sini..." Junsu menggenggam telapak tangan Yunho yang dingin, tapi dia masih tetap dalam igauannya.
"Andwae... Yoochunaaaa...!" Yunho menjerit lagi.
"Tenang hyeong, aku juga di sini...." Yoochun menggenggam telapak tangan kiri Yunho hati - hati, takut menggeser selang infus yang melingkar di jari tengahnya.
"Jaejoonga.. Changmina...... andwae... don't hurt them... don't kill them... andwaeeeeee!" Yunho kembali berteriak histeris, "Ekh..ekh...ekh...eeeukkkkh," kemudian Yunho seperti tercekik dan susah bernafas.
"Hyeong...waeyo??" Junsu panik, kami bertiga pun tak kalah panik.
"Euisaniiiim!!" Changmin teriak memanggil dokter. Sekejap dokter masuk bersama hyeong. Kami tambah ketakutan melihat Yunho yang seperti tercekik tak bisa bernafas.
"Don't worry, it's just a nightmare. Dalam keadaan tidak sadar, pasien kadang mengalami mimpi buruk yang terbawa dari alam sadarnya, bisa dipengaruhi oleh keadaan hati atau masalah - masalah yang sedang dihadapinya," jelas dokter itu, melepaskan stateskop dari telinganya, "Jangan khawatir, sebentar lagi Yunho san akan tidur tenang setelah obatnya bekerja."
"Oh, i see... Gamsahamnida euisanim, terima kasih. Maaf mengagetkan anda. Silahkan istirahat dulu. Kami akan menjaganya di sini," aku membungkuk 90° mempersilahkan dokter itu keluar kamar ini lagi didampingi hyeong.
Dokter itu benar, setelah beberapa menit kemudian Yunho sudah tidak mengigau lagi. Ia mulai tidur tenang, walaupun panas tubuhnya belum begitu turun. Aaaah, aku hampir saja mati ketakutan, takut kehilangan salah satu sahabatku yang sudah kuanggap saudaraku ini.
Sore itu kami berempat duduk di karpet yang terhampar di samping tempat tidur itu menunggui Yunho sampai malam tiba. Aku dan Junsu di samping kanan memegang tangan kanan Yunho seakan ingin mengalirkan kehangatan pada leader kami. Yoochun dan Changmin di sebelah kiri, Yoochun menggenggam tangan kiri Yunho sedangkan Changmin memegang kaki Yunho yang masih agak gemetaran di balik selimut tebal itu. Walaupun keadaan Yunho sudah tenang, kami tetap tidak beranjak dari situ sampai kami pun tertidur.
*****
Samar - samar sesuatu yang hangat di bawah telapak tanganku bergerak perlahan, membuatku terjaga.
"Yunho ya... kau sudah bangun?" aku mengucek - ngucek kelopak mataku yang masih terasa lengket.
"Huwaaaah," Junsu menggeliatkan badannya, "Hyeongaaa... taengida.."
Yoochun pun terbangun, Changmin membuka tirai dan daun jendela agar udara pagi masuk, senyum kami mengembang.
"Hyaaa! Kenapa kalian tidur begitu?! Kenapa aku dikerubungi?" suara Yunho sudah kembali lantang, "Aish! Ini apaan lagi?" telapak tangan kananYunho hendak memegang punggung telapak tangan kirinya.
"A...aa...andwae hyeong! Biarkan cairan infusnya habis dulu," Yoochun mencegah tangan kanan Yunho yang hampir mencabut jarum infus itu.
"Nan gwaenchanarago," ujar Yunho.
"Hyeong sehari semalaman demam tinggi. Kami khawatir sekali tau?!" sela Junsu.
"I said, I'm fine!" ujar Yunho lagi sok kuat, "Sudah, aku mau mandi dulu, gerah! Aish!" kali ini dia berhasil mencabut jarum infusnya.
"Eiiiit! Jangan mandi dulu!" Changmin memegangi pundak Yunho yang hendak beranjak dari tempat tidur, 'memaksa' hyeongnya itu untuk kembali rebahan, "Kali ini giliran hyeong yang harus menuruti perintah kami. Udah, istirahat aja dulu!"
"Eish! Jadi bocah ini sekarang ingin jadi bos?" Yunho mengacak rambut Changmin, "Araseo...," sejenak pandangan Yunho menerawang, "Dangshindeul arayo? Aku mimpi yang sangat menakutkan..."
"Mimpi apa hyeong?" tanya Changmin. Kami berempat duduk di pinggir tempat tidur itu mengarahkan pandangan kami pada Yunho penasaran.
"Aku bermimpi kita berlima menjadi ksatria dari sebuah kerajaan, rajanya sangat kejam dan serakah. Kita hanya dijadikan alat untuk menindas kerajaan - kerajaan kecil di sekitarnya yang tidak membayar upeti. Lalu kita sepakat untuk mengelana ke negeri lain, tapi raja itu tentu saja marah. Kita malah dijadikan pelayan keluarga kerajaan," Yunho menghela nafas panjang.
"Laluuu???" Yoochun penasaran.
"Akhirnya Yoochun, Changmin, dan Junsu berhasil kabur. Aku memutuskan untuk tidak ikut dulu karena Changmin dikuasai putri raja yang genit dan tergila - gila padanya," Yunho menghela nafas lagi, "Tapi raja mengetahui rencana kita berlima, dan dia mengerahkan segenap pasukan untuk memburu Ksatria JaeChunSu. Akhirnya kalian bertiga pun berhasil ditangkap dan disiksa di dalam penjara bawah tanah... dan.. dan... kalian pun dihukum mati di depanku dan Changmin beserta seluruh penduduk kerajaan. Karena kita berdua membela kalian, akhirnya Changmin pun ikut dihukum mati dan raja itu mencekikku sampai mati..."
Changmin dan Yoochun tertegun mendengar cerita Yunho. Junsu melongo dengan mulut terbuka lebar. Aku pun tak berkata sepatah kata pun mendengar cerita mimpi Yunho.
"Haaaah, mimpi itu terasa benar - benar nyata. Aku sangat takut mimpi itu pertanda buruk bagi kita. Benar - benar takut..." helaan nafas Yunho terdengar berat.
"Sudahlah hyeong, jangan terlalu dipikirkan. Itu kan hanya mimpi," Changmin jadi tampak lebih dewasa saat menenangkan Yunho, "Hyeong mimpi buruk karena sedang sakit saja, demammu tinggi, jadi wajar kalau sampai mimpi buruk. Iya kan hyeong?" lirik Changmin padaku.
"Ne, Yunhoya. Betul itu, kata dokter juga orang yang sedang demam tinggi sering mengalami mimpi buruk," ucapku menguatkan perkataan Changmin, "Bahkan kau banyak mengigau waktu demam kemarin."
Junsu dan Yoochun mengangguk - angguk setuju.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan," aku menepuk bahu Yunho, mencoba menenangkannya, "Aku akan buatkan sarapan dulu untuk kita. JaeChunMin, kalian mandi dulu sana!"
"Biar aku bantu buatkan sarapan untuk Yunho hyeong," Junsu bangkit hendak mengekorku.
"Anya... nanti dapurnya bisa kacau!" ledekku, "Aku juga tidak mau masakanmu malah meracuni Yunho."
"Gya, hyeoooong!! Masakanku tidak seburuk itu!" teriak Junsu.
"Sudahlah hyeong, aku juga tak mau kau membunuh Yunho hyeong dengan masakanmu," tambah Changmin sambil terkekeh.
"Gyaaaaa!!" Junsu menimpuk Changmin dengan bantal.
Yunho dan Yoochun hanya menggeleng - geleng sambil tersenyum geli melihat tingkah 'kucing dan anjing' kumat lagi. Aku bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan untuk kami semua.
*****
"Mwo?!!" Kontrak sebagai trio??!" tanyaku kaget mendengar penjelasan hyeong, "Andwae hyeong!! Kami hanya mau nyanyi sebagai Dong Bang Shin Ki, berlima!"
"Ini hanya untuk sementara Jae, dalam kontrak baru dengan pihak produser Jepang saja. Kalian boleh mencoba bersolo karier dulu, sambil menunggu HoMin lepas dari kontrak kerja sebelumnya," papar manajer kami, "Lagipula, Yoochun kan sudah kontrak drama Mobille TV dan kau pun kontrak tv drama Jepang. Junsu juga kontrak album single Jepang."
"Tapi aku berat kalau harus berpisah - pisah kerjaan begini," ku hela nafas dalam - dalam, "Hyeong, bagaimana hasil pemeriksaan Yunho kemarin?"
"Gwaenchanayo, kata dokter paru - parunya tidak ada masalah yang serius."
"Taengida..."
"Oke, sebelum kita kembali ke Jepang, tolong diskusikan dulu dengan ChunSu tentang kontrak trio itu," tutur hyeong sebelum membalikkan punggungnya, "Jangan lupa, vacation kalian tinggal tiga hari lagi," hyeong menoleh kembali.
"Hyeong, tolong jangan sampai Yunho dan Changmin tahu dulu tentang masalah ini. Aku tak mau membuat mereka sedih. Biar nanti aku yang bicara sendiri," pesanku sebelum ia meninggalkanku di taman belakang villa.
"Ne," hanya itu jawabannya.
Tatapanku menerawang ke arah hamparan samudera biru yang terbentang di belakang villa ini.
"Gwaenchana Jaejoongaa," tiba - tiba suara yang begitu kukenal membuyarkan lamunanku.
"Yu....Yunhoya..." aku tak bisa menyembunyikan kegugupanku.
"Gwaenchana, aku sudah dengar semuanya," ucap Yunho bijak walaupun terdengar berat, "Lakukanlah yang terbaik untuk kalian," kata terakhirnya lebih ditekankan, membuat hatiku terasa pedih.
"Gomawo Yunhoya.... aku sebenarnya sangat merindukan kebersamaan kita lagi...."
"Araseo, mian kami belum bisa bergabung. Aku harus menjaga Changmin. Tunggulah sampai kami menyelesaikan semua kontrak itu," Yunho menepuk pundakku.
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi, sebenarnya aku tahu HoMin juga berat menjalani semua ini.
"Oya, ngomong - ngomong sudah sedekat apa hubunganmu dengan geu yeoja... Nurul ssi?" tanya Yunho mengalihkan pembicaraan.
"He..he... gak tahu lah. Dia itu jinak - jinak merpati, pegangan tangan gak mau....dipangku gak mau..... diajak nikah juga gak ngejawab...." nadaku jadi antusias, "Tapi aku lihat dari sorot matanya, dia juga jatuh cinta padaku."
"Cinta tak harus terucapkan Jae," hiburnya.
Dia kayaknya masih sakit hati dikhianati namja. Mungkin takut aku juga mengkhianatinya.
"Aku pikir dari sikapnya, dia juga menaruh hati padamu."
Ne, araseo. Yeoja mana sih yang bisa menolak pesona Kim Jaejoong??” candaku narsis.
“Gya…! Dasar narsis!!” Yunho menjitakku pelan.
“He..he..he…” aku malah nyengir imut (narsis lagi). Emang aku imut dan ganteng kaaaaaan?
"Trus, Junsu gimana? Dia dah jadian sama Dian ssi?" tanyanya lagi.
"Gak tahu lah, aku gak liat mereka pernah pergi berdua saja... atau gak ketahuan... entahlah," jawabku sambil mengangkat bahu.
"Trus yang satunya lagi siapa?"
"Maksudmu gadis yang tenggelam itu?"
Ne.
Geulseyo,” mengangkat bahuku kembali, “Aku juga belum mengenalnya. Tapi kayaknya Nurlul ssi kenal dia. Waeyo Yunhoya?”
Anio,” jawabnya sambil cengar – cengir penuh misteri, “Indonesia eui yeoja cakep – cakep ya?? Cantiknya unik, beda dengan Hanguk yeoja…. Yeppoyo kuna,” Yunho cengar – cengir lagi, entah apa yang dikhayalkannya.
Geuroooom! Rasnya aja beda. Eh, jangan – jangan kau naksir geu yeoja….”
Anio, aku hanya mengagumi kecantikannya… I mean, kecantikan yeoja Indonesia,” jawab Yunho, “Tapi boleh juga kalau ada yang karakternya tipeku.”
“Gya! Go Ara mau dikemanakan??” godaku.
Mwo?? Jangan buat gossip sembarangan yaaa?! Aku dan dia tu cuma sobatan aja karena kita dah maen drama bareng!” Yunho menyerangku dengan jitakan di kepalaku lagi.
Mian…mian…” aku meringis sambil menghalangi serangannya dengan kedua tanganku, “Tapi emang benar, yeoja Indonesia itu punya pesona tersendiri… he.. he…” kini giliran aku yang mengkhayal.
“Ya makanya cepat pastikan hubunganmu dengan Nurul ssi, sebelum kau kembali ke Jepang,” ujar Yunho.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku kayak orang bego.
“Kamu harus lebih agresif dong!”
Ne,” aku mengangguk – angguk, padahal belum menangkap maksud kata – kata agresif itu.
“Nah, gituuuu dong! Kim Jaejoong, hwaitiiiiing!!!” Yunho mengepalkan telapak tanyannya.
Hwaitiiiing!!” teriakku tak kalah semangat.


***to be continued...***