Wednesday, March 24, 2010

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 8



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 8
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

Huaaaaah! Aku menggeliatkan badanku sambil menyingkapkan selimut.
What?!! Six o’clock?!?” aku berteriak kaget melirik jam dinding. Eomona! Kenapa bisa kesiangan begini? Padahal dari semalam aku terus menanti datangnya pagi. Yah, mungkin karena semalaman aku terus menghayal, jadi tidurnya larut. Aku harus segera mandi! Bisa - bisa aku keduluan Yoochun. Tuh kan? Anak itu dah gak ada di tempat tidurnya, sementara Junsu masih tidur.
Aku segera mandi #sensor????# setelah itu aku buru - buru memakai training dan kaos yang kuanggap paling keren, 'Aaaa, meositta,' klik! aku menunjuk refleksi cowok ganteng pada cermin di hadapanku.
Setelah memakai sepatu sporty yang kuanggap sesuai, setengah berlari aku menuju halaman samping villa. Benar saja, Yoochun sudah mencuri start bergaya melakukan gerakan - gerakan senam di sana, berharap juga dilihat Nurul sebelum berangkat mengajar. Wah, gimana nich? Apa yang harus kulakukan? Eh, tunggu dulu! Ini kan hari minggu, jadi mungkin saja Nurul tidak akan keluar pagi - pagi. Beruntung aku mendapat ide cemerlang.
Kuenter sebuah nama kontak yang masih baru, 'nuuut...nuuut....nuuuut' belum ada jawaban. Aku tidak menyerah begitu saja, kuenter sekali lagi.
"Hallo? Hallo, dengan siapa ini?" suara lembut di seberang sana.
"Nurlul ssi? Hallo? Ini Jae... Jaejoong," jawabku girang.
"Aaah, Jaejoong?! Ada yang bisa saya bantu?" sapanya seperti customer service saja, aku jadi kikuk.
"Gatji... eh maukah menemani aku bersepeda? Eh tidak, kita jogging saja, mau yah?" tanyaku penuh harap.
"Mmmh, ayo! Aku ganti pakaian dulu ya, nanti nyamper ke situ."
"Eh jangan! Aku saja yang nyamper ke situ ya? Aku ke samping rumahmu ya?"
"O.K. see you." Tuuut...tuuut.
"Assa!" aku melompat girang. Aku segera masuk kembali ke villa, lalu keluar lagi lewat pintu depan sambil mengendap - endap takut ketahuan Yoochun. Lalu aku melesat keluar pintu gerbang berlari menuju samping rumah 'tetanggaku' yang cantik. 'Ha... ha... kasihan kau Chun,' tertawa penuh kemenangan.
"Permisi...!" aku sudah berdiri di samping rumah kayu itu.
Tak lama kemudian Nurul muncul dari pintu depan rumah itu, memakai training biru dongker dan kaos biru muda serta sepatu kets, rambutnya dikuncir belakang, handuk kecil berwarna pink di pundaknya, mukanya yang kuning langsat mulus tanpa polesan. Sederhana, namun semakin mempesona bagiku.
"Kenapa nunggu di sini? Tidak di depan rumah saja," Nurul heran, "Yoochun juga sedang olah raga pagi tuh di samping villa. Kita ajak dia juga yuk?"
"Andwae! Eh, maksudku biarkan dia sendiri, dia tuh suka asyik sendiri. Ayo berangkat!" ajakku.
"Jaejoong hyeong! Nurul ssi, mau kemana??" tiba - tiba kudengar teriakan Yoochun di balik pagar.
'Aish! Ketahuan!' gerutuku dalam hati. Tanpa menghiraukan panggilan Yoochun, aku memegang tangan Nur, menarik dia untuk segera 'melarikan diri'
Setelah agak jauh dari villa, aku mengerem lariku.
"Heh, maaf," aku baru sadar sudah menarik nurul berlari - lari.
"Hu..huh...huh.... kenapa harus lari - lari kayak gini sich," Nurul ngos - ngosan, "Aku sampai kaget, tiba - tiba kamu narik aku lari kencang." Dia menyeka keringat yang bercucuran di dahinya dengan punggung telapak tangannya. Handuk kecil yang tadi dibawanya jatuh entah di sebelah mana saat kami berlari kencang tadi.
'Ah, kesempatan,' aku sok pahlawan menyekakan peluhnya dengan handuk kecilku. Tapi baru saja handuk itu sampai di dahinya, tangan indah itu menepiskannya lembut.
"Eh, tidak usah," seulas senyum manisnya mengembang.
"Mian, tidak apa - apa. Handukmu jatuh juga gara - gara aku tadi," aku tak mau menyerah, kuseka dengan lembut keringat di dahinya.
"Terima ka...," telapak tangan lembutnya yang berusaha menepiskan usahaku, berhenti di atas telapak tanganku.
'Oh, jangan lepaskan,' batinku sambil menatap wajahnya yang merona.
"Eh, terima kasih," kini telapak tangan lembut itu benar - benar 'mengusir' tanganku dari wajahnya.
"Lanjutkan jalan yuk?" ajaknya menutupi kegugupannya sendiri. Dia langsung melangkahkan kakinya, aku tersadar dari bengongku. Lalu mengikutinya berjalan santai menyusuri jalan aspal yang tidak begitu lebar itu. Pagi itu benar - benar indah, seindah suasana hatiku.
Haaaah, gibuni jeongmal johayo, bisa jalan bareng Nurul. Kesempatan emas itu tak kusia - siakan begitu saja untuk lebih dekat dengannya, ha...ha...ha... Sambil jalan santai, kami banyak berbagi cerita. Dia mengajariku bahasa Indonesia dan sedikit 'greeting' bahasa Sunda. Aku pun tak mau kalah memperkenalkanya pada Hangugo, dia cukup cerdas, cepat menangkap 'kursus singkat' itu.
Jalur yang kami lalui pagi itu sebenarnya cukup jauh. Tapi karena begitu asyik, aku tak merasa capek sedikitpun. Malah tak terasa kami berdua sudah hampir sampai di depan rumahnya lagi. 'Aaah, kenapa tidak mengambil track yang lebih panjang?!' sesalku dalam hati.
'Cing cangkeling manuk cingkleng....' tiba - tiba phonecell Nur bunyi.
"Assalaamu’alaikum. Hallo?" sapanya pada orang diseberang sana, terdiam sejenak merapatkan phonecellnya ke telinga.
"Adeeeek? Apa kabar?" Nur terdengar antusias, "Ya?? Mau ke sini? Hah? Dah di jalan?" sambungnya, "Emang dah bisa? Oke deh, ditunggu. Hati - hati ya?" dia menutup percakapannya.
"Siapa?" tanyaku.
"Oh, adik tingkatku waktu kuliah," menyunggingkan seulas senyum termanis.
Kami melangkahkan kaki kembali menuju rumah kayu itu.
"Jaejoong hyeong..." ucap Nur setibanya kami di halaman rumahnya.
"Anio, bukan hyeong tapi oppa. Panggilan dari perempuan pada kakak laki - laki itu oppa," jelasku, "Atau kalau mau, bisa panggil aku 'Kang Jaejoong' he...he...he... Lebih unik kedengarannya."
"O.K. kang Jaejoong, nanti jam makan siang datang ke rumahku ya? Nanti aku masak masakan khas Sunda dan Indonesia," undangnya.
"Jeongmal??? Dengan senang hati," jawabku semangat, "Jeomshim tto mannayo"
"Ne, ajak Junsu ssi dan Yoochun ssi, ya?" tambahnya saat ku berbalik pulang ke villa.
"Ne," jawabku menoleh dulu sebelum melangkahkan kaki kembali menuju villa.
'Ah, kenapa harus ngajak - ngajak dua perusuh itu sich?!!' gerutuku dalam hati.

*****
Siangnya sesuai janji, aku mengajak Yoochun dan Junsu memenuhi undangan makan siang dari Nur. Kami dijamu makan siang di 'saung' panggung di belakang rumahnya, lengkap dengan pemandangan laut biru yang indah di sebelah timur. Ayah ibunya menyambut kami dengan ramah, tapi mereka berdua tidak ikut makan siang karena ada keperluan ke rumah saudaranya di daerah lain. Adi, adik Nurul yang baru kelas 2 SMA sedang main ke kota bersama teman - temannya. Coba kalau dua perusuh ini tidak ikut, pasti aku bisa berduaan dengan Nur!
"Whoaaaa...., banyak sekali makanannya! Sepertinya enak - enak," Junsu memandang takjub semua makanan yang tersaji di atas bale - bale itu.
"Ayo, silahkan. Aku dan ibu yang memasaknya spesial untuk oppadeul," tawarnya sambil mengambil beberapa sendok nasi ke atas piringnya, "Pilih dan ambil sendiri saja ya? Ada rendang dan semur daging sapi, daging ayam yang diopor dan dipanggang pedas, pepes ikan, ikan asin, macam - masam sambel, lalap, tumisan sayuran, sayur asem, sayur lodeh.... cicipi saja dulu mana yang disuka. OK?" promo Nur.
Yoochun ngangguk - ngangguk sambil mengambil bakul berisi nasi yang masih ngebul. Piring Junsu malah sudah penuh, ada nasi dan teman - temannya lengkap, dia benar - benar melupakan dietnya. Yoochun pun tak mau kalah mengambil pepes ikan mas, tumis kangkung, dan lain - lain. Mereka makan dengan lahap sekali. Aku dan Nurul malah bengong melihat kerakusan mereka.
“Mmmh, agak asing di lidah tapiiii..... masitta...!” kata Yoochun sambil menambah masakan lain ke piringnya.
Majayo, it’s very delicious,” timpal Junsu sok ‘Inggris’ dengan mulut yang penuh makanan, “Ayo, silahkan.... jangan bengong saja!” lho, ni anak! Yang tuan rumahnya siapa??
Nurul cengar – cengir sambil melengkapi nasi di piringnya dengan masakan yang ia sebut ‘tumis jambal pedas’, sambal yang agak berwarna dasar kecoklatan dan banyak serpihan buah berwarna hijau, serta lalapan. Aku mengikuti mengambil masakan yang sama dengannya, ‘Supaya kompak gitu...’.
Kemudian Nurul ‘menceburkan’ telapak tangannya ke dalam mangkok yang berisi air bening yang dialasi serbet. ‘Oooh, jadi itu bukan air minum?’ gumamku dalam hati sambil manggut – manggut. Lalu akupun melakukan hal yang sama, lalu mengambil sendok dan garpu, nurul menuangkan gel bening dan meratakan di telapak tangannya. ‘lho, untuk apa lagi tuch?’ tanyaku dalam hati.
“Oh, kalau makanan yang begini pakai tangan Jaejoong ssi. Kalau merasa kurang bersih, bisa pakai hand sanitizer gel ini,” Nurul meraih telapak tanganku dan menuangkan gel bening itu di atasnya. Akupun menggosokkan gel bening itu di telapak tanganku., ‘Andai kau yang meratakannya dengan telapak tanganku....’
Langkah selanjutnya, aku kembali mengikuti cara makan dia, menyuir ikan dan menyatukannya dengan kira – kira sesendok nasi, menyuapnya dengan tangan, mengambil lalap dan mencoelkan pada sambal, dan menyuap dengan tangannya juga. ‘Mmmh’, setelah tahapan ‘suap’ yang terakhir itu, ada aroma udang berbaur di mulutku diselingi rasa agak asam tapi segar.
Ige mwo?” aku menunjuk mangkok sambal tadi, “Ada aroma udang, gurih campur asam segar,” aku penasaran dengan sambal yang unik itu. Seumur hidup baru merasakannya, agak aneh sih tapi dirasa – rasa enak juga.
“Oooh, itu sambal terasi gandaria,” jelasnya.
Terasi?? Gandaria??” aku belum mengerti.
“Terasi itu terbuat dari udang khusus yang dicampur garam, ditumbuk dan diawetkan dengan dijemur,” jelasnya, “Kalau gandaria itu buah asli Indonesia yang rasanya asam, yang mudanya sering dibuat sambal seperti ini. Gandaria itu vitamin C nya tinggi lho!”
“Mmmmh,” aku manggut – manggut sambil terus menikmati makanku.
“Kalau tidak suka dengan aroma terasi, aku buat sambal yang lain kok,” lanjutnya mengambil lalapan, mencoelkannya pada sambal yang lain, “Coba yang ini, sambal goreng tidak pakai terasi,” dan dia menyuapkannya pada mulutku. Junsu dan Yoochun yang sedang ‘sibuk’ dengan suapannya, bengong melihat adegan itu. ‘Ha...ha...ha... sirik ya?!!’ ejekku dalam hati.
Gwaenchana, sambal terasi gandaria juga enak kok,” ucapku jujur, “Rasanya unik, gurih...pedas...asam...seger....! Jeongmal masitta....! Apalagi kalau disuapin Yoja secantik ini,” lirikku pada Nurul. Yang dilirik tersipu malu.
“Aaah, aku juga mau makan pakai tangan saja,” Yoochun meletakkan sendok dan garpunya lalu ‘menceburkan’ telapak tangan di mangkok ‘kobokan’nya. Junsu ikut – ikutan, “Aku juga!”
“Eeeh, kalian kan makannya pakai sup eh...kuah,” belaku, “Bagaimana nyuapnya kalau pake tangan??!”
“Nurul ssi, aku juga mau coba lalap dan sambalnya dong, aaa...” rengek Yoochun membuka mulutnya manja, matanya merem. Junsu ‘berinisiatif’ mencoel lalap pada sambal dan menyuapkannya ke mulut Yoochun. Ha..ha.. bagus Su, kau memang adikku yang cerdas.
“Kya...! Maksud aku....” protes Yoochun sambil mengunyah, telunjuk kiri menunjuk mulutnya dan telunjuk kanan menunjuk pada Nurul di sampingnya.
“Kamu suap aja sendiri,” godaku. Yoochun manyun.
Nurul tersenyum geli melihat tingkah Yoochun, aku tertawa penuh kemenangan melihat CCPnya tidak berhasil lagi. “Eu...kyang...kyang...” Junsu tertawa puas karena telah berhasil ngerjain dia, sampai – sampai ia lupa mulutnya sedang mengunyah makanan, hampir saja muncrat kalau tidak ditutup dengan telapak tangannya.
Selesai makan, aku membantu Nurul membereskannya ke dapur. Yoochun belum menyerah, ia pun ikut – ikutan sambil terus cari – cari perhatian. Lalu kami mengobrol sebentar di saung itu sambil menikmati buah – buahan yang disuguhkan Nurul, dan menikmati AC alam serta laut biru yang cukup menyejukkan. Setelah orang tua Nur kembali, baru kami pamit pulang ke villa.
Saat kami bertiga berjalan menuju gerbang villa, dari arah bawah jalan raya terlihat seorang pengendara motor bebek matic buatan Jepang. Warnanya yang mencolok membuat pandangan kami tertuju padanya, cat motor pink terang, jaket pink, jeans biru muda, sarung tangan pink bercorak ungu, tas selempang ungu, dan helm ungu. ‘Pasti cewek nih! Warnanya Junsu banget?’ pikirku.
“Tid..tid...tiiiid, tid... tiiiid!” sebelum tanjakan yang menikung, klaksonnya berbunyi berkali – kali, padahal jalan itu sepi tak ada kendaraan lain. Sepertinya masih orang itu masih amatir bawa motornya, kecepatanya tidak konstan. Dan di tanjakan itu motornya digas cukup kencang. Setelah tiba di atas, tak jauh dari depan gerbang villa ini, motor itu oleng, ngerem mendadak, daaan GUBRAKKK!!!

**...to be continue...*

Monday, March 15, 2010

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 7





FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 7
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

Haaaaah, cape naik mobil seharian. Kenapa bos gak nyewain helikopter aja dari bandara utama tadi?”keluh Yoochun menghempaskan tubuhnya di atas sofa berwarna biru dongker.
‘Pletak!!’ Aku menjitak kepala Yoochun, “Memangnya mau mendarat di mana?? Terlalu menarik perhatian, nanti ada fans yang ngenalin kita.”
“Kata bos di sini gak akan ada yang ngenalin kita?! Lagian di sini kan sepi, rumah penduduknya aja masih jarang,” alasan Yoochun, “Mmmh, tapi apa iya kita gak dikenalin di sini? Kesihan banget sih kita...” lanjutnya narsis.
“Sudahlah jangan mengeluh lagi. Masih untung kita bisa liburan, jarang – jarang kan dikasih kesempatan kayak gini?” tukasku.
Tapi kurang seru kalau Changmin dan Yunho hyeong gak ikut,” giliran Junsu yang mengeluh.
“Nikmatin saja lah Su. Yunho kan sudah berpesan kalau kamu harus menikmati liburan untuk memulihkan kesehatanmu,” bujukku menoleh pada Junsu, raut mukanya masih kurang semangat.
Sore itu kami langsung istirahat , setibanya kami di sebuah villa di atas bukit . Di sekitar sini hanya ada beberapa rumah, rumah penduduk lainnya menyebar di bawah bukit sepanjang pantai. Pintar juga bos memilih lokasi villanya, sebelah selatan dan membentang lautan biru serta hamparan pantai yang masih ‘perawan’, sebelah barat dan selatan tampak daerah yang masih hijau oleh pepohonan, semuanya terlihat indah dari atas bukit sini.
Junsu tak banyak kata – kata, dia ogah – ogahan diajak liburan karena Changmin dan Yunho tak bisa ikut berhubung schedule kegiatan yang bentrok. Dua orang pengawal membereskan barang – barang kami, manajer kami entah ke mana dulu, katanya sih mau lapor pada ‘pak RT’ ketua organisasi penduduk di lingkungan ini (entahlah aku juga belum mengerti, yang pasti kalau ada tamu atau warga baru harus lapor dulu, demi keamanan dan kenyamanan katanya).
*****
Pagi – pagi sekali kami sudah bangun dan mandi, nyenyak juga tidur kami semalam. Aku menghampiri Junsu yang sedang memandang sunrise di halaman belakang villa yang dipagari tembok beton membatasi jurang yang langsung menghadap laut.
Whoaaa.... areumdakunyo...,” pujiku mengagumi pemandangan yang indah.
Ne, jeongmal areumdawoyo,” sahut Junsu sambil menghirup udara pagi dalam – dalam. Akupun tak menyia – nyiakan udara yang masih segar itu, menarik nafas sambil memejamkan mata.
Oooo, lihat hyeong sebelah sana,” teriak Junsu antusias menunjuk ke hamparan pantai di sebelah kanan villa, “Pohon kelapaaaa......!”
‘Pletak!!’ sebuah jitakan mendarat di kepalanya, “Eiiiy, yang ada di kepalamu cuma pohon kelapa apa?! Ku kira ada apa,” aku manyun. Dasar ni anak heran, kenapa terobsesi dengan pohon kelapa?
Whoaaa, ternyata di sini tak kalah dengan Bali atau Hawaii. Aaaah, i like it!” Junsu asyik dengan ketakjubannya.
By the way, Yoochun mana ya?” aku mencolek pundak Junsu.
Mmmmh, geulseyo.... tadi sih dia pergi ke samping villa,” jawab Junsu tanpa mengalihkan pandangan dari deretan pohon kelapa ‘idolanya’ di bawah sana.
Aku melangkahkan kaki ke samping villa.
“Tu anak lagi ngapain?” gumamku melihat Yoochun yang sedang berdiri agak membungkuk di samping pagar hijau dari tanaman. Aku mengendap – endap menghampirinya.
“Duarrr!” menepuk punggung Yoochun yang sedang mengintip ke balik pagar.
“Ssssttt! Nanti ketahuan!” bisik Yoochun membekap mulutku, aku sedikit berontak melepaskan bekapannya.
“Lagi liat apa sih??” aku ikut bisik – bisikan.
Ada yeppeun yeoja,” Yoochun menunjuk ke arah sebuah halaman rumah panggung kayu yang artistik.
Kulihat di sana ada seorang yeppeun yeoja yang sedang menyapu dedaunan kering yang bertebaran di halaman rumah itu. Cho yojaga, memakai kaos biru muda lengan panjang dipadu rok seengah betis. Kulitnya kuning langsat, muka oval, mata bulat indah (beda dengan kami), bibir agak tipis, hidung tidak terlalu mancung tapi nampak cantik. Belum lengkap deskripsinya, rambut lurus hitam berkilau sepunggung, digerai indah. Masih belum lengkap, postur tubuh tinggi semampai, walaupun tak setinggi tubuh kami tentunya, tapi untuk ukuran yoja cukup ideal. ‘Jeongmal yeppoyo! Eksotis sekali, beda kecantikannya dengan hanguk yeoja atau ilbon yoja yang pernah kulihat,’ pujiku dalam hati.
“Yah..yaaah, dia masuk,” bisik Yoochun membuyarkan lamunanku. Perempuan itu menghilang di balik pintu kayu berukir.
Aku pegal juga agak membungkuk di samping pagar tanaman itu, jadi aku berdiri tegak kembali. Yoochun pun mengikuti gerakanku yang memutar pinggang ke kiri dan ke kanan bergantian, mirip senam.
“E..eh, dia nongol lagi!” Yoochun mendorong bahuku untuk membungkuk kembali.
Perempuan itu keluar dengan pakaian yang tampak formal, celana panjang bahan berwarna kecoklatan, kemeja bermotif unik yang dipadu blazer coklat susu senada dengan celana dan motif kemejanya. Setelah menggantungkan map di motor birunya dan memakai helm yang berwarna biru juga, perempuan itu pergi dengan motornya entah ke mana. ‘Kayaknya mau berangkat kerja,’ pikirku. Kami berdua berdiri tegak kembali memandang motor itu menuruni bukit dan menghilang di balik belokan yang terhalang pepohonan.
*****
Sore hari, setelah mandi rasanya lebih segar. Terus terang di sini agak gerah, walaupun tidak sepanas Korea saat summer. Junsu sudah pergi naik sepeda gunung, ke pantai di bawah sana. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu para pohon kelapa ‘pujaannya’, hi...hi... Kasihan Yoochun yang sedang asyik menikmati AC alam di belakang villa, dipaksa nemanin bersepeda ke sana.
Aku jadi teringat kembali perempuan cantik tadi pagi, ‘Dia sudah pulang kerja belum ya?’ tanyaku dalam hati. Aku penasaran dan segera melangkah ke samping villa. Kulayangkan pandangan ke sekitar rumah itu, mengawasi bak spy man.
“Ada apa, kang?” tiba – tiba seorang perempuan muda berdiri di balik pagar hijau itu menatapku penuh selidik. Aku hampir saja terjungkal karena kaget dan malu kepergok ngintip.
He...he.. hai? Naneun.. eh... saya Jaejong.... sedang vacation di sini... living di villa ini,” sapaku dengan bahasa Indonesia yang terbata – bata, menyodorkan tangan di atas pagar itu. Perempuan itu membuang rumput liar yang habis dicabutinya, melepaskan sarung tangan karet yang belepotan tanah.
“Hai juga, nama saya Nurul,” perempuan itu menyambut jabatan tanganku. Oh, tangannya lembut sekali. Aku keenakan tak mau melepaskan jabatan tanganku, sampai perempuan itu memberi isyarat dengan matanya untuk melepaskan genggamanku.
Eh... he..., mian.. i mean... maaf, “ aku nyengir malu.
“Oh, kamu tamunya tuan Hikaru ya?”
Ne, eh...iya,” aku masih malu – malu.
“Siapa tadi namamu?? Jajang?? Kayak nama orang Sunda....”
“Jaejoong, namaku Kim Jaejoong,” ralatku.
“Aaah, Jaejoong?” perempuan itu menyebut namaku, matanya melirik ke atas seperti berpikir sesuatu, “Tapi seperti bukan nama orang Jepang ya?? Tapi tampangmu sih mirip.”
“Saya dari Korea,” ralatku lagi.
“Ooooh,” perempuan itu masih tampak bertanya – tanya, “Rasanya aku pernah dengar namamu, daaan tampangmu kayaknya pernah lihat. Tapi di mana ya??” tanyanya pada diri sendiri, “Ah sudahlah, mana mungkin aku kenal orang Korea! Ketemunya juga baru sekarang.”
“Ehh... he...” aku garuk – garuk kepala nggak gatal. Jangan – jangan dia mengenali aku!
“Bahasa Indonesiamu lumayan, sudah pernah ke Indonesia sebelumnya?”
“Saya belajar bahasa Indonesia karena di sini banyak Cassi.... eh maksudnya baru pertama datang ke sini,” aku hampir keceplosan.
Neeeeng, upami ibu sareng Adi ka mana?” tiba – tiba ada suara bapak – bapak berteriak dari dalam rumah itu dengan bahasa yang masih asing di telingaku.
Adi nuju ngajajap ibu ka kota Pa....” jawab perempuan itu.
“Nu...lul, sedang sibuk?”
“Enggak, hanya mencabuti rumput liar saja nih. Sudah selesai,” jawabnya, “Oya, panggil Nur saja.”
“Nul,” aku agak susah membedakan lafal ‘r’ dengan ‘l’
“Nur,” ralatnya.
“Maaf....Nulr,” aku tersipu.
“Tidak apa – apa, mungkin lidah orang Korea berbeda.”
By the way, maukah kita jalan – jalan ke pantai? Maksudku, menemani saya ke pantai?” tanyaku penuh harap, “Kalau Nulr sudi?”
“Oh, boleh! Tapi aku ganti baju bilang ayah dulu ya?”
“Oke,” aku mengangguk.
Nurul membalikkan badan hendak pergi.
Assa..!!!” aku melompat girang.
“Kenapa?” Nurul menoleh kembali.
“Eh..he... tidak apa – apa,” aku nyengir sambil garuk – garuk nggak gatal lagi.
“Oooh,” Nurul ikut garuk – garuk heran sambil berlalu dan masuk ke rumahnya.
*****
Saat aku dan Nur berjalan menyusuri pantai.....
“Jaejoong masih kuliah?” tanyanya.
“Uhm, tidak sudaah lulus. Tapi aku belum sempat melanjutkan S2 karena sibuk kerja,” jawabku.
“Kerja apa?” tanyanya lagi.
“Nyanyi... eh maksudku bekerja di restoran milik ayahku,” aku sedikit berbohong, “Nurl sendiri bagaimana?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Aku ngajar di SD.”
“SD??”
Elementary School,” jelasnya.
“Aaah begitu,” aku manggut – manggut.
Hyeooong! Jaejoong hyeoooong!” tiba – tiba sebuah suara dari kejauhan menggangguku.
Junsu yang tengah duduk – duduk di bawah pohon kelapa, berdiri melambai – lambaikan tangannya, seperti orang yang terdampar di pulau asing melihat kapal lewat. Di samping kirinya tergeletak dua sepeda, dan sebelah kanannya Yoochun tiduran santai terlentang di atas pasir putih dengan kedua telapak tangannya sebagai alas kepala. ‘Ugh, aku lupa kalau mereka berdua sedang jalan – jalan ke sini juga. Bisa gagal deh pe – de – ka – te ku sama i yeppeun yeoja!’ gerutuku dalam hati.
“Siapa itu? Kok manggilmu Keong??” tanyanya bercanda, “Keong is mean snail.”
Hyeong,” jelasku, “Itu panggilan untuk kakak laki – laki.”
“Jadi mereka adikmu? Kok beda?”
“Tentu saja beda, aku jauh lebih cakep kan?” narsisku kumat, “Mereka sahabatku, sudah seperti adik kandung sendiri.”
Aku memegang tangan Nur, mengajaknya menghampiri Junsu dan Yoochun.
“Eh..eh....,” Nur menunjuk tangan kanannya yang kupegang.
“He... mian.... eh, maaf,” aku melepas peganganku sambil tersipu. Nur hanya tersenyum, membuatku tambah malu. Lalu kami kembali berjalan menghampiri kedua ‘perusuh’ itu.
Hwaaaa, hyeooong jarayo! Baru sehari sudah bisa menggaet gadis Indonesia,” Junsu menggodaku. Aku menginjak kakinya dengan kejam, “Aaaaw!”
“Junsuya, perkenalkan ini Nurlul. Dia yang tinggal di sebelah villa.”
Nurul, just call me Nur,” Nurul mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
“Junsu,” Junsu memasang senyum terimutnya, menyambut uluran tangan Nur dengan girang. Aku menepuk tangan Junsu sebelum meraih tangan indah itu.
Aish, hyeong sirik aja!” Junsu manyun.
Hyeong, geunyo??” Yoochun yang baru nyadar segera berdiri, memandangi Nurul dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan takjub. Nurul jadi salah tingkah dipandangi begitu.
“Husss!” mengipaskan telapak tanganku di depan muka Yoochun.
“Eiiih, perkenalkan nama saya Yoochun,” dengan pe-de mengulurkan tangannya.
“Saya Nurul,” dengan ramah Nurul menyambut uluran tangan itu, Yoochun mengenggamnya lama.
“Eiittt!” aku mendelik pada Yoochun yang keenakan memegang tangan Nurul.
He...he...,” Yoochun nyengir melepaskan genggamannya, “Hyeong, buat aku ya? Kan aku yang lihat dia duluan,” bisik Yoochun di telingaku.
“Hushhh!!” sekali lagi ada korban injakan kakiku.
“Aww!!” Yoochun meringis.
Junsu nyengir geli. Nurul tersenyum, ‘Duh manisnyaaaa...’ kagumku dalam hati.
Sejak sore itu kami bertiga mulai akrab dengan Nurul, dia ramah, sopan dan enak di ajak ngobrol. Dia mengajari kami lebih jauh tentang bahasa Indonesia juga mengenalkan kebudayaan Sunda dan Indonesia umumnya. Aku juga pernah mengunjungi dia di tempatnya mengajar, sebuah sekolah kecil dengan fasilitas yang minim dan anak – anak dari kalangan tidak mampu. Aku tambah terpesona melihatnya dengan sabar dan selalu ceria menghadapi anak – anak kecil yang kelakuannya macam – macam.
‘Kalau jadi isteriku kelak, pasti dia mampu merawat anak – anak kami dengan penuh kasih sayang,’ khayalku, ‘Tapi mungkinkah wanita yang bersahaja seperti itu mau menikah dengan Selebritis seperti aku yang tak bisa lepas dengan dunia hiburan yang glamour??’ khayalku semakin menerawang.
Ah, biarkan saja mengalir. Bagaimana hubunganku dengannya nanti? Kita lihat saja. Lagipula aku punya saingan nih! Yoochun juga berusaha cari – cari perhatian mendekati Nurul, bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya lebih lancar pula. Dia jadi lebih sering ngobrol dengan Nurul.

Kalau Junsu aman, walaupun sempat terpesona dengan sosok Nurul, dia nampaknya tidak lebih hanya ingin bersahabat saja. Junsu malah masih sering ‘ditemukan’ duduk menyendiri di halaman belakang atau di bawah pohon kelapa dengan raut melankolis membaca surat – surat dari Jang Mi. Kotak silver berisi surat – surat itu memang selalu ia bawa ke mana – mana seperti jimat saja. Dan berulang – ulang membaca kembali surat – surat itu sambil berlinangan air mata. Ah entahlah, kukira dengan diajak liburan bisa mengobati kesedihannya. Ternyata suasana tempat yang tenang ini malah membuatnya semakin larut dalam kenangan – kenangannya tentang Jang Mi. Junsu memang tipe orang yang sulit melupakan wanita yang dicintainya, apalagi dia merasa tidak bisa membahagiakan dan melindungi wanita itu dengan baik.

**...to be continue...**

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 6


 


FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 6
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)

저녁어덟시반에, kami baru saja tiba dari Jepang. Junsu langsung merebahkan diri di tempat tidurnya, Changmin malah sudah ngorok lagi begitu kepalanya menyentuh bantal. Begitu pula Yoochun, setelah buka – bukaan hanya memakai pakaian dalam, dia menyalakan AC lalu meringkuk dibalik selimut tebal kesayangannya. Kebiasaan aneh, kalau para cassies lihat dia open – up gitu, gak kebayang teriakan – teriakan histeris mereka. ‘Hi...hi...,’ aku ketawa sendiri membayangkannya.
Hanya satu orang saja yang belum ikut pulang, Yunho. Dia sama manajernya dari perusahaan ‘lama’ ada appointment sama orang dari sebuah event organizer internasional. Dengar – dengar sih EO itu akan mengadakan tour konser besar yang akan mengundang penyanyi – penyanyi dari berbagai negara. Mungkin aja kami salah satu yang diundang jadi pengisi acara. Aaah, gomawo, di saat grup kami sedang dilanda dilema, ternyata masih ada kegembiraan – kegembiraan yang tak terduga – duga. Penjualan album the best collection kami memecahkan rekor penjualan terlaris, dan di Jepang tempo hari, kami bertemu dengan BSB, band terpopuler di era 90an, yang sedikit banyaknya mempengaruhi gaya bernyanyi kami pada awal debut dulu. Tapi sekarang tentu saya kami punya style tersendiri.
Ah, aku senang sekali karena band sekelas BSB ternyata mengetahui kami, lebih bangga lagi saat mereka banyak memuji kemampuan bernyanyi dan performance kami. Junsu yang sedang getol – getolnya belajar 영어 (bahasa inggris), lebih semangat lagi ingin ngobrol sama Brian, Nick, Howie, dan AJ. Tapi sial sekali nasib Junsu, bahasa Inggrisnya yang masih kedengaran aneh itu tidak dimengerti oleh satupun dari keempat pria bule itu.
Excuse me..??” tanya mereka berkali – kali.
Yoochun – a, jebal.....” bisik Junsu sambil menyikut Yoochun pelan dengan raut wajah yang sewarna buah naga. Yoochun yang mengerti isyarat 911 itu, menjelaskan kembali ucapan – ucapan Junsu dengan gaya yang cool dan jaim, padahal aku tahu dia sebenarnya ingin tertawa. Muka Changmin pun hampir matang menahan geli ia segera mengungsi ke belakang, ‘Pasti dia pengen ngakak,’ pikirku. Aku dan Yunho juga sebenarnya geli, tapi demi menjaga imej dan perasaan Junsu, berusaha kami tahan untuk tidak tertawa. Akhirnya Yoochun lagi yang lebih banyak bicara menjadi interpreter pribadi kami, karena dialah yang paling fasih American Englishnya, secara pernah lama tinggal di sana.
Ha...ha....ha.....,” lagi – lagi tawaku menggema di kamar yang hanya terdengar suara ngorok tiga bocah yang kecapean. Aku celingak – celinguk sendiri, menyadari kalau dari tadi ketawa sendiri. “Huaaaaam,” aku menguap panjang, nungguin Yunho pulang kesal juga. Akhirnya rasa lelah dan kantuk mengalahkanku sehingga aku segera menyusul ketiga bocah itu ke alam mimpi.
*****
아침에, anak – anak ketagihan minta dibuatkan sarapan nasi goreng resep nenek moyang orang Indonesia. Di luar, salju tipis sudah hampir meleleh semua membentuk tetesan – tetesan bening yang berkilauan memantulkan cahaya mentari pagi. Udara tak begitu dingin lagi karena hampir pergantian menuju musim semi. Hari ini anggota keluarga lengkap berlima, hanya memang belum kumpul semua di meja makan. Yunho yang sudah duduk manis menunggu masakanku disajikan. Changmin yang biasa tidur paling anteng, sudah mandi dan segera menempati singgasananya.
Mmmmh.... smells so goooooooood!” Yoochun nongol dari kamar mengendus – endus mencium bau mangsanya. Ia cepat – cepat ke kamar mandi, tak berusaha mencuri start makan masakanku lagi, karena ia tahu aku tak kan membiarkannya menyentuh hasil karyaku sebelum ia mandi. Tak lama kemudia dia pun sudah bergabung, tinggal satu or... nah dia turun juga. Junsu pun menempati kursinya, tapi kenapa lagi tu bocah? Mukanya tak secerah pagi yang hangat ini. Aku menatap Yunho, dia menggeleng.
Changmin dan Yoochun yang dari tadi sudah ‘kelaparan’ menyantap nasgor itu dengan lahap, Yunho pun begitu menikmatinya. Hanya saja Junsu yang biasanya makan paling cepat, tampak kurang semangat mengunyah sambil menatap nasi goreng itu, tapi tatapannya seolah melayang entah ke mana.
“Hyaaa.... Junsu ya. Masakanku gak enak bukan??” Aku pura – pura ngambek.
Eh...mmmh, enak kok hyeong...” Junsu tersadar dari lamunannya, “Jeongmal masitta!” dia mengacungkan dua jempolnya.
“Enak – enak.... kuk kamu makannya kayak gak rela gitu?” Aku manyun imut.
“Kalau gak mau, aku rela menghabiskannya, sini?” Changmin yang piringnya sudah kesat bersih, menyambar piring nasgor Junsu.
“Eiiiiiiit! Enak aja, buat kamu?” Junsu dengan refleks menggeser piringnya menghindari tangan panjang Changmin.
Psssst, Changminnie?! Jangan gitu ama hyeongmu,” Yunho melotot bijak pada adik bungsu kami, Changmin nyengir manis.
Lihat hyeong, aku habiskan yaa?” Junsu segera menyantap setengah lagi nasgor bagiannya dengan cepat seperti orang kesurupan.
“Okho..okho..!” saat hampir suapan terakhir Junsu keselek. Yunho segera menyodorinya air putih.
“Makanya jangan pura – pura semangat!” nasehatku, “Ada apa sih Su, kamu kuk gak seperti biasanya?”
Mian hyeong,” Junsu berlalu tanpa kata – kata lagi.
Aku menatap Yoochun, Changmin dan Yunho bergantian, ketiganya mengangkat bahu kompak. Aku melangkah hendak mengikuti Junsu diam – diam.
Andwae,” Yunho memegang tanganku, “Biarkan dia menyendiri dulu”
Aku nurut, lalu segera membereskan peralatan makan bekas sarapan kami. Setelah selesai di dapur, aku bergabung dengan YooMin di ruang tengah.
“Lho? Yunho mana?” tanyaku melihat Yunho tidak bersama mereka.
Geulseyo, kemana hyeong ya?” Changmin malah balik nanya.
Nyusul Junsu kali,” sahut Yoochun enteng sambil terus menekuni buku bahasa Indonesianya, “Saya sukka makhan na...si go..rweng..., Haish! Eoryeowo!”
Pap... pap... du pap... pap...” tiba – tiba datang ‘orang aneh’ berjalan sambil menari maju mundur. Orang itu memakai kudu hitam mengkilat, kaos kaki putih, celana hitam ngatung, kemeja hitam panjang yang dibiarkan terbuka kancing bajunya hingga singlet putihnya kelihatan. Dan.... kkkkkk, rambutnya yang kurang gondrong dengan maksa dikuncir belakang dan bagian depannya dikriwil – kriwil, memakai topi hitam bergaris putih kedepan hampir ‘menenggelamkan’ mukanya yang kecil. Dia terus menari dan menyanyi, kami bertiga saling menatap dan menganggkat bahu kompak.
“....aaawW!!” dia mengakhiri atraksinya dengan lengkingan yang memekakkan telinga, “Gimana...gimana...?? Udah mirip Jacko belum??” tanya Yunho membuka topinya. Kami tidak menjawab, masih terkesima.
Hyeong, gwaenchanda??!” selidik Changmin heran melihat leader kami bertingkah tak biasa. Biasanya kalau bukan saatnya bercanda, dia akan selalu menjaga imejnya sebagai seorang leader.
Eiiiy, gimana.... mirip nggak?” Yunho merengek.
“Mirip kalau dilihat dari menara Tokyo,” goda Yoochun.
Emang kenapa hyeong??” tanyaku penasaran.
“Ha...ha.... akhirnya impianku menyanyikan lagu – lagu Jacko kesampaian juga,” mata Yunho berbinar.
Maksud hyeong??? Bukannya kita pernah menyanyikan lagu – lagu Jacko saat perform kita?” Yoochun meletakkan bukunya.
“Tapi yang ini lain. Aku akan menyanyikan lagunya dalam konser spesial yang khusus dirancang untuk mengenangnya,” jelasnya berapi – api, “Walaupun impianku sepanggung bersamanya tak mungkin lagi .....”
“Jadi yang orang yang semalam nemuin mau ngajak ikut konser itu?” tanyaku lagi.
“Yup, tepat!”
Hyeooong, kami tidak diajak??” rengek Changmin.
“Betul tuh, kami gimana?” sahut Yoochun.
“Mian, mereka cuman ngajak aku, karena mereka tahu aku fans berat Jacko. Tapi kalau sempat, kalian boleh nonton. Nanti aku pesankan tiket spesial,” hiburnya.
“Kapan?” sambungku.
“Lusa aku harus terbang ke L.A. untuk latihan sama pengisi acara yang lain.”
Hyaaa, Changmin udah gak terlalu sibuk. Sekarang hyeong pergi lagi,” keluh Yoochun.
Mianhae....” rujuk Yunho dengan ekspresi imutnya.
Aku hanya menghela nafas sambil menghempaskan punggungku pada sandaran sofa, Changmin dan Yoochun ikut – ikutan.
*****
....Sarangeun haengbokira midko itseoneunde.
Mal mothaneun sarangeun haneuli buchin beoriya.
Neo man saranghamyeon maeumi jwajeeol haetso.
Nun mul man uljimyeon saranghanikka.

Meorireoneun neoreul itjweosso.
Ibeureoneun neoreul itjweosso.....
Di ruang tengah terdengar K – Will menyanyikan lagu sangat pilu. Junsu sedang sedang duduk di atas karpet menyandar pada sofa, membaca secarik surat dengan air mata yang mengalir deras. Di meja ada beberapa amplop dan kertas bernuansa ungu serta pink, dan kotak silver terbuka peninggalan Jang Mi. Kurasa dia sedang membaca surat dari Jang Mi.
Wae ureoyo?” aku menghampiri, duduk di sampingnya. Ni anak nangis gara – gara dengerin lagu sedih atau baca surat sedih? Emang biasanya dia suka dengerin lagu – lagu mellow dan menghayati lirik lagu serta melodinya. Dan gak aneh lagi kalau dia ‘terbawa arus’ lagu ikutan terharu.
“Kenapa? Terharu dengan lagunya? Atau....?” Aku menebak – nebak, tapi kupikir kali ini nangisnya ‘serius’ dari lubuk hatinya yang terdalam (cis, lebai banget ya?). Masih sibuk mengusap air matanya, Junsu menyerahkan surat yang sedang dibacanya.
....Kau tahu oppa, aku sedang mendengarkan lagu Love is Punishmentnya K-Will. Lagu itu agak mirip dengan cintaku. Tapi ada satu kalimat saja yang menurutku salah, Mal mothaneun sarangeun haneuli buchin beoriya. Walaupun cintaku tak pernah sampai, tak bisa terucapkan padamu, aku tidak merasa itu suatu kesalahan, apalagi menganggapnya sebuah hukuman dari langit. Mencintaimu adalah anugerah, kekuatan bagiku untuk berjuang hidup, walau kau tak mungkin mencintaiku, bahkan mungkin tak pernah ingat aku sedikitpun. Aku sudah cukup bahagia bila melihatmu bahagia.
Tapi tahun ini, kudengar oppa sedang mengalami banyak kesulitan. Aku sedih sekali mendengar kau susah. Tahun ini jarang kulihat oppa dengan raut yang ceria, jarang kudengar kau tertawa lepas bersama sahabatmu. Ah oppa, apa yang bisa kulakukan untuk melihat senyummu lagi? Aku ingin sekali memelukmu, memberi kehangatan saat kau sedih. Tapi aku siapa?? Konyol ya oppa? Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk membantumu keluar dari kesulitan, aku akan melakukan apa saja. Aku hanya bisa mendoakan dari jauh. Tersenyumlah oppa.’

Saranghae,
이장미

Kenapa dulu aku bodoh sekali? Tak bisa membaca perasaannya. Kenapa aku bisa menyia – nyiakan wanita sebaik dia. Kenapa Tuhan tidak mempertemukan kami lagi selama ini? Hu...hu...” tangisnya semakin menjadi, “Sebaliknya, ini adalah hukuman bagiku yang tidak pernah peka akan perasaannya. Hiks...hiks...hiks.... hyeong...!” Junsu memelukku, menumpahkan air matanya di bahuku.
Iya Su, aku mengerti kesedihan kamu. Tapi kamu tidak boleh terus larut dalam kesedihan,” aku mengelus – elus kepalanya lembut, “Your life must go on. Bukankah Jang Mi ingin melihat kamu bahagia?” bujukku.
Ne,” Junsu melepaskan pelukannya sambil masih sibuk menyeka air matanya.
Junsu wae?” Yoochun baru turun dari studionya, duduk menghampiri Junsu..
Anio, Junsu hanya sedang teringat Jang Mi,” jawabku.
Sudahlah Su, your life must go on,” bujuk Yoochun dengan inggris yang lebih fasih, menepuk – nepuk bahu Junsu.
Ige mwo?” tanya Changmin menunjuk surat – surat dan kotak silver di atas meja sambil memasukkan keripik kentang ke ‘mesin penggiling’nya. Pasti dia habis menguras isi kulkas.
“Mm, surat – surat Jang Mi untukku yang disimpannya sendiri,” jawab Junsu serak, air matanya mulai reda.
“Uhm,” Changmin mengangguk – angguk dengan mulut yang penuh cemilan.
I’m hoooooome,” kami menoleh ke arah suara itu, Yunho baru pulang.
Junsu waeyo? Kamu habis menangis?” Yunho langsung duduk berhadapan dengan Junsu.
Anio hyeong, nan gwaenchanayo,” Junsu membereskan surat – surat yang berserakan di atas meja.
“Dari Jang Mi?” tanya Yunho hati – hati.
Ne,” jawab Junsu lesu. Hening, kami berempat memperhatikan tangan Junsu yang sedang memasukkan amplop – amplop surat itu ke dalam kotak silver.
“Eh, aku punya kabar bagus dari bos di Jepang!” ucap Yunho semangat, memecah keheningan.
“Kabar bagus apa?” Changmin penasaran.
“Karena penjualan album terbaik kita jadi best seller dan mencapai rekor penjualan, bos memberi hadiah kita waktu luang untuk liburan. Kita bebas milih ke mana aja, segala fasilitas di atur dan dibiayai dia,” jelasnya bersemangat, ”Junsuya, aku kan udah janji mau ngajak kamu ke pantai – pantai di Indonesia, kita pergi ke sana saja. Di sana kamu bisa ketemu banyak pohon kelapa.” Menatap Junsu penuh bujuk rayu.
“Tapi Yunhoya, bukannya kamu akan segera berangkat ke L.A. dan sibuk konser mengenang Jacko? Kapan punya waktu untuk liburan?” aku mengingatkan.
“Iya, Changmin juga masih sibuk promo dramanya,” sambung Yoochun.
Aku nggak mau liburan, kalau kita tidak bisa pergi berlima,” keluh Junsu membawa kotak silvernya, berlalu meninggalkan kami berempat di ruangan itu. Yunho dan Changmin masih tertegun memikirkan sesuatu. Celiene Dion masih menyanyi ‘My Heart Will Go On’.

**...to be continued...**

FanFic TVXQ : You Are My Everything Part. 5



FanFic Title : You Are My Everything
Chapter : 5
Genre : Romance, Friendship
Main Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin, Jung Yunho
Author : 아야 비루나시아 (Aya BirunaXiah)


Gimana Su?” pagi – pagi Yunho baru pulang, masih ngurusin kerjaannya dengan ‘perusahaan’ itu. Dia langsung menghampiri aku yang masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Achim neshi butho jigeum kkaji, dia udah ngurung diri di studio,” jawabku sambil melirik ke lantai atas.
Hm, biar deh dia menyendiri dulu. Mungkin masih sedih. Tapi gimana keadaannya? Gwaenchanji ? Besok kita harus ke Jepang lagi,” lanjutnya.
“Mmm, udah baikan, hanya masih sedih aja. Kayaknya dia terpukul banget dengan kepergian Jang Mi, baru ketemu chot sarang malah harus berpisah seperti itu. Hu...hu...aku sedih ngeliatnya,” air mataku hampir jatuh ke atas nasi goreng ‘percobaan’ yang resepnya baru kudapatkan dari cassiopeia di Indonesia. Junsu kami yang malang, bertubi – tubi cobaan yang dialaminya. Kami rindu dengan tawa ‘eu kyang kyang’nya, kami rindu rengekan manjanya saat kami ngerjain dia.
Sudah.... cup... cup... urjima. Jangan nangis, nanti masakanmu jadi asin,” Yunho masih sempat ngegodain aku, “Kita justru harus menghibur dia, biar dia kuat dan ceria lagi seperti dulu,” rautnya kini serius.
Ne,” aku mengangguk sambil menghiasi 4 buah piring berisi nasi goreng dengan garnis. Changmin sedang tidak ada di rumah, dia masih syuting episode terakhir dramanya.
Hwaaaa, kayaknya JJ hyeong dapat resep baru lagi,” Yoochun baru bangun, “Mmmmmh, wanginya enak sekaliiiiii,” hidungnya mengendus seperti srigala yang mencium mangsanya.
“Eeeeh, mandi dulu sana!” aku menepiskan tangan Yoochun yang menggapai – gapai hendak mencomot nasi goreng yang sedang ‘kudandani’.
Yoochun manyun lucu sambil berlalu ke kamar mandi.
“Aku punya kabar bagus,” Yunho memasukkan potongan mentimun ke dalam mulutnya, “Acara kita di Jepang nanti, bareng sama BSB.”
BSB mwo??” tanyaku, “What?! BSB?? Boyband eh Manband dari Amrik itu?? Jeongmal??” aku baru nyadar.
Jeongmal,” jawab Yunho meyakinkan.
“Aaaa...ya...ya..., aku bisa ketemu Brian, Nick,..... yang keren abis! Band yang hebat!” aku melompat – lompat kegirangan, sampai piring yang kupegang hampir jatuh.
“Jadi aku kalah keren dengan mereka??!!” Yunho melotot.
“Jung Yunho?? Waaah, gak ada apa – apanya di banding mereka,” candaku lagi. Junho tambah melotot lalu mencubit pinggangku, “Aw!”
“Satu hal lagi,” sambungnya serius, “Kontrakku dengan ‘mereka’ sudah hampir habis”
Jincca?”
“Ne, tapi aku belum biasa keluar dari sana, karena Changmin masih punya kontrak drama sampai promonya selesai. Kasihan dia kalau ditinggalin di sana sendirian. Jadi aku harap kalian bertiga mengerti,” paparnya bijak.
Ne, hyeong. Kami mengerti. Tapi hyeong, aku dengar setelah kami bertiga dipecat, mereka dah menyiapkan pengganti sebagai member Dong Bang dari anggota boyband lain?” tanyaku khawatir.
Ya enggak laaah, kalian gak bisa tergantikan. Kalau mereka memaksa, kami akan segera menyusul kalian. Dan hak nama Dong Bang Shin Ki tidak bisa seenaknya mereka klaim. Lagipula para penggemar akan marah besar,” Yunho memasukkan sepotong mentimun lagi ke dalam mulutnya.
Ne, we’re proud of cassiopeia and bigeast, mereka selalu setia dan mendukung kita,” lanjutku sedikit lega sambil menata piring – piring berisi nasi goreng itu di atas meja makan.
Yoochun yang mandi super kilat, sudah duduk manis di kursinya, dan segera menyantap ‘mangsanya’ dengan lahap, “Mmmmh, masitta!”
“Tunggu dulu dong Chun, Junsu belum turun,” ucap Yunho.
Andwae hyeong, aku sudah kelaperan. Kalau harus nunggu lagi bisa pingsan,” masih kudengar sahutan Yoochun ketika aku naik untuk memanggil Junsu di studio lantai atas.
“Su, makan dulu yuk? Aku sudah buatkan nasi goreng spesial asli resep Indonesia. Kalau kita ke Bali, kan harus terbiasa dengan makanan di negeri itu,” bujukku sambil mengetuk pintu. Tapi saat pintu studio itu ternyata tidak dikunci. ‘Lho, kemana dia? Bukannya tadi di sini?’ tanyaku dalam hati. Aku mencari – cari ke setiap ruangan.
“Junsu gak mau turun?” tanya Yunho melihat aku menuruni tangga sendirian.
“Gak ada. Chun kau lihat dia di kamar?” aku melirik Yoochun yang sedang ‘sibuk’ menyantap nasgor buatanku.
Mmmmh, geulseyo. Aku kurang merhatiin tadi karena udah gak sabar menikmati ini,” jawabnya memasukkan suapan terakhir ‘goal!’.
Break out...break out...!’ HPku bunyi. Kubaca SMS, dari Junsu, ‘Hyeong, maaf tidak ikut sarapan pagi ini. Aku mau nengok Jang Mi sebelum kita pergi ke Jepang besok. Aku mau berdua dulu dengannya’
“Nuguseyo?” tanya Yunho penasaran.
“Junsu, dia mau pamit dulu sama Jang Mi.”
“Mwo? Kita kan cuma pergi beberapa hari. Oya, tadi aku liat dari balik jendela, dia pergi terburu – buru bawa mobil sendiri.”
“Katamu tadi gak liat? Gimana sih?!”
“He..he...lupa, gak konsentrasi,” Yoochun nyengir sambil garuk – garuk kepala, “Wah, nekat banget dia pergi gak dianter pengawal?!” ekspresinya jadi serius.
“Eh kamu lupa, sejak dikeluarkan dari perusahaan itu. Kita belum punya pengawal lagi. Yang dari perusahaan Jepang baru tiba nanti sore.” Aku mengingatkan.
“Eh, iya,” Yoochun nyengir lagi, “Tapi gimana kalau dia di kejar – kejar fans? Terus kecapean? Terus pingsan lagi? Gawat dunk?!”
“Iya juga,” Yunho manggut – manggut sambil mengunyah nasi goreng, “Ayo kita susul!”
*****
Sambil celingak – celinguk mengawasi keadaan kami bertiga turun dari mobil di lereng bukit itu. Sepertinya kekhawatiran kami terlalu berlebihan, ‘Mana ada fans di tempat sesepi ini?’
Aku dan ChunHo berjalan menyusuri jalan ke atas bukit. Di kanan kiri kami titik – titik salju yang mulai meleleh, menetes dari ujung dedaunan pohon – pohon yang berjajar rapi. Sudah hampir musim semi, tapi udara masih terasa dingin.
Tiba di lereng bukit, terlihat Junsu sedang jongkok di depan sebuah gundukan tanah yang dilapisi rumput halus, salju tipis dan dihiasi batu marmer berwarna ungu yang bertuliskan nama Lee Jang Mi. Junsu menatap tulisan di batu marmer itu, tatapan sedih, sesekali menyeka bulir - bulir bening di pipinya dengan punggung telapak tangannya.
Hyeongdeul...” Junsu menoleh, menyadari kehadiran kami.
Uljima Junsuya,” Yunho merangkulnya,” Jang Mi pasti sedih kalau lihat kamu menangis,” Yunho menyodorkan sapu tangan.
“Lebih baik kita pulang yuk?” bujukku ikut merangkulnya.
Mianhae Jang Miya, aku harus pergi dulu. Nanti aku akan menjengukmu lagi,” bisik Junsu parau sambil mengecup marmer ungu itu.
Yunho memengang bahu Junsu, membantunya berdiri.
Chankkan,” Junsu membungkuk meraih kotak silver di depan marmer ungu itu.
“Apa itu Su?” tanyaku hati – hati.
“Tadi ke rumahnya dulu. Young Mi menyerahkan ini, dari dari Jang Mi,” raut Junsu kembali melankolis. Aku tak mau bertanya banyak lagi, takut dia nangis.
Ah, chankkan hyeong,” baru beberapa meter, Junsu menghentikan langkahnya sambil meringis memegangi lututnya.
Waeyo?” tanya Yunho “Aphayo?”
Kakiku keram, argh!” ringis Junsu.
“Ayo naik!” Yunho membungkuk, menyodorkan punggungnya.
Andwae hyeong, kita istirahat aja sebentar,” Junsu jongkok masih memegangi lututnya.
“Aku tak mau kita mati kedinginan di sini. Cepat! Ini perintah leader!” Yonho pasang muka galak untuk membujuknya.
Akhirnya Junsu nurut juga, mau digendong Yunho.
“Yunhoya, kalau kau capek, biar gantian aku yang gendong dia,” kataku ketika kami hampir setengah jalan menuruni bukit itu.
“Jangan, nanti pinggangmu yang ramping itu bisa patah. Bobotnya tambah berat aja nih,” canda Yunho.
“Ah hyeong, aku kan sudah diet ketat,” rengek Junsu di punggungnya.
“Ha...ha..ha... dietmu tidak berhasil Su. Kamu tetap kelas berat,” Yunho ngakak, sampai Junsu hampir Jatuh.
Wah, Jaejoong hyeong. Kita harus siap – siap mijitin Yunho hyeong di rumah,” ledek Yoochun.
Junsu menggapai – gapai hendak menjitak Yoochun, tapi tidak berhasil karena Yoochun mempercepat langkahnya, “Awas kau Chun!”
Setibanya di bawah Junsu turun dari punggung Yunho, ‘Pletak!’ dia masih sempat ‘membalaskan dendam’nya. Padahal jalan aja masih susah payah dipapah Yunho naik ke mobil.
“Aw!” ringis Yoochun imut, “Kalau gak abis sakit, sudah ku...hhhh!” Yoochun mengacungkan bogemnya sebelum naik mobil. Junsu nyengir, menutup pintu mobilnya, Yunho yang menyetir, mereka melesat duluan. Aku ikut mobil Yoochun, mengikuti mereka dari belakang.
**...to be continue...**

Notes: Mian, dipotong dulu, takut kepanjangan. Gimana...gimana??