Wednesday, April 21, 2010

DBSK 東方神起 Coconut Secret Story ENG SUBBED

Tuesday, April 13, 2010

한 사랑하는데 .... Han Saranghaneunde...


Author: 아야 비루나시아

**Annyeong FanFic Lovers seantero jagad*lebay* ni FF sbnarnya cerpenku jaman SMP-SMU, cuma diedit nama n settingx ja n beberapa bagian kecil. X ni tokohnya magnae Suju (cause gak begitu kenal members yang lain), mian kalau karakter aslinya beda *dtimpukin ELF*

“Eun Hye~ya, kamu nggak bosan diam di rumah terus?” tanya Ji Hye.
“Habis  gimana? Semua sahabatku tidak mau ngajak aku jalan bareng lagi,” sindir Eun Hye, ia  kesal karena ketiga sahabatnya tidak mengajak nonton Konser Shinee dua hari yang lalu.
"Bukan tidak mau ngajak kamu, tapi kami nggak enak sama Gyu oppa," bela Hyo Joo.
"Iya, sepertinya Gyu tak suka melihatmu jalan lagi sama kita," timpal Yu Won.
"Bukan begitu," Eun Hye menghela nafas.
"Dia curiga kita akan kenalan dengan cowok - cowok keren, hingga kamu tergoda, gitu??" tebak Ji Hye.
Eun Hye merasa tak perlu menjawabnya karena sahabatnya sudah tahu sifat Gyu Hyun, cowok yang dicintainya.
"Eun Hye~ya, aku heran dengan perubahan sikapmu. Kok sekarang kamu mau gitu aja diatur - atur cowok seenak perutnya," tambah Ji Hye.
"Entahlah, aku hanya merasa diperhatikan. Tidak seperti Chang Min dan Kang In oppa," kenang Eun Hye, "Chang Min oppa terlalu cuek dan Kang In oppa pun terlalu sibuk hingga kurang memperhatikan aku. Bukan aku menjelek - jelekkan mantan sendiri, tapi hal itulah yang membuat hubunganku dengan mereka tidak awet. Sebagai cewek, aku ingin dimanja... ingin cowokku romantis..."
"Gyu Hyun itu bukan perhatian, tapi egois. Mau begini...mau begitu, harus selalu minta izin dia, semua harus sesuai keinginannya!" ujar Yu Won gemas.
"Betul tuh," dukung Ji Hye, "Gyu itu terlalu cemburuan, kelewatan."
"Tapi, dia bersikap begitu karena sangat sayang padaku."
"Eun Hye..yeuppeuna, cemburu emang tanda cinta, tapi jangan keterlaluan. Kalau terlalu curigaan gitu, sama saja dia tidak percaya kamu. Eun Hye~ya, yang penting dalam suatu hubungan itu bukan hanya saling mencintai, tapi juga harus saling mengerti dan percaya satu sama lain," nasehat Yu Won.
Ji Hye mengangguk - angguk sambil 'menyuplai' kacang telur ke dalam mulutnya. Sedangkan Hyo Joo asyik menepuk - nepuk bantal Taz kesayangan Eun Hye, mengikuti irama 'Neorago' remix yang mengalun dari home speaker di kamar itu.
Hyo Joo membisu bukan tak perduli, tapi ia tak mau terjadi salah paham karena ia sebenarnya pernah dan masih mencintai  Gyu Hyun. Tapi ternyata ia hanya bertepuk sebelah tangan, cowok itu memacarinya hanya untuk membuat sahabatnya cemburu. Pedih sebenarnya, tapi itu sudah lama berlalu dan kini cowok itu sudah menjadi kekasih sahabatnya. Walau pedih, ia berusaha rela demi melihat cowok yang dicintainya serta sahabatnya Eun Hye bahagia.
*****
Mentari sore memancarkan cahayanya yang hangat, eun Hye duduk di teras samping rumahnya. Sejak tadi, ia hanya membolak - balik halaman majalah di pangkuannya, namun tak ada minat sama sekali untk membacanya. Pikirannya mengembara ke mana - mana, 'Semua yang dikatakan Yu Won memang benar...'  bisik hatinya.
Sejak pacaran dengan Gyu Hyun, ia tak punya kebebasan lagi untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Bila ketahuan ia pergi bersama orang lain tanpa sepengetahuan Gyu Hyun, cowok itu pasti menginterogasinya habis - habisan. Apalagi kalau melihatnya ngobrol akrab dengan teman - teman cowok. Segala hal yang akan dilakukannya harus sesuai keputusan cowoknya itu, dan Eun Hye selalu menurutinya.
Padahal dulu, Eun Hye paling sebel diatur - atur oleh cowok. Tapi ia sudah terlanjur cinta pada cowok itu. Gyu adalah cinta pertamanya semasa Chodeung Hakyo dulu, kakak kelas yang sangat diidolakannya. Gyu adalah cowok yang cerdas, tampan, ramah, sopan, kalem, pokoknya di mata Eun Hye sangat sempurna. Kyu emang digilai oleh semua cewek, termasuk Eun Hye. Saking naksirnya, Eun Hye bela - belain meraih nilai yang bagus pada ujian akhir sekolahnya, supaya bisa melanjutkan ke Jung Hakyo terfavorit di Seoul agar satu sekolah lagi dengan cowok itu.
Sebenarnya, Gyu pun diam - diam menaruh asa padanya, tapi ia tidak penah punya nyali untuk mengatakannya pada Eun Hye, sehingga ia keduluan Changmin dan Kang In. Bahkan untuk mencari tahu perasaan Eun Hye, Gyu sempat pacaran dengan Hyo Joo, sahabat gadis itu. Pada saat kelulusan Godeung hakyo, akhirnya Gyu berani mengutarakan perasaannya dan berterus terang tentang hubungannya dengan Hyo Joo. Awalnya Eun Hye marah karena Gyu telah memanfaatkan sahabatnya hanya untuk membuatnya cemburu, tapi ia juga memang sudah lama menantikan Gyu mengungkapkan asa padanya.
'Betapa egoisnya aku, membiarkan sahabatku sendiri dipermainkan seperti itu,' sesalnya dalam hati. Tapi rasa cintanya pada Gyu terlalu kuat, hingga mampu meredam kemarahannya. Padahal dulu, ia paling benci cowok yang suka seenaknya mempermainkan perasaan kaum hawa.
*****
"Eun Hye~ya, kenapa kudu pemberianku kamu pinjamkan kepada dia?!" bentak Gyu, mukanya merah padam menahan marah.
"Maksud oppa?" Eun Hye pura - pura tidak tahu.
"Kudu yang kuberikan kemarin, kamu pinjamkan pada Hyo Joo kan?!!"
"Ah oppa, dia juga punya kudu yang seperti itu," bela Eun Hye ngeles.
"Oya?!!"
"Ye."
"Kalau begitu, ayo kita makan malam di tempat biasa. Aku mau kamu memakai kudu itu, biar serasi dengan gaun yang kita beli seminggu yang lalu."
Eun Hye kebingungan, soalnya sepatu kulit yang dimaksud memang dipinjamkan pada Hyo Joo. Gawatnya, Gyu baru saja melihat sahabatnya itu pulang memakai sepatu itu, kostan Eun Hye memang tidak jauh dengan sahabatnya itu.
"Kenapa, kok bingung?!" selidik Gyu Hyun.
"Mmmmh, mianhae... sebenarnya sepatu itu memang dipinjam Hyo Joo."
"Oooo, begitu ya?! Kalau tidak suka, kenapa tidak kamu buang saja sekalian?!" amarah Gyu meluap kembali, "Kenapa dia harus pinjam segala?? Emangnya dia gak punya sepatu apa?!! Dan kau, benar - benar tidak menghargai pemberianku. Aku sudah susah - susah mencari yang bagus untukmu!!"
"Bukan begitu oppa, dia baru saja mendapat panggilan kerja, tapi sepatu Hyo Joo ssi casual semua dan tak ada waktu untuk beli dulu. Jadi kupinjamkan."
"Kenapa harus sepatu itu?? Dia sengaja ya ingin buat kita bertengkar??"
"Dia tidak tahu kok, kalau sepatu itu pemberian oppa..." Eun Hye menunduk.
"Haah!! Aku nggak percaya!! Teman - temanmu itu memang ingin merusak hubungan kita kan?!?" Gyu Hyun masih ngotot.
"Cukup!!!" tiba - tiba gadis itu menatap Gyu Hyun tajam, bibirnya gemetar menahan tangis dan kesal, "Gara - gara masalah sepatu saja, oppa marah - marah! Selama ini, belum ada yang pernah membentak - bentak aku seperti ini!" air mata Eun Hye tumpah tak terbendung lagi.
Gyu Hyun kaget dengan reaksi gadis yang teramat dilindunginya itu, sampai ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Biasanya gadis itu hanya menunduk lalu minta maaf bila telah membuatnya kesal atau cemburu.
"Kenapa?? Oppa kira aku gak bisa marah?!" tatap Eun Hye tajam, "Selama ini aku selalu sabar menghadapi sikapmu, aturan - aturanmu, dan kecurigaan - kecurigaanmu yang berlebihan. Tapi sekarang aku tidak tahan lagiiiii!" tangis Eun Hye makin meledak.
"Aku....aku lakukan semua itu untuk kebaikanmu."
"Aniyo! Oppa hanya memuaskan ego saja," ucap Eun hye sengit, "Keugo arrayo?! Demi menuruti oppa, aku jadi jauh dengan sahabat - sahabatku?! Oppa yang telah merusak persahabatan kami!"
"Oppa tak bermaksud begitu Eun Hye~ya. Oppa hanya takut kehilangan kamu. Oppa terlalu mencintai kamu Jagiya," Gyu mengelus kepala kekasihnya lembut, berharap kemarahan gadis itu mereda.
"Itulah masalahnya! Oppa tidak pernah mempercayai aku, oppa tidak percaya kalau aku akan setia padamu. Seharusnya oppa mempercayai dan mengerti aku!" tangis Eun Hye belum berhenti.
"Oppa sungguh mencintai kamu Eun Hye, oppa ingin kamu jadi milikku selamanya, jadi isteriku."
"Belum jadi isteri saja sudah dikekang, apalagi...." Eun Hye tidak meneruskan kata - katanya, ia hanya tersenyum sinis.
"Oppa serius Jagiya," Gyu Hyun menggenggam tangan kekasihnya.
"Sudahlah! Sudah cukup! Kita tidak bisa berlanjut lagi!" Eun Hye mencoba tegas, ia tidak berani menatap mata Gyu Hyun.
"Mwo?? Maksudmu??" Gyu Hyun tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Kita putus!" Eun Hye masih tertunduk, sibuk mengusap air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah lagi di hadapan cowok itu.
"Mworaguyo??" Gyu Hyun masih tak percaya dengan pendengarannya, "Eun Hye~ya, coba tatap mata oppa. Kamu tidak serius kan? Kamu juga sangat mencintai oppa, kan??" Gyu Hyun mengangkat dagu gadis itu lembut.
"Aku memang mencintaimu. Tapi kalau oppa tidak pernah bisa mengerti dan mempercayai aku. Lebih baik kita putus!! Aku sudah memikirkannya, ini keputusanku!" Eun Hye menatap mata cowok yang dicintainya dengan tatapan pedih.
Gyu Hyun tidak bisa berkata apa - apa lagi, ia mendadak seperti orang bisu. Kemudian ia bangkit dari sofa itu dan melangkah gontai meninggalkan ruang tamu itu, di ambang pintu ia sempat menoleh lagi tapi nampaknya Eun Hye tidak akan menahan atau memanggilnya kembali.
Perasaan Eun Hye tersayat - sayat menatap cowok yang dicintainya pergi dengan raut sedih. Namun ada sedikit rasa lega karena telah dapat menentukan sikap. 'Kamu masih punya sahabat yang menyayangimu Eun Hye,' hiburnya dalam hati. Dan kini ia sebebas merpati, bisa terbang ke mana saja. Walaupun butuh waktu mengobati kesedihannya, tapi ia akan berusaha.

***The End***

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 11



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 11
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

**Annyeonghaseyo DBSK's  FanFic lovers ^_^  *lambai2 geje* mian agak lama lanjutannya cause lagi mumet ama tugas n kerjaan. Kemarin sampai mana ya?? Oya, sampai Junsu dan Yoochun rebutan Kwaja Ssang (Cemilan Kembar) si rangining dan ranginang, terusik oleh suara bel di pintu depan...*"Cepetan ceritanya!" readers menggetokku kejam*
O.K. Here you are... selamat membaca....

Hyeooooooong, i just can’t believe it...... hyeoooong!” di ruang depan Junsu masih teriak heboh dengan bahasa Inggrisnya yang aneh, malu – maluin kalau kedengaran tetangga. Pasti hyeong membelikan makanan enak, sampai Junsu teriak - teriak heboh. 'Biasa aja kali!' gerutuku dalam hati.
“Maaaaaax, i miss you soooooooooo...!" teriakan noraknya terdengar lagi.
"Mwo?? Max?" aku dan Yoochun berpandangan, lalu bergegas menyusul ke ruang depan, memastikan 'huru - hara' yang terjadi di ruang depan.
"Yunho yaaaa...." aku ikut berteriak geje melihat seseorang yang berdiri di depan pintu, aku berlari dan langsung memeluknya.
"Changminaaa......," Yoochun pun berteriak sambil membuka tangannya dan berlagak lari gerak lambat ala film kartun ke arah cowok jangkung yang datang bersama Yonho.
"Yoochun hyeoooooong,"  Changmin ikut - ikutan 'konyol' meniru gerakan hyeongnya, berpelukaaan.
"Hwaaa.... aku kangen sekali ama kalian," ujar Yonho melepaskan pelukanya dariku lalu menarikku untuk berpelukan bersama kedua dongsaeng kami.
"Berpelukaaaan," akhirnya keempat teletubis pun berpelukan, "Dong Bang Shin Ki, hwaitiiiiiiing!"
Lho? Kayaknya ada yang hilang?? Kami berempat menoleh pada seseorang yang masih mematung di ambang pintu dengan bibir bawahnya yang maju satu senti, mukanya sudah bersemu merah.
"Hwaaaa.... eomma....." Junsu pura - pura nangis.
"Ha...ha...ha..." tawa puas kami berempat meledak.
"Gya.... kalian jahaaaaaat!" teriak Junsu manja.
Kami berempat saling lirik sejenak, "Junsu yaaaaaa....." teriak kami kompak mengembangkan tangan, berlari gerak lambat kearahnya, dengan gaya konyol masing - masing.
"Berpelukaaaaaaan!" kami berlima kembali berpelukan ala teletubis, lalu berangkulan bersama masuk ke ruang tengah.
"Hyeoooong, gomapseomnida telah membawakan mereka berdua pada kami," aku membungkuk hormat pada manajerku. Dia hanya mengangguk lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya, sementara para pengawal membereskan belanjaan serta koper Yunho dan Changmin.
"Haaaaah, jauh juga dari bandara ke sini ya? Tapi aku puas karena bisa bertemu kalian bertiga," Yunho menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Kami berempat mengikutinya.
"O...ige mwoyeyo?? Lucu sekali, bundar - bundar," Changmin mengambil toples plastik yang tadi diperebutkan Junsu dan Yoochun, "Igon kwaja iyeyo?" KRAUKKK!! Changmin 'mengimpor' satu potongan ranginang ke dalam mulutnya, "Mmmmh, enak... unik..." dan mulutnya pun tak mau berhenti mengunyah KRAUKKK..... KRAUKKK! sampai isi toples itu tinggal beberapa potong ranginang dan rangining.
"Ya, Changmin! Jangan kau habiskan dong!" Junsu merebut kembali toples berisi 'kwaja ssang' itu.
"Hwa.... hyeong, kau jahat sekali! Aku sudah lama tak menikmati cemilan seenak  ini," rengek Changmin.
"Emangnya kamu gak dikasi makan di sana??" ledek Junsu.
Heuuuh, mulai deh ni anak berdua. Kalau jauh kangen - kangenan, kalau dekat seperti 'cat and dog', ledek - ledekan terus.
"Udah, jangan mulai deeh! Kalian berdua sudah makan malam belum?" tanyaku melirik Yunho dan Changmin.
"Belum, kami baru makan makanan ringan saja sepanjang perjalanan tadi. Kami takut ada yang mengenali kalau mampir di restoran dulu," papar Yunho.
"O.K. then, aku siapkan makan malam dulu," aku berlalu ke dapur menyiapkan makan malam untuk kami semua.
Aku bahagia bisa makan bersama lagi dengan members yang lengkap, bersama manajer serta pengawal kami (JaeChunSu) yang baru. Dan HoMin tidak diikuti manajer mereka kali ini, jadi nggak canggung.
Mereka semua tampak lahap menukmati masakanku malam ini, terutama Changmin.
"Mmmmh, eomma.... sudah lama aku kangen dengan masakanmu," lirik Changmin padaku sambil sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya. Aku tersenyum puas dan bahagia, bisa melihat adikku yang satu ini menikmati masakanku lagi. Ia tampak lebih kurus dibanding terakhir kali kami bertemu, mungkin kecapean karena jadual syuting drama yang begitu padat ditambah harus bolak - balik ke Jepang mengikuti kegiatannya sebagai member group.
Kulihat Yunho pun agak kurusan sekarang, mungkin dia juga kecapen dengan jadual kegiatan konser anumerta penyanyi idolanya, sekaligus menjalani tanggung jawabnya sebagai leader group kami. Uri Yunho sebenarnya tampak lelah, tapi sebagai leader ia selalu menunjukkan semangatnya demi kami berempat.
"Yunho, kok kalian berdua bisa punya waktu untuk datang kemari. Memangnya mereka kasih izin untuk bertemu dengan kami??" tanyaku hati - hati.
"Mmmh, sebenarnya kita gak bilang mau nyusul kalian ke sini," Yunho berhenti menyuap makanan dari mangkuknya, "Beberapa hari yang lalu, Changmin  jatuh sakit karena kecapean. Jadi aku berusaha merayu agar mereka mengatur kelonggaran jadual syuting untuk memberi kesempatan cuti seminggu pada Changmin. Kebetulan minggu ini jadualku juga agak luang. Kami bilang mau berlibur memenangkan diri di suatu tempat rahasia yang tidak diketahui publik maupun penggemar."
"Ya, pantas kau lebih kurus sekarang," Yoochun memandang magnae kami  dengan penuh sayang.
"Mianhae Changmina, kami gak tahu kalau kamu sakit," ucap Junsu ngebaikin.
"Nega gwaenchanayo... hyeongdeul, kalau tidak begitu kan susah untuk berkumpul bersama kalian lagi," Changmin tersenyum.
"Changmina... manhi meogeoyo," ucapku seraya menambahkan Bulgogi ke mangkuk nasinya.
"Hiks... hyeongdeul, aku bahagia bisa berkumpul bersama kalian lagi," tiba - tiba Changmin menangis haru sambil terus menyuap makan malamnya yang tinggal sedikit lagi, "Walau di sana para pemain lain dan krunya baik - baik. Tapi aku tetap kurang semangat bila tidak bersama kalian. Aku kangen sekali makan senikmat ini, karena bersama hyeongdeul."
"Ooooh, Changminaaaa...," Junsu bangkit dari kursinya lalu merangkul adik bungsu kami.
"We're miss you too, bro," Yoochun ikut memeluknya dari belakang.
Aku dan Yunho pun ikut mengerubungi magnae kami. Punggung Changmin berguncang  menangis haru.
"Hyeongdeureul saranghaeyo," Changmin tambah sesegukan, "Kalian tahu batapa aku lelah bekerja tanpa kalian. Aku ingin selalu berjuang...bekerja keras  bersama kalian..."
Kami tambah erat memeluknya, mengalirkan kehangatan yang ia rindukan. Kehangatan dari kebersamaan yang juga kami semua rindukan. Manajer kami tersenyum haru, bahkan ketiga pengawal yang berbadan kekar pun menangis terharu.
"Hwaaaa...." tangis haru salah seorang pengawal kami terdengar agak kencang.
"Eiy??" ekspressi khas Yoochun penuh tanda tanya di sela - sela pelukan kami.
Kami berlima yang sedang serius - seriusnya larut dalam keharuan, saling pandang kemudian menoleh kompak ke arah tiga pengawal berbadan kekar yang sedang menangis haru sambil membentuk 'formasi' pelukan  mereka sendiri.
"Mh...mh...mh... Eu kyang..kyang..." Junsu yang pertama tidak dapat menahan tawa melihat pria - pria berotot kekar itu menangis kayak anak kecil.
"Hua...ha...ha...ha....!" Changmin yang tadinya menangis kini tertawa terpingkal - pingkal, disusul tawaku dan kedua 'ne dongsaeng' yang lain. Hyeong (manajer) yang tadinya cuma senyum - senyum jaim pun ikutan terbahak.
*****
Pagi harinya, Junsu sudah bangun pagi - pagi membangunkan kami semua. Changmin dan Yunho yang masih tampak lelah pun akhirnya berhasil dipaksa bangun oleh Junsu, dia ngotot ngajak kami maen bola di pantai. 'Euuuh, anak ini kalau sudah ngajak main bola, susah ditolak!' gerutuku dalam hati. Setelah mandi, aku menyiapkan sarapan dulu, nasi goreng yang akhir - akhir ini jadi menu sarapan favorit kami.
"Hyeong, Nurul ssi eui jeonhwa beonho isseoyo?" tanya Junsu melirik padaku sambil menyantap nasi gorengnya dengan cepat.
"Isseoyo, wae??" jawabku sambil mengunyah.
"Call her please, tell her bahwa kita mau ngajak Dian ke pantai," rayu Junsu mengunyah suapan terakhirnya.
"Sirheo! Lagian, dia pasti sudah berangkat ngajar," jawabku malas.
"Come on Hyeong. Help me please, hyeong??" rengek Junsu menarik - narik lengan kiriku, memasang tampang innocentnya. Akhirnya aku ngalah juga, menelpon Nurul untuk menyampaikan pesan Junsu kepada Dian.
"... Nurl belum berangkat ke sekolah?" tanyaku setelah menyampaikan pesan Junsu.
"Oh, hari ini ada libur tanggal merah," jawab suara lembut di seberang sana.
"Assa...!" aku melompat girang, keempat dongsaengku menatap penuh selidik, aku cuek saja.
"Ne? Jaejoong ssi kenapa??" tanya suara lembut itu lagi.
"Eh, tidak apa - apa," jawabku malu - malu," Kalau begitu Nurl, bisa ikut kan?"
"Mmmh, oke...aku ikut."
"Nanti kami jemput ke rumahmu ya?"
"Ne."
"Sampai jumpa," aku menutup percakapan.
"Ya, sampai jumpa," jawabnya, TUUT...TUUUT... sambungan terputus.
"Saranghaeyo... mmuaaah!" kukecup ponselku. Keempat dongsaengku tambah heran memandangku, terutama Yunhoo dan Changmin.
"Aaaah, hyeong... kau sedang jatuh cinta yaaaa?" tanya Changmin senyum - senyum.
"Siapa itu Nulul ssi? Pacarmu??" Yunho pun ikut penasaran.
"Nurul ssi itu gebetannya Jaejoong hyeong. Cantik, anggun..." Junsu angkat bicara.
"Yang satunya lagi?? Siapa tadi? Diana? Kamu dapat pacar juga di sini Su?" Yunho masih penasaran.
"Oh, kalau Dian ssi itu gebetan aku hyeong. Gadis cantik, tinggi, postur tubuhnya cukup seksi..." sela Yoochun.
"Bukan hyeong, dia calon pacar aku," Junsu mendelik pada Yoochun.
"Kita lihat saja nanti... he...he..." Yoochun nyengir jail.
"Eeeeh, jangan berantem lagi. Ayo cepat!" ajakku setelah membereskan meja makan.
Kami berlima menjemput Nurul dan Dian membawa sepeda masing - masing. Waktu mereka berdua keluar dari rumah itu, Dian hampir saja pingsan lagi melihat kami bertiga 'membawa' Changmin dan Yunho. Untung pingsannya tidak jadi, Junsu segera 'menangkap' tubuh gadis itu yang hampir tumbang. Satu poin buat Junsu, Yoochun manyun iri. Tambah manyun lagi setelah Dian memilih untuk naik boncengan Junsu. Nurul naik boncenganku, kami bertujuh pun pergi ke pantai.
Di pantai mereka menandai dua gawang di kedua sisi berlawanan dengan ranting yang diambil dari tepian. Di sisi kiri Junsu dan Changmin melawan kubu kanan, Yoochun dan Yunho. Aku memilih jadi wasit, duduk manis bersama Nurul di pinggir 'lapangan'. Sedangkan Dian jadi supporter kedua kubu, lho?? Berhubung supporternya cuma satu orang, he..he.... Tapi Dian lebih cenderung jadi supporternya kubu Junsu.
"Junsu oppa, hwaitiiiiig!" Dian melompat girang saat Junsu mencetak goal.
Aku dan Nurul asyik ngobrol berdua.
"Oya, Dian itu sudah lama jadi penggemar kami?"  tanyaku pada Nurul.
"Ne, setahuku sih begitu. Aku jadi ingat, di kamarnya penuh sekali dengan poster - poster kalian. Makanya, aku perasaan pernah lihat kalian waktu kita pertama kali bertemu," jelas Nurul.
"Pantas dia sampai pingsan waktu melihat kami bertiga," ucapku agak narsis, "Ngomong - ngomong, members yang paling disukai Dian, siapa?"
"Mmmmh, dia sering menyebut - nyebut Xiah atau Dolphin," Nurul agak  mikir, "Aaaah, Xiah itu Junsu kan? Soalnya, wallpaper notebook dia selalu foto Junsu."
"Ne, majayo. It's Xiah Junsu, nama panggungnya. Para fans juga sering nyebut dia Dolphin, karena dia bisa menirukan suara lumba - lumba. Dan kata mereka juga, Junsu itu lucu seperti lumba - lumba, ha...ha..." jelasku, "Wah, sepertinya Yoochun akan kalah ni."
"Kalah apa?" tanya Nurul.
"Anio, bukan apa - apa..." aku garuk - garuk gak gatel, "Oya, apa Nurul  suka dengan lagu - lagu kami?"
"Mmmh, aku jarang dengar lagu - lagu Korea. Di sini jauh ke kota, akses internet pun agak susah. Tapi aku pernah membeli DVD drama Winter Sonata, karena baru itu yang ada di toko kaset. Jaejoong ssi tahu kan drama itu? Di Indonesia, itulah drama korea yang paling terkenal."
"Ne, itu memang drama korea sepanjang masa," anggukku, "Oya, panggil aku oppa dong. Jangan terlalu formal," aku nyengir - nyengir.
"Ne, Jae oppa..."
"Nah begitu dong..."
"Goaaaal!" teriak Yoochun berhasil membobol gawang kubu Junsu.
"Yeaaaah, Yoochun oppa hwaitiiing!" Dian ikut teriak dari pinggir 'lapangan'.
Melihat Dian menyemangati saingannya Junsu jadi kegerahan, ia tambah beraksi mencari - cari perhatian. Ia terus menggiring bola dengan lincah. Saat hampir dekat gawang lawan, bola itu ditendang dengan sekuat tenanga. Begitu kencang tendangannya sampai - sampai bolanya melambung tinggi ke balik bukit karang di sebelah kanan.
"Aaaaaaaah!" terdengar teriakan seorang gadis seiring bunyi 'sesuatu' yang jatuh ke dalam air.
Kami segera berlari ke arah suara tadi, celingak - celinguk di atas punggung bukit itu. Saat menengok ke bawah jurang setinggi 7 meteran di pinggirnya, tampak seorang gadis melambai - lambaikan tangan di permukaan air, hampir tenggelam.
"Tolooong!" teriaknya lemah, sekejap gadis itu tidak nampak lagi.
"Ayuuuuu!" teriak Nurul panik, rupanya ia kenal gadis itu.
Yunho segera melepaskan kaosnya lalu melompat ke dalam air laut yang ombaknya cukup kuat, ia langsung menyelam ke dalam air. Sesekali Yunho naik ke permukaan untuk mengambil nafas. Kami berdiri mematung, terkesima melihatnya sambil berharap - harap cemas. Masalahnya aku tahu Yunho tidak begitu pandai berenang apalagi menyelam. Dan ombaknya cukup kuat, kami khawatir mereka akan terhempas membentur karang di bawah sana.Kami semakin cemas karena Yunho juga tidak muncul lagi ke permukaan.
"Hyeoooong?!" Junsu berteriak histeris.
"Yunhoyaaaaa....?!" aku pun ikut berteriak mamanggilnya, tapi Yunho belum juga muncul dari dalam air.
Melihat hal itu, aku pun segera membuka kaosku hendak  nekat meloncat ke dalam air walau akupun tak pandai berenang di laut. Tapi Yoochun yang juga segera melepas kaosnya, mencegahku. Yoochun segera terjun ke dalam air laut yang bergelombang itu.
BYUUUURRRR!!  seiring suara debur ombak yang menghantam karang.

**...to be continued...**

Friday, April 2, 2010

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 10




FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 10
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

"Annyeonghaseyo," sore hari teman Nurul yang kemarin pingsan beberapa kali, datang ke vila saat kami bertiga sedang duduk-duduk di teras. Gadis itu tampak malu-malu, mungkin karena kejadian kemarin.
"Annyeonghaseyo," jawab kami kompak.
"Kamu bisa bahasa Korea?" tanya Junsu.
"He...ne, chogeum," gadis itu nyengir malu-malu.
"Nega gwaenchanayo?" tanya Junsu lagi.
"Ne, gwaenchanayo," gadis itu salah tingkah.
"Jeongmal gwaenchanayo?? Kemarin kamu sampai pingsan beberapa kali, aku khawatir sekali," ucap Junsu, mungkin dia takut apa yang dialami Jang Mi terulang lagi.
"Ne, gwaenchana... saya cuma malu dan kaget saja," Gadis itu tertunduk, mukanya merona.
"Haaah, taengida," Junsu menarik nafas lega.
"Hya....Junsuya! Kenapa tidak persilahkan tamu kita duduk?" sela Yoochun.
"Oh...iya, sampai lupa! Silahkan duduk," Junsu menarik menarik sebuah kursi.
"Terima kasih, saya hanya mau ambil motor."
"Maaf, sampai lupa mengantarkannya kemarin," ucapku mewakili.
"Anio, saya yang harus minta maaf karena telah merepotkan oppadeul kemarin," Gadis itu membungkuk 90◦.
"Biar aku yang mengantar, mari... motornya ada disebelah sini," Junsu mengajaknya ke samping Villa.
"Hyeong, sudah bertemu Nurul ssi?" tanya Yoochun.
"Belum, sepertinya dia menghindar. Telpon pun selalu ditutup."
“Apa dia marah pada kita??” tanyanya lagi.
Molla,” jawabku malas, meninggalkannya di teras villa sendirian.
Aku menyusul Junsu ke samping villa, kulihat dia sedang 'berlagak' memeriksa motor gadis itu, padahal dia sama sekali tidak tahu soal teknik permotoran.
"Agassi, ireumi mwoeyo?" kuulurkan tangan.
"Oh, nama saya Dian," gadis itu menyambut jabatan tanganku, lalu melepasnya kembali dengan sedikit gugup.
"Mmmmh, by the way, Nurlul ssi kemana ya? Entah kenapa sejak kejadian kemarin sikapnya berubah pada kami," tanyaku penuh penasaran.
"Aaah, keuge... sepertinya eonni agak marah setelah kuceritakan siapa oppadeul..."
"Maksudmu??" potong Junsu.
"Oppadeul, Dong Bang Shin Ki’s members, majyo??"
"Jadi....kau tahu siapa kami??" aku agak kaget.
"Of course I know who you are. Naneun cassiopeia iyeyo," jelas Dian, "Makanya saya langsung pingsan karena malu, gak percaya, sekaligus kaget melihat oppadeul. Apalagi begitu sadar aku bertemu Junsu oppa," ia kembali tertunduk malu.
"Jigeum.... Nurlul ssiga odieso?" tanyaku lagi.
"Tadi eonni jalan ke pantai di bawah, dia..."
Tanpa mendengar Dian meneruskan kalimatnya, aku segera mengambil sepeda dan meluncur ke pantai.
Di pantai itu, kulihat dia sedang berjalan telanjang kaki di atas hamparan pasir putih yang sesekali tersapu ombak. Sepeda yang tadi membawaku ke sini, kugeletakkan begitu saja, segera kuberlari menghampiri Nurul.
"Nurlul ssi," kugenggam pergelangan tangan kanannya, agak memaksanya untuk berhadap-hadapan denganku. Sendal yang dia jinjing terlepas jatuh.
"Nurlul ssi, jeongmal mianhaeyo," kini kugenggam kedua jemari tangannya yang halus dan indah itu, "Aku tidak bermaksud membohongimu."
"Tidak bermaksud??!" dia berusaha melepaskan genggamanku, "Aku paling benci dibohongi, apalagi oleh laki - laki! Lepaskan!!" ia melepaskan genggamanku agak kasar, kemudian berlari meninggalkanku. Aku hanya mematung memandanginya yang semakin menjauh. Aku tidak mengerti, mengapa hanya karena aku menyembunyikan identitasku yang sebenarnya, dia bisa semarah ini.
Saat ku tertegun, Dian datang dibonceng Junsu dengan sepeda.
"Jaejoong oppa, ada yang ingin saya ceritakan tentang Nur eonni," gadis itu menghampiri aku, "Eonni pada dasarnya adalah orang yang selalu berprasangka baik pada siapa saja, malah menurutku dia terlalu mudah percaya sama orang lain hingga kepercayaannya kadang dimanfaatkan dan sering dikhianati orang. Rata-rata yang mengkhianatinya laki-laki, entah itu sahabat, teman kuliah, tetangga, bahkan kerabatnya sendiri. Walau sakit hati, tapi eonni selalu mudah memaafkan, " Dian menghela nafas. Aku dan Junsu diam menunggu kelanjutan ceritanya.
"Waktu tinggal di Bandung dia pernah punya kekasih yang kemudian pergi ke Jakarta meniti karir sebagai penyanyi, aktor, sekaligus model. Walaupun berbeda kota dan kekasihnya jadi selebritis yang sibuk, hubungan mereka malah semakin dekat sampai tunangan. Eonni percaya dengan kesetiaan laki-laki itu. Tapi ternyata laki-laki brengsek itu di Jakarta sering hura-hura main perempuan hingga dia menghamili salah satu teman artisnya. Eonni sangat terpukul karena dia sangat mencintai laki-laki itu. Mulai saat itu dia benci sekali dengan kebohongan sekecil apapun, apalagi kalau yang membohonginya laki-laki."
Aku tertegun mendengar penjelesan Dian. Junsu juga tidak bicara sepatah kata pun, tapi kakinya tidak bisa diam memainkan pasir.
"Tapi oppa tak usah khawatir, nanti juga eonni memaafkanmu. Sekarang ia hanya sedang sedih, karena oppa seorang selebriti juga, eonni jadi teringat mantan tunangannya," lanjut Dian.
"Kira - kira dia ke mana sekarang?"
"Kalau sedang sedih, eonni sering duduk menyendiri di balik bukit karang sana," Dian menunjuk ke sebuah bukit, tadi Nurul memang berlari ke arah sana.
Tanpa bertanya-tanya lagi, aku segera menuju ke sana, menaiki bukit karang itu. Ya, dia memang ada di sana, duduk sendiri dengan mata yang berkaca-kaca menatap deburan ombak. Aku menghampiri, duduk di sampingnya. Dengan lembut kupegang bahunya dan menghadapkannya kearahku.
"Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo. Aku tidak tahu kamu punya luka yang dalam. Tolong jangan menangis lagi," kuseka lembut bulir-bulir bening yang membasahi pipinya dengan punggung telapak tanganku.Dia tidak berkata apapun, masih menunduk. Aku bisa melihat luka yang dalam dari pandangan matanya yang digenangi air mata itu.
"Tidak semua laki-laki jahat dan pendusta. Ijinkan aku menyembuhkan luka hatimu, ijinkan aku melindungimu. Aku tak kan membiarkan kau menangis lagi," kuangkat dagunya lembut, menatap matanya yang berkilauan, "Trust me, aku tak kan berbohong lagi."
Bulir-bulir bening itu semakin deras meluncur dari pelupuk matanya, isaknya semakin kudengar. Kudekap lembut perempuan yang telah menaklukkan hatiku itu, membiarkan ia menumpahkan air matanya di bahuku.
"Nurlul ssi, saranghaeyo..." bisikku sambil membelai rambutnya yang lembut.
"Tapi aku...." Nurlul melepaskan dekapanku.
"Sssst," ku sentuh bibirnya dengan telunjukku, tak membiarkannya mengatakan alasan apapun. Aku bisa melihat dari sorot matanya kalau ia pun menyimpan asa padaku.
"Eomona! Kakimu berdarah!" kuraih telapak kaki kanannya yang berdarah, mungkin terkena karang saat dia berlari tanpa alas kaki tadi. 'Ah, begitu dalam kah luka hatimu? Hingga kaki terluka pun tidak terasa,' batinku sambil mengikatkan sapu tanganku untuk menahan darahnya, dia hanya meringis sedikit.
"Kaja," aku menyodorkan punggungku.
"Anio, aku masih bisa jalan," tolaknya halus.
"Eiiiy, tapi kakimu terluka," tukasku masih membungkuk membelakanginya, "Cepat naik!"
"Anio, gwaenchanayo. Gak enak, tidak baik..." Nurul bangkit lalu berjalan terpincang-pincang.
'Ah, kenapa tidak mau??' gerutuku dalam hati. Akhirnya tanpa ijin aku memangkunya menuruni bukit ini, ku tahu ia tak kan berusaha berontak karena aku bisa terpeleset di antara bebatuan karang ini. Setelah tiba di pantai baru ia minta diturunkan, tapi aku tidak menurut.
"Jaejoong ssi, tolong turunkan aku. Tidak enak kalau dilihat orang. Lagipula kita kan bukan suami isteri, tidak pantas," ia berontak.
"Kalau begitu, ayo kita jadi suami isteri?" godaku masih belum menurunkannya, "Panggil aku oppa dulu, baru kuturunkan."
"Usia kita kan cuma beda setahun," protesnya.
"Panggil oppa," rajukku.
"Ne oppa, cepat turunkan aku!"
Akhirnya aku mengalah, kuturunkan dia sambil mesem - mesem senang.
"Aaakh!" ringisnya sambil menarik kaki kanannya yang terluka dari ombak yang menyentuhnya, pasti perih.
"Tuh kan! Tidak menurut padaku sih! Ayo sini,” aku hendak memangkunya lagi.
Andwae...andwae... Gwaenchanayo,” dia menepiskan tanganku sementara kaki kanannya masih menghindari ombak, hingga akhirnya dia jatuh duduk karena kurang keseimbangan.
Eomeo! Mianhae,” sesalku ikut duduk di atas pasir basah itu sambil memegang telapak kaku kanannya yang terluka, melindunginya dari ombak.
"Ouh, teteh! Kenapa kakinya??" Dian berlari kecil menghampiri kami, diikuti oleh Junsu.
"Gak apa-apa de, teteh cuma lupa pakai sendal tadi," Nurul tersenyum sambil masih meringis.
"Igeon Nurul eui sinbal iyeyo?" tanya Junsu menjinjing sepasang sendal jepit biru dan meletakkannya di dekat kaki Nurul.
"Ne, igeon ne sinbal iyeyo. Gomawo," Nurul hendak memakai sendal itu.
"Anio, jangan dipakai, nanti kakimu tambah sakit," cegahku, "Junsuya, tolong ambil sepedaku."
Junsu mengambil sepeda yang tadi kugeletakkan beberapa meter dari tempat kami duduk.
"Ayo naik! Sinbal tidak usah dipakai!" perintahku pada Nurul, dia menurut naik ke jok boncengan sepedaku. Junsu membonceng Dian, kami berempat pulang menuju rumah dan villa di atas bukit dengan naik sepeda.
*****
Malam hari, kami bertiga duduk santai di ruang tengah villa, memindah-mindah chanel televisi lokal, mencari program yang bagus. Hyeong (manajer kami), sopir dan ketiga pengawal kami belum juga pulang dari siang tadi. Katanya sih mau ke kota sebentar membeli bahan makanan, tapi jam 7 p.m. masih belum pulang. Jangan-jangan mereka nyasar? Ah tidak mungkin, sopir tuan Hikaru kan orang Indonesia yang sudah hapal benar jalan di sini. Mungkin mereka jalan-jalan dulu, mumpung masih ada di sini. Benar saja, tak lama kuterima sms dari hyeong, kalau mereka keliling-keliling dulu.
"Gya, Yoochuna! Kenapa mukamu ditekuk begitu?? Jelek tau," kutepuk punggung Yoocun yang sejak tadi cemberut, mogok ngomong.
"Dia cemburu tuh, karena hyeong tambah dekat dengan Nurul," ledek Junsu yang tengah asyik menikmati cemilan asli Indonesia yang diberikan oleh eoma Nurul. Apa tadi namanya? Kalau tidak salah 'ranginang' dan 'rangining', hi..hi.. namanya kedengaran aneh dan lucu bagiku. Itu cemilan kembar mungkin, namanya mirip, sama-sama terbuat dari bahan dasar beras, bentuknya sama-sama bundar, hanya saja 'ranginang' beras ketannya bulat-bulat utuh sedangkan 'rangining' itu berasnya ditepung dulu. Kembar tapi tak sama, kayak Junsu dan Junho.
"Ya sudah, aku ngalah sama hyeong. Aku tak kan berusaha cari perhatian lagi!" tukas Yoochun sambil merebut toples besar berisi si kembar 'rangining' dan 'ranginang' dari 'pelukan' Junsu.
"Ya, emang kau kalah. Nurul sukanya sama aku," bibirku menyunggingkan senyum kemenangan.
"Ne, hyeong. Aku gak akan ganggu kalian deh. Lagipula sekarang kan ada temannya yang tak kalah cantik, ceria, imut..." Yoochun senyum-senyum menatap langit-langit ruangan, seolah ada gambar seorang gadis di sana.
"Maksudmu??" Junsu yang asik memelototi layar televisi, tiba-tiba mendelik ke arah Yoochun.
"Dian... the flame... ethernal flame..." senyum Yoochun semakin mengembang.
"Mwo?? Andwae! Aku yang duluan!" Junsu merebut kembali toples itu.
"Baiklah, kita bersaing secara jantan. Dian ssi bakal milih siapa nanti. Yang kalah tidak boleh protes ya?" ujar Yoochun penuh percaya diri.
Mendengar perkataan Yoochun, Junsu mengunyah 'rangining'nya dengan gemas, KRAUK.. KRAUK... KRAUK... cepat sekali, sampai serpihan-serpihannya berloncatan dari mulutnya, tercecer di atas karpet bulu.
DING...DONG! suara bel berbunyi.
"Junsuya, bukakan pintu. Mungkin itu mereka pulang." perintahku.
Junsu melangkah dengan malas ke ruangan tamu, Yoochun 'meraih' kembali toples besar berisi cemilan unik itu. Aku ikut mengambil sepotong 'ranginang' memasukkannya ke dalam mulutku, KRAUK...
"Mmmmh, massine!" kataku sambil mengunyah cemilan itu. Once more bite, KRAUKK...
"Hyeoooooong?!" teriak Junsu dari ruang tamu.
**...to be continue...**