Saturday, December 18, 2010

[TVXQ Fanfic] Break Out the Horror

I love this one too. I thought it's the sequel of Baby Junsu, right ha_neul dear??
Recomended FF for Junsu's lover
When TVXQ moved to a mansion... something tried to kill beloved Junsu

[TVXQ Fanfic] Baby Junsu

I love this fic, written by my friend ha_neul
Since Junsu is the cutest one...

Wednesday, December 8, 2010

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 05


Chapter         :      5/30
Title                :      Be Strong
Genre              :      Brotherly Friendship, Angst
Author           :      ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer  
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!        
Prepare the tissues, it’s very very angst and touching!!
Characters  
TVXQ’s Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary      
ha_neul said that she watched ‘One Litre of Tears’ before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*

[Yunho]
Aku terjaga di pagi hari dan menemukan Jae sedang tidur di kursi, di samping ranjangku. Sebuah sesal tiba – tiba menyeruak di dalam hatiku. Aku pasti telah membuatnya begitu khawatir. Aku tak seharusnya bertingkah begitu kemarin. Yoochun pasti terluka karena aku mengacuhkannya. Apa yang telah ku lakukan? Bodoh…
“Jae…” aku memanggilnya. Dia bangkit dan mengusap – usap wajahnya.
“Mmmh?” dia membungkuk ke arahku dan menyentuh dahiku. Dia tersenyum dan aku tahu mengapa. Karena aku tidak deman. Aku hanya… sekarat…
“Kamu tidur semalaman di sini?”
Dia mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Aku merasa hangat dalam lindungan seorang kakak saat dia membelai kepalaku.
“Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?”
Aku tiba – tiba merasa terluka saat ia menanyakan hal itu. Dia begitu mengkhawatirkanku. Kenapa aku? Kenapa Tuhan memilih aku? Aku belum ingin mati… Aku ingin bersama Jae, bersama Min, bersama Chun, dan bersama Su. Kami baru saja bertemu dan berkumpul kembali. Kami sudah merencanakan untuk tampil lagi, konser, kegiatan amal, dan tamasya bersama. Masih banyak hal yang harus dilakukan. Aku takut… Aku tak melaksanakan apapun. Aku takut terlihat lemah di hadapan mereka. Aku tak mau tampak iba.
“Aku baik – baik saja…” aku duduk dan dia memandangku dengan khawatir. Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.
“Betul kok. Aku tak apa – apa… Aku ingin ganti baju. Apa sarapannya sudah siap?”
“Hmm… Aku akan siapkan sekarang,” dia mengikat rambutku sebelum keluar dari kamarku. Aku mangangguk dan melangkah ke kamar mandi.

[Changmin]
Aku melihat Jaejoong pergi ke dapur dan mengikutinya. Yoochun sedang membersihkan rumah dan Junsu membantunya. Jaejoong telah ganti baju dan tampak seperti sebelumnya. Tampaknya tak ada sesuatupun yang berubah.
“Hyeong, apa yang akan kau siapkan untuk sarapan?” aku berdiri di sampingnya saat dia sedang mengaduk sesuatu.
“Oh, kau bangun? Aku sedang membuat bubur ayam…”
“Wow! Enaknya!”
“Baiklah, sekarang siapkan mejanya Min, dan panggil mereka.”
“Oke!” Jae hyeong tertawa saat melihatku meloncat – loncat. Aku meletakkan lima buah mangkok di atas meja. Bersama sendok dan gelasnya. Kami mendengar suara gedebuk dan segera ke ruang keluarga, awalnya ku pikir itu Yunho. Tapi dia juga baru keluar dari kamarnya.
“Junsu! Kenapa kau letakkan PSPmu di sini?”
“Maaf! Maaf! Ya ampun! Kau merusaknya!
“Salahmu sendiri!” Yoochun bangkit dibantu Yunho dan Jae. Aku memandang PSP Junsu yang rusak. Wow… rusaknya parah. Pasti Yoochun menginjak dan menimpanya.
“Jangan khawatir, Junsu… Dia akan membelikanmu yang lain,” kataku.
Yoochun menjitak kepalaku, “Kapan aku bilang begitu?”  
Jae balik mejitaknya karena ia telah mejitakku. Kemudian Junsu menjitak Jae.
“Jangan jitak dia…” jadi kujitak balik Junsu.
“Kenapa kau jitak Jae hyeong? Ini salah dia…” kemudian kami saling jitak. Kami berhenti saat kami dengar seseorang tertawa.

[Junsu]
Yunho sedang menertawakan kami karena melihat kami saling jitak. Aku merasa sangat senang. Dia tampak sangat murung kemarin, bahkan menolak makan apapun. Dia hanya tidur sampai pagi ini. Jae hyeong sangat khawatir sampai ia tertidur di kamar Yunho.
"Hentikan hey..." katanya. Kami pura - pura merasa bersalah dan berhenti. Sebenarnya kami semua sangat senang.
"Ayo kita sarapan..." Jaejoong hyeong mengajak kami ke dapur. Tiba - tiba Yunho terjatuh. Kami segera menolongnya. Dia tampak ketakutan dan gugup.
"Aku... aku tak bisa melihat... kenapa gelap? Hey... di mana kalian? Aku tak bisa melihat kalian..." rintihnya. Kami saling menatap. Aku hampir panik tapi Yoochun menenangkanku. Jaejoong melambai - lambaikan tangannya di depan wajah Yunho, tapi tampaknya dia tak tahu.
"Yunho... dengarkan aku. Tenang dulu..."
"Aku tak bisa melihat kalian... aku tak bisa..." air mata melunsur di pipinya. Tangannya terus menggapai - gapai, mencari kami. Aku segera meraih tangannya dan dia menggenggamku erat.
"Hyeong... tenang. Kami ada di sini..."
"Junsu... Aku tak bisa melihat..."
Aku tak tahan lagi. Kupeluk dia dengan erat dan membelai punggungnya. Dia balas memelukku dengan erat, yang kutahu dia sangat ketakutan.
"Hushhh.... kami di sini... tak perlu takut. Pejamkan saja matamu sejenak, oke?" bisikku padanya. Aku benci melihat 'hyeong'ku ketakutan begini. Dia gemetar dan ketakutan.

[Yunho]
Aku mengangguk dan menuruti Junsu. Kupejamkan mata dan mencoba menarik nafas. Setelah sesaat, aku merasakan seseorang mengangkatku. Kubuka mataku perlahan, dan segalanya berubah samar. Tapi aku tak bisa melihat. Kukedipkan mata beberapa kali dan mengenali bahwa itu Changmin. Dia membawaku ke ruang keluarga dan mendudukkanku di sana.
"Bagaimana?" tanya Jae sambil membelai kepalaku. Aku menatapnya dan mengangguk. Dia memelukku erat dan menyandarkanku padanya. Aku baru saja akan menanyakan sesuatu padanya saat kurasakan perutku seperti tertusuk - tusuk. Ya Tuhan... sakit sekali.
"Yunho? Yunho?" Jae memanggil - manggilku tapi aku menekan perutku sebisaku.
"Min, ambilkan obat Yunho. Junsu, bawakan semangkuk bubur. Chun, kau ambilkan kain basah. Cepat!"
Aku berpegangan pada Jae sekuatku. Sakit sekali... Dia membelai kepalaku dan mendekapkan tangannya padaku penuh perlindungan.
"Bertahanlah... bertahanlah..."

[Yoochun]
Jae telah menyuapi Yunho tiga sendok bubur. Lalu Yunho tak mau makan lagi. Pasti sakit sekali. Bahkan aku merasa ketakutan melihatnya saja.
"Hati - hati..." kata Jaejoong pada Changmin saat mereka membaringkan Yunho di sofa. Jaejoong melepaskan kancing kemeja Yunho dan menyibakkannya ke samping. Kemudian dia menyuntikkan obat ke perut Yunho.
Yunho tampak tenang setelah itu. Dia terpejam dan memegang tanganku dengan lunglai. Kemudian Junsu menyodorkan kain basah pada Jaejoong yang segera mengompreskannya di perut Yunho. Perlahan, Yunho tertidur. Kami menghela nafas dan saling memandang.
"Dia tidak apa - apa. Tak perlu khawatir sekarang..." kata Jaejoong pada kami. Aku mengangguk dan menatap Junsu. Dia menangis pelan, tapi mencoba tersenyum pada kami.
"Junsu?"
"Dia begitu ketakutan barusan.... aku tak bisa melakukan apapun... Aku merasa tak berguna."
"Awww... Junsu..." Jaejoong memeluknya dan membisikkan sesuatu padanya. Dia hanya mengangguk dan balas memeluk Jaejoong. Aku menoleh pada Changmin. Dia sedang menatap Yunho.
"Dia pasti memikirkannya. Berapa lama lagi dia akan bersama kita... Berapa lama lagi ia akan hidup... Apa yang akan terjadi kemudian..." dia komat - kamit tapi kami masih dapat mendengarnya. Aku meletakkan tanganku di atas perut Yunho dan memandang wajah pucatnya.
"Dia akan bertahan... lebih lama bersama kita. Dia kuat... Benar kan hyeong?"
 
The original english chapter http://www.asianfanfics.com/story/view/2279/5/i-m-holding-back-the-tears-yunho-dbsk-yunho
Give the appreciation to the Author, ha_neul

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 04


Chapter         :         4/30
Title               :         Insecure
Genre             :         Brotherly Friendship, Angst
Author          :         ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer  
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!        
Prepare the tissues, it’s very very angst and touching!!
Characters  
TVXQ’s Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary      
ha_neul said that she watched ‘One Litre of Tears’ before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*



[Changmin]
Sejak kami masuk kamar itu, kami lihat yunho duduk dekat jendela dan mengacuhkan kami. Kami terus memanggilnya, tapi dia tetap saja mengabaikan kami. Meskipun kami mendekatinya, dia masih mengabaikan kami. Apa yang telah terjadi?
“Hyeong? Kau baik – baik saja?” Tanya Junsu. Tapi tak ada jawaban darinya. Kami mulai khawatir. Jaejoong memutar kursi rodanya dan menghadapkannya pada kami. Tapi dia… tanpa ekspresi. Tak ada…
“Yun, kau tak apa – apa?” tanya Jaejoong. Yunho hanya memandangi kami. Kemudian dia tersenyum.
“Aku baik – baik saja. Jangan khawatir… “ kami saling pandang. Dia bertingkah sangat aneh. Kemudian dia berdiri, dibantu oleh Jaejoong.
“Tidak!”
Kami memandangnya.
“Maksudku… kau tak perlu melakukan itu. Aku masih bias berjalan kok… Aku baik – baik saja,” katanya.
Kami mengangguk dan membiarkannya berjalan keluar kamar. Kami hanya mengikutinya dan ternyata ia pergi ke ruangan dr.Siwon. Kami segera ke ruangan itu dan menemukan Yunho sedang duduk di kursi.
“Masuklah… “
“Te… tentu…” kami masuk dan duduk di samping Yunho. Aku memandang dr.Siwon dan dia mengangguk. Ya Tuhan! Apakah dia akan memberitahunya sekarang? Tunggu! Jangan dulu! Ta… tapi… Yunho belum siap!
“Yunho sshi, ada yang akan saya sampaikan padamu.”
“Aku sedang sekarat… kan?”
“Yunho… apa yang sedang kau ucapkan?” bentak Jaejoong. Dr.Siwon tampak tenang dan menarik nafas dalam.
“Benarkah bahwa… sebentar lagi… aku takkan dapat melihat, menari… dan… aku sedang sekarat?” dia menatap dr.Siwon.
“Yunho…” aku melangkah dan memegang bahunya. Kepalanya menunduk dalam. Keheningan sejenak menyelimuti kami.
“Aku tahu… aku mengerti… dr.Siwon… dapatkah saya meminta sesuatu?”
“Te… tentu…”
“Kenapa harus aku?” air mata meluncur di pipinya.
“Yunho…” aku sungguh tak tahu apa yang harus dilakukan sampai Yoochun memeluknya dari belakang, diikuti oleh Junsu.
“Apakah…  apa anda yakin mau pulang sekarang?” Tanya dr.Siwon, tapi Yunho menenggelamkan wajahnya di dekapan Yoochun.
“Ya… yah… dia mau pulang…” Jaejoong menjawabnya.

[Junsu]
Yunho tak banyak bicara hari ini, bahkan sampai kami tiba di rumah. Segera setelah sampai di sana, Yoochun membawanya ke kamarnya. Aku hanya dapat melihat dari ambang pintu, melihat betapa putus asanya Yoochun untuk membuat Yunho tersenyum. Tapi Yunho mengacuhkannya, seperti pagi ini. Dia telah tahu apa yang terjadi dengannya, dan itu sangat membuatku takut. Dia sudah kepayahan… dan ini di luar batasnya.
“Chun-ah…” betapa menyakitkan mendengarnya begitu lelah.
“Ya hyeong?”
“Aku lelah… bisa kita lanjutkan nanti?”
“Kau lelah? Hyeong, berbaringlah… kau harus istirahat,” Yoochun merebahkannya dengan lembut dan Yunho menurut saja.
“Chun, kau istirahatlah sendiri. Aku taka pa – apa di sini…”
“Jika kau perlu sesuatu, panggil saja aku… oke? Hyeong, sekarang tidurlah… jangan biarkan dirimu terlalu lelah…”
“Aku tahu… Pergilah… aku baik – baik saja…” dia berbaring miring, memunggungi kami.
Yoochun berjalan ke arahku dan mengelengkan kepalanya. Aku hanya duduk di sana, memandangi dia. Wow… aku tak pernah menyadari betapa kurusnya dia. Aku selalu menganggapnya sebagai seorang orang yang kuat. Seorang pria berotot. Dan sekarang, aku menyadari, betapa salahnya aku.
Kemudian aku menatap Changmin. Dia sedang merapikan perabotan bersama Jaejoong. Mereka tak mau Yunho tersandung atau jatuh. Dan sekarang aku tahu betapa perkasanya Changmin. Dia pasti telah berusaha keras. Aku hanya tersenyum membayangkannya sampai sebuah jitakan di kepalaku menyadarkanku kembali ke dunia nyata.
“Junsu, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jaejoong dengan kepenasaran di wajahnya.
“Menjaga Yunho hyeong…”
“Bagaimana dengan dia?”
“Dia sudah tertidur. Aku pikir dia tak apa – apa… dia bilang lelah. Itu saja…”
Jaejoong mengangguk dan tetap menatap Yunho. Dan aku menatapnya. Jaejoong pasti sangat khawatir saat ini. Kami tak pernah melihat Yunho bertingkah seperti itu sebelumnya.
“Junsu, kenapa tidak tengok masakanku sekarang?”
“Kau?”
“Aku ingin memeriksa Yunho… dia tampak tak sehat menurutku… dan kalau buburnya hangat, tolong bawa ke sini ya? Yunho harus makan sesuatu…”
“Tentu, hyeong…” jadi aku pergi saja ke dapur dan melaksanakan apa yang diperintahnya.

[Jaejoong]
Aku berjalan menghampiri ranjangnya dan memandang sosok yang sedang terlelap itu. Kemudian ku lihat tetesan air mata di wajahnya. Aku duduk dan menghapusnya. Kemudian aku menaikkan selimut sampai bahunya. Dia lebih kuat dari yang kukira. Sikapnya menerima berita itu cukup mengejutkan kami. Kami kira ia akan berteriak, histeris atau marah. Tapi dia tidak begitu. Dia menyikapinya dengan… tenang yang membuatku khawatir. Sejujurnya, aku SANGAAAAT  KHAWATIR saat ia bersikap begitu. Karena aku kenal betul bagaimana dirinya. Dia sedang putus asa saat ini. Itulah sebabnya dia bersikap begini. Dia… menyerah…

 
Give the appreciation to the Author, ha_neul

Sunday, December 5, 2010

[DOWNLOAD] JYJ - Fallen Leaves.mp3

Try Hear

[DOWNLOAD] JYJ - 9.mp3

Try Hear

[VIDEO] 101128 JYJ Concert Nine (junsu ver.)

JYJ Concert Junsu - Too Love

101128 JYJ Concert - 낙엽 Fallen Leaves [Junsu focus]

[HD] JYJ Worldwide Concert in Seoul - Fallen Leaves (Junsu Version)

PENTING! Infeksi Tenggorokan Pemicu Infeksi Jantung

PENTING! Infeksi Tenggorokan Pemicu Infeksi Jantung

Friday, December 3, 2010

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 03




Chapter     : 3/30
Title          :  Am I… dying?  
Genre       :  Brotherly Friendship, Angst
Author      :  ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer 
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!      
Prepare the tissues, it’s very very angst and touching!!
Characters 
TVXQ’s Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary    
ha_neul said that she watched ‘One Litre of Tears’ before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*


[Jaejoong]
Mereka sudah tertidur di sofa. Aku mengambil selimut di cabinet dan menyelimutkannya pada tubuh mereka. Changmin tampak yang sangat letih di antara mereka. Aku membelai kepalanya dan menyibakkan rambut di dahinya.
Kemudian aku memandangi Yunho. Dia masih tertidur lelap. Perban menutupi dahinya, masker oksigen membantunya bernafas. Kabel – kabel di sekujur tubuhnya membuatku merasa tak berdaya. Aku duduk di samping ranjang dan menggenggam tangannya. Dia adalah saudaraku, sahabat terbaikku dan jantung hati kami. Apa yang dapat kami lakukan tanpanya? Bagaimana ku akan mengatakan hal ini padanya? Bagaimana reaksinya nanti? Dapatkah ia menerima kenyataan bahwa suatu hari ia takkan dapat menari lagi? Dapatkah ia menerima kenyataan bahwa ia akan jadi buta? Dapatkah ia menerima bahwa… ia sedang sekarat? Aku menghapus air mataku dan menatap lantai. Aku tak berguna!
“Jae… “ aku mendongakkan kepala dan melihat matanya memandangku. Aku merasa lega dan membelai kepalanya.
“Yun, bagaimana keadaanmu?”
“Baik, Kenapa kau menangis?” tanyanya lemah. Begitu lemah sampai tak terdengar apa yang diucapkanya.
“Aku hanya khawatir. Kau membuatku ketakutan pagi ini.”
“Maaf… “
“Tak apa – apa. Bukan salahmu,” aku meyakinkannya. Dia mengangguk dan meremas tanganku.
“Kami menang hari ini… “ ucapku padanya dan dia tampak tercenung.
“Kita dapat kembali… bersama… tidakkah kau bahagia?” tiba – tiba aku merasa bersalah menanyakan hal itu. Air matanya meluncur dan dia mengedipkan matanya yang samar beberapa kali. Dia menatap kosong dan mencoba melepaskan tangannya, tapi aku menggenggamnya dengan erat.
“Akhirnya… “ itulah kata yang ia ucapkan sebelum ia memejamkan matanya. Dia pasti sangat lelah sampai kembali tertidur.
Aku ingin menggenggamnya lebih lama… cukup lama… tapi aku tak mampu. Aku memeluknya erat dan terisak. Mengapa Yunho? Mengapa Yunho? Dia telah mengharapkan hal ini sejak hari di mana kami terpisah. Dia berharap kami kembali bersama! Dan sekarang… mengapa Tuhan harus mengambilnya kembali? Apa salahnya? Dia adalah orang yang baik… mengapa dia? Aku tak tahu saat aku tertidur sambil masih mendekap ‘dongsaeng’ku.

[Junsu]
Esok paginya, Yunho terjaga dan dia tidak memakai masker oksigen lagi untuk bernafas. Dia tampak lebih sehat dari kemarin. Aku senang menyuapinya karena dia tak pernah menolak makanan apapun. Itulah sebabnya dia sampai keracunan setahun yang lalu.
“Bagaimana buburnya?” tanyaku. Dia mengangguk dan tersenyum. Aku telah merindukan saat – saat seperti itu belakangan ini. Dia tersenyum.
“Luar biasa! Buatan siapa?”
“Aku, Changmin dan Yoochun. Jae hyeong yang mengajari kami membuatnya.”
“Wow! Bagus… di mana yang lain?”
“Oh, mereka ganti baju dulu. Aku lebih cepat ganti daripada mereka, jadi aku datang ke sini lebih cepat,” kataku dengan bangga. Yunho cekikikan dan mendorongku lembut.

[Yunho]
Aku merasa hangat mendengar lelucon – lelucon Junsu. Dia datang ke sini lebih awal dan menyuapiku, yang membuatku heran. Pagi ini setelah mandi, aku muntah. Kemudian aku melihat darah yang membuatku ketakutan. Untungnya dr.Siwon datang ke kamarku sebagaimana ia ingin memeriksaku. Dia memberiku beberapa obat dan aku tertidur. Saat aku bangun, kulihat Junsu di sampingku dengan senyuman di wajahnya.
“Junsu, kapan aku bisa pulang?”
“Kata dr.Siwon setelah beberapa hari,” ucapnya sambil menepuk – nepuk kepalaku.
“Bagaimana kalau sekarang?”
“Ta… tapi… kau masih lemah. Lihat… kau masih tampak pucat,” dia menggenggam pundakku. Dia cemberut dan menunduk menatap lantai. Aku tersentak saat tiba – tiba aku ditarik ke dalam sebuah pelukan.  Aku memandang orang itu dan melihat Changmin. Aku merasa aneh saat aku sepenuhnya tenggelam dalam rengkuhan tangannya. Apa aku sekurus itu?
“Mungkin kita bisa mengusahakannya besok,” aku mendengar Jaejoong berkata dan kutahu aku tersenyum seperti orang gila saat mendengarnya.
“Bagaimana sarapanmu hyeong?” tanya Yoochun dan aku menjawabnya dengan acungan jempol. Dia tertawa dan menempelkan jempol kami.
“Apa kata dokter?” mereka semua tampak terkejut saat aku menanyakan itu. Aku telah merasakan itu bukan berita baik. Aku memandangi mereka satu per satu. Jaejoong menerawang menatap lantai dan dia tampak berpikir. Begitu juga dengan Changmin yang sedang berpikir tapi ia tampak sedih. Yoochun memandangku dengan kerutan dan Junsu memandang mereka bergantian seperti sedang menanti responnya.
“Aku baik – baik saja kan?” mereka mendongak padaku dan tersenyum. Tapi senyuman pahit… dan palsu… aku tahu itu.
“Tentu saja kamu baik – baik saja! Kamu baik – baik saja… jangan khawatir…”
“Aku tahu. Aku kan Yunho, betul… “ aku cekikikan tapi tetap dapat merasakan tingkah aneh mereka.
“Apakah kamu tidak ada pekerjaan hari ini? Kita akan kembali bersama kan?”
“Oh, ya… kami harus membuat kesepakatan dengan Bae Entertainment setelah ini. Kemudian kami perlu bertemu perwakilan dari Avex Entertainment. Jadi… ya ampun, terlalu banyak sekali…“ kata Yoochun.
“Aku tahu… baiklah, kalau kau mengeluarkanku lebih awal, maka aku akan mengurus semua itu…”
“Tidak! Kau harus tetap di sini sampai dr.Siwon menyetujuinya. Mengerti?” kata Jaejoong. Aku heran kapan dia berubah jadi orang yang sangat dewasa dan terlalu melindungi? Aku hanya mengangguk dan mereka memelukku sebelum mereka pergi.

[Changmin]
Aku tahu dia akan menanyakan hal itu, tapi bagaimana kita dapat memberitahukannya kenyataan yang kejam itu? Dr.Siwon memanggilku pagi ini, mengatakan padaku bahwa ia muntah darah. Syukurlah, Junsu sudah ganti baju. Jadi dia segera ke rumah sakit secepatnya. Bukannya kami tak perduli hal itu, tapi kata dr.Siwon dia sudah tertidur dan kami tak perlu terlalu khawatir. Aku berpikir bagaimana dengan dia jika kami semua sedang bekerja sekarang…

[Yunho]
Aku berjalan menuju taman saat aku berpapasan dengan dua orang perawat. Aku menguping pembicaraan mereka saat aku tiba – tiba mendengar namaku.
“Itu Jung Yunho kan? Jung Yunho Dong Bang Shin Ki?”
“Iya, itu dia… pria yang malang,”
“…”
“Dia sedang sekarat, tahu nggak… “
Apa? Aku? Sekarat? Aku tahu mereka berbisik – bisik bahwa aku sekarat? Apa artinya ini? Aku tahu aku sedang menggunakan kursi roda sekarang, tapi ini karena diperintahkan dr.Siwon. Tapi sekarat??
“Aku tahu… Itu tak dapat disembuhkan…”
“Hey, aku lihat anggota DBSK yang lain menemui dr.Siwon kemarin…”
“Ku kira mereka tahu hal ini… mereka menangis. Bahkan dini hari tadi, kulihat Jaejoong tertidur sambil memeluknya.”
“Itu kenyataan yang pahit buat Yunho… Ku harap ada keajaiban untuk menyelamatkannya.”
Aku dorong kursi rodaku menjauh dari mereka. Aku sekarat? Apa – apaan ini? Kenapa? Apa yang sedang mereka bicarakan? Jadi aku putuskan untuk menemui dr.Siwon. Tapi dia sedang tak ada di tempatnya. Aku tak perduli! Aku perlu tahu! Lalu kulihat namaku di papan tulisnya. Detak jantungku semakin cepat saat aku membaca semua hal yang tertera di papan itu. Semuanya tentang diriku. Tumor? Buta? Tak dapat bergerak? Masa depan? Kanker gastritis? Kanker? Stadium empat? Memburuk? Aku… sekarat..??
“Yunho sshi?” aku mendengar panggilan seseorang. Dan aku tahu siapa dia.
“Maafkan saya…” aku mendorong kursi rodaku keluar dari ruangan itu. Aku kembali ke kamarku dan duduk di tempat tidur. Aku sekarat? Aku sedang sekarat… tak bias sembuh… Aku sekarat… Tiba – tiba aku merasa takut dan kesepian. Aku menangis sejadi – jadinya. Aku tak ingin mati… masih banyak hal yang ingin aku lakukan… banyak…

Give the appreciation to the Author, ha_neul

[Fanfic TVXQ : Indo. Vers.] I’m Holding Back the Tears -Yunho- (Kutahan Air Mata -Yunho-) 02




Chapter     : 2/30
Title          : Shocking News
Genre       :  Brotherly Friendship, Angst
Author      :  ha_neul  (at asianfanfics.com)
Desclaimer 
Unfortunately, the TVXQ members is not mine nor the story. I just translated my friend’s  fanfic. I love this fic, hope you like it to.
WARNING!      
Prepare the tissues, it’s very very angst and touching!!
Characters 
TVXQ’s Yunho, Junsu, Jaejoong, Changmin and Yoochun.

Summary    
ha_neul said that she watched ‘One Litre of Tears’ before she got the inspiration to wrote this story. And I adore this fanfic. Angsty but beautiful friendship story.

Ini adalah sebuah cerita tentang pengorbanan, kesetiaan, ketabahan, persahabatan yang kuat dan tulus… walau penuh ranjau berduri… jalan berliku… *lebay dikit boleh kan?*


[Changmin]
Aku menggenggam tangan Yunho yang dingin dan menanti ‘hyeong’ku yang lain datang. Mereka dalam perjalanan menuju ke sini. Yunho kehilangan banyak darah. Aku pandangi wajah pucatnya. Dokter mengatakan sesuatu yang mengejutkan hari ini. ‘Hyeong’ku… ‘hyeong’ku sakit… Aku tak dapat membendung air mataku. Aku menghela nafas saat seseorang memegang pundakku.
“Changmin-ah… “ aku menoleh, semua ‘hyeong’ku sedang berdiri di sampingku. Aku tahu mereka takut melihatku terisak seperti ini. Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum pada mereka. Betapa menyakitkannya.
“Hyeong… kapan kalian datang? Aku tak mendengar… “
“Baru saja. Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apakah Yunho baik – baik saja? Dia baik – baik saja kan?” tanya Jaejoong hyeong padaku.
Tentu saja, dia adalah sahabat terbaik Yunho. Dia pasti sangat mengkhawatirkannya. Dia menatapku dan kemudian menatap Yunho.
Junsu telah duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Yunho yang lain. Aku bangkit dan berjalan melewati mereka.
“Changmin… ?” Yoochun memanggilku. Aku harus berfikir cepat!
“Temui dr.Siwon di ruangannya. Ada sesuatu yang harus ia katakana pada kalian… tentang Yunho,” hanya itulah yang mampu ku ucapkan sebelum masuk ke kamar mandi ruangan ini. Mereka mengetuk pintu, tapi serius, aku tak dapat menghadapi mereka saat ini ketika aku sedang terisak.
“Baiklah, kami pergi ke kantornya sekarang. Lalu kau harus tetap bersama kami, mengerti?” kudengar Chun berkata dengan tegas di balik tembok. Aku mendengus. Urrrgghh! Aku benci harus menangis seperti anak kecil! Kemudian kudengar langkah kaki mereka jadi semakin menjauh.
“Changmin-ah, kami memenangkan kasusnya. Kita bias bersama lagi… kita berlima… “ aku menghela nafas saat mendengar Junsu mengatakan itu sebelum ia keluar dari ruangan. Aku tak dapat menahan isak tangisku lagi.

[Junsu]
Aku tak mengerti kenapa Changmin menangis seperti itu. Mengapa kami harus menemui dr.Siwon? Adakah sesuatu yang buruk terjadi pada Yunho dan Changmin? Ya Tuhan… tolonglah kami…
Kami melangkah masuk ke ruangan itu dan menemui dr.Siwon. Ia sedang memandangi foto x-ray kepala. Dia tampak sedang berfikir dan khawatir di saat yang sama.
“Selamat pagi dr.Siwon… “ sebagai yang tertua, Jaejoong menyapanya lebih dahulu. Chun dan aku hanya membungkuk sedikit.
“Selamat pagi… kalian… ?”
“Changmin menyuruh kami ke sini… “
“Changmin sshi? Oh, kalian pasti ketiga anggota keluarganya yang lain?”
“Ya, betul… “ Chun mengangguk. Aku memandang keduanya dan mereka tampaknya tahu apa yang sedang ku pikirkan.
“Silahkan duduk… “  dia mengisyaratkan tangannya, mempersilahkan kami untuk duduk.
“Sebenarnya, apa yang terjadi pada Yunho?  Dia kelelahan lagi? Dia baik – baik saja kan?” Tanya Jaejoong hyeong. Aku panik saat dr.Siwon mendesah. Ini pertanda buruk…
“Yunho menderita tumor otak… “
“Apa?!”
“Tolong dengarkan. Tenangkan diri dulu… Yunho mnderita tumor otak yang bersarang di dekat pusat syaraf pengendali motoriknya. Tumor itu membuatnya buta sewaktu – waktu. Menurut keterangan Changmin, Yunho tak dapat melihat apapun saat ia turun dari van  dan membuatnya jatuh. Tapi di saat yang bersamaan, dia tak dapat melindungi dirinya sendiri karena dia tak dapat mengerakkan tubuhnya. Dia kehilangan banyak darah tapi kami sudah mengatasinya.”
“Tidak adakah yang dapat dilakukan? Bedah misalnya?”
“Saya telah memikirkan hal itu dengan teliti. Sayangnya, kita hanya membahayakan hidupnya bila melakukan pembedahan. Tumornya bersarang di tempat yang berbahaya… dan di samping itu… dia juga menderita kanker gastritis… “
Mataku melebar saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Kami bertiga kehilangan kata – kata dan kami mencoba menarik nafas. Aku menatap mereka.
[Yoochun]
Kanker gastritis? Tumor? Membahayakan hidupnya? Apa – apaan ini???? Aku menatap Jaejoong dan Junsu bergantian. Junsu menggenggam sandaran kursi seolah ia akan kolaps sewaktu – waktu. Jaejoong menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Aku menghapus air mataku dan menatap dr.Siwon.
“Beberapa hari yang lalu, Changmin membawanya ke sini karena dia mengalami demam tinggi. Di ruang perawatan, dia muntah darah dan menekan erat perutnya. Karena itulah, kami melakukan beberapa pemeriksaan terhadapnya. Kankernya sudah stadium empat sekarang… dan itu berbahaya jika melakukan pembedahan. Kami hanya dapat melakukan kemoterapi dan beberapa terapi lainnya saat ini… “
“Dokter, apa anda mencoba mengatakan bahwa ia tak memiliki harapan… ?” tanya Junsu dan itu mengejutkan kami.
“Saya… saya… “
“Dapatkah anda menemukan pengobatan untuknya? Kami baru saja bersatu kembali… Saya tak ingin kehilangan dia saat kami baru saja bersatu kembali… “ ucapnya dalam tangisan. Jaejoong hyeong memeluknya dan mengusap – usap lengannya. Aku tak dapat membendung air mataku.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkannya. Kalian juga harus mendukungnya, dia membutuhkan kalian… “
“Bolehkah saya tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini?” tanya Jaejoong. Dia juga memelukku pada saat bersamaan. Pasti berat untuknya untuk membujuk kedua ‘dongsaeng’nya saat mengkhawatirkan kedua ‘dongsaeng’nya yang lain.
“Sebagaimana saya katakan, tumornya akan mempengaruhi penglihatan dan motoriknya. Dia mungkin tak dapat melakukan apapun di kemudian hari. Dan mengenai kankernya, pilek sekalipun dapat membahayakan hidupnya. Tapi saat ini dia masih demam dan kami merawatnya di bawah pengawasan kami… ”
“Hanya pilek pun?” tanyaku. Aku tak dapat mempercayainya. dr. Siwon mengangguk.
“Apakah Yunho mengetahui hal ini?” tanya Jaejoong lagi.
“Belum. Terserah kalian. Kalian ingin memberitahukannya sendiri atau saya yang mewakili?”
“Anda bersedia membantu kami? Saya piker kami tak kan sanggup memberitahukan hal  itu padanya…”
“Tentu saja, saya adalah dokternya. Itu sudah menjadi tugas saya… “
“Terima kasih… “ Jaejoong mengajak Su dan aku keluar ruangan itu. Kami melihat seseorang sedang berdiri tak jauh dari sana. Changmin sedang menunggu kami.
“Hyeong… “ tangisnya dan berlari menghampiri kami. Kami meraihnya dan menangis bersama.
Jaejoong memeluk Changmin dengan erat dan membisikinya. Aku menggenggam tangan Junsu tapi ku tak dapat membendung air mataku sendiri, begitupun Junsu, dan bahkan Jaejoong hyeong. Kenapa Yunho? Kenapa ia harus menderita di saat kami hampir memenangkan pertempuran ini? Kenapa dia??

Give the appreciation to the Author, ha_neul